Perjalanan pagi

-(Sabtu, 25 Oktober 2025)-

Hasil ngobrol dengan seorang teman membawa saya pada satu pengetahuan baru: bahwa pemesanan taksi untuk hari dan jam tertentu di waktu mendatang ternyata sudah bisa dilakukan melalui aplikasi yang sering saya gunakan. Dengan membayar melalui aplikasi tersebut, saya juga memperoleh bukti pembayaran yang nantinya bisa saya klaim.

Dengan sistem at cost, tentu saya tidak perlu khawatir terhadap tarif taksi itu, karena seluruh biaya akan diganti. Inilah salah satu bentuk kemajuan mekanisme kerja yang berlandaskan pada integritas dan transparansi.

Saya memutuskan untuk memesan taksi sejak hari sebelumnya. Alasannya sederhana: penginapan tempat saya menginap berada di dalam kompleks, cukup jauh dari jalan utama dan lalu lintas kendaraan. Daripada mengambil risiko memesan taksi di pagi hari dan kesulitan mendapatkannya, saya memilih untuk memesannya lebih awal melalui aplikasi. Tentu, konsekuensinya mungkin tarifnya sedikit lebih tinggi—tetapi itu harga dari kepastian.

Tepat pagi itu, taksi sudah menunggu di lobi. Setelah menyelesaikan proses check-out dan mengambil sarapan take away yang telah saya pesan, saya segera menuju mobil. Tak lama, taksi melaju tenang di jalan tol yang masih sepi.

Saya duduk di kursi kiri sambil mengamati pemandangan di luar jendela. Jalan tol terbentang panjang dengan langit yang mulai berwarna muda. Ketika memasuki kawasan metropolitan, saya melihat kota ini perlahan bangkit dari tidurnya—meski saya tahu, sebagian bagiannya nyaris tidak pernah tidur.

Gedung-gedung tinggi menjulang dengan lampu yang masih berkelap-kelip. Mungkin inilah daya tarik kota ini: kehidupan yang terus berdenyut, kemudahan untuk menikmati kesenangan, serta berbagai tawaran kemewahan yang membuat sebagian orang enggan meninggalkannya. Tapi tidak dengan saya.

Setelah bertahun-tahun pergi dari kota ini, wajahnya ternyata masih sama seperti yang tersimpan dalam ingatan. Pikiran saya pun melayang, mengingat saat-saat ketika dulu saya pernah melewati jalanan ini pada jam yang hampir sama. Ada rasa akrab yang tak bisa dijelaskan—antara nostalgia dan kesadaran waktu yang terus berjalan.

Sekitar satu jam setelah berangkat dari penginapan, saya tiba di sebuah stasiun. Barangkali ini akan menjadi perjalanan kereta pertama saya setelah sekian lama.

Ada beberapa pertimbangan yang membuat saya memilih moda transportasi ini, namun di balik itu terselip pula rasa pasrah terhadap semua keputusan yang telah saya buat. Ada sedikit keraguan, tetapi juga harapan akan pengalaman baru yang mungkin saya temui.

Saya memilih kursi dekat jendela, membayangkan bagaimana pemandangan di sepanjang jalur kereta nanti. Apakah akan ada yang berubah dari yang dulu pernah saya lihat? Atau semuanya masih sama, hanya waktu yang berbeda?

Apa pun jawabannya, saya bersiap untuk menikmati perjalanan ini—dengan penuh kesadaran.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"