Jam terbang kelapa
-(Selasa, 14 Oktober 2025)-
Selepas olahraga jalan kaki sore hari mengelilingi tanah lapang selama setengah jam, saya mampir ke penjual kelapa muda. Beberapa waktu sebelumnya saya tersadar, mengapa sekarang saya jarang minum air kelapa.
Padahal, dulu pernah ada masa ketika saya sering meminumnya. Kelapa muda saat itu mudah saja saya dapatkan, karena tinggal petik di depan rumah. Bahkan ada satu pohon yang air kelapanya sangat manis, sungguh berbeda dengan pohon lainnya dan dari semua air kelapa yang pernah saya minum.
Kesadaran itu muncul bersamaan dengan ingatan tentang betapa bermanfaatnya air kelapa bagi kesehatan. Saya juga teringat pernah melihat satu video pendek yang menunjukkan bagaimana negeri Cina kini membuat minuman kemasan dari air sari kelapa. Semoga saja video itu bukan rekayasa.
Setelah memesan satu kelapa muda dan meminta agar air dan isinya langsung dibungkus, si penjual dengan sigap memilih kelapa dari tumpukan kelapa muda. Dengan seksama, saya mencoba memperhatikan bagaimana ia memilih kelapa yang pas. Ia mengambil satu, lalu memotong sedikit bagian dari kelapa itu.
Namun, ia berhenti dan tidak melanjutkan. Ia memilih kelapa lainnya, memotong bagian atasnya, lalu melubangi kelapa itu. Barangkali ia tidak melanjutkan memotong kelapa pertama karena tahu kelapa itu masih terlalu muda dan belum ada isinya.
Ketika air kelapa kedua ternyata sedikit, ia kembali memotong kelapa pertama, dan benar saja — belum ada isinya. Penjual itu hanya mengambil airnya dan mencampurkannya dengan air dari kelapa kedua.
Sambil terus memperhatikan, saya berpikir: berarti penjual ini sudah sangat mahir mengenali kelapa — mana yang sudah berisi, mana yang belum, mana yang sudah tua, dan mana yang masih muda. Sejak ia membuka kios kelapa muda di tepi jalan itu, barangkali ia sudah memotong dan membuka ribuan kelapa.
Dalam proses itu, tentu ia belajar mengenali berbagai jenis kelapa. Artinya, jam terbang yang membuatnya memiliki keahlian itu. Lambat laun, kemampuan tersebut meresap menjadi semacam intuisi. Hanya dengan melihat bagian yang ia potong, ia sudah tahu jika kelapa itu belum berisi.
Begitulah, sebuah kemampuan atau kemahiran tidak lahir hanya dari pelatihan sehari dua hari, seminggu, atau sebulan. Dibutuhkan ratusan bahkan ribuan kali pengulangan untuk menjadikan diri kita benar-benar tahu dan mahir dalam satu bidang.