Jejak ombak

-(Jumat, 13 Maret 2026)-

Meski kita bisa kembali ke suatu tempat, sesungguhnya tidak ada yang benar-benar mengulang kehidupan. Waktu telah mengubah terlalu banyak hal—ruang, suasana, bahkan cara kita memandangnya. Apa yang dulu terasa akrab mungkin masih berdiri di tempat yang sama, tetapi maknanya tidak lagi identik. Seperti ombak yang terus datang ke pantai yang sama, namun tak pernah menjadi ombak yang sama.

Meski demikian, sebelum kaki benar-benar menapak kembali di tempat lama itu, imajinasi kita biasanya sudah lebih dulu tiba. Ia bekerja diam-diam, menenun gambaran tentang apa yang akan kita lakukan ketika kembali ke ruang yang pernah kita tinggali puluhan tahun silam. Ingatan masa lalu menjadi semacam peta batin—memandu imajinasi menggambar ulang adegan-adegan yang pernah memberi kesenangan.

Berpantai-pantai, berendam, lalu mengambang mengikuti arus laut yang tenang—semua itu adalah potongan memori yang terasa sangat mungkin untuk terulang. Bukan semata karena tempatnya masih ada, melainkan karena di sanalah, barangkali, seseorang pernah menemukan rasa bahagia untuk pertama kalinya. Kadang-kadang, kerinduan untuk kembali bukanlah kerinduan pada tempatnya, melainkan pada versi diri kita yang dulu pernah hidup di sana.

Tak mengherankan jika pantai-pantai itu selalu memiliki daya panggilnya sendiri. Ada semacam magnet yang bekerja dari kejauhan, menggugah seseorang untuk datang lagi, meski ia sadar bahwa yang akan ditemuinya bukanlah masa lalu yang utuh.

Kini, pemandangan yang terbentang di hadapan tampaknya akan berbeda dari yang pernah ada sebelumnya. Hari-hari kelak adalah laut yang terbuka ketika mata memandang—cakrawala yang luas dan lapang. Tidak lagi tertutup oleh rimbun pepohonan hutan yang menghijau, yang di bawahnya tersimpan lapisan batu bara. Lanskap lama itu seakan memberi jalan bagi horizon baru yang lebih terbuka, sekaligus lebih tak terduga.

Yang akan terlihat nanti adalah buih-buih putih di permukaan laut ketika angin kencang datang dari kejauhan. Ombak mungkin akan tampak indah dari jauh, tetapi pada detik-detik tertentu, ia juga membawa rasa gentar. Ada momen ketika kekaguman berubah menjadi kewaspadaan, ketika keindahan laut sekaligus mengingatkan kita pada rapuhnya manusia di hadapan alam.

Barangkali begitulah pemandangan baru yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari hari-hari. Sebuah rutinitas yang pada awalnya terasa asing, lalu perlahan menjelma akrab.

Pertanyaannya kemudian sederhana namun jujur: apakah semua ini akan tetap memikat dalam waktu yang panjang, ataukah pada akhirnya akan memudar menjadi kebiasaan yang biasa saja?

Seperti laut itu sendiri, hidup selalu menyisakan kemungkinan. Kadang ia memberi rasa takjub, kadang menghadirkan kecemasan. Namun selama cakrawala masih terbuka di hadapan, selalu ada alasan untuk terus memandang jauh—dan menunggu ombak berikutnya datang.


Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"