Sawah hijau

-(Sabtu, 16 Mei 2026)-

Ketika nilai dolar menembus lebih dari Rp17.500, saya justru sedang berjalan-jalan di daerah pedesaan. Siang itu saya melihat hamparan sawah yang menghijau, padi-padi muda yang mungkin baru berusia sebulan berdiri rapat tertiup angin. Pemandangan itu terasa tenang, nyaris bertolak belakang dengan kegaduhan yang sedang diproduksi layar televisi dan media sosial tentang ancaman krisis ekonomi.

Sawah yang hijau sebenarnya bukan sekadar lanskap. Ia adalah tanda kehidupan yang terus bekerja. Di balik warna hijau itu ada petani yang masih mampu membeli bibit, membayar pupuk, mengairi sawah, dan menanam kembali. Ada modal yang masih berputar. Ada keyakinan bahwa musim tanam tetap layak dijalani. Dua atau tiga bulan lagi, kemungkinan besar daerah itu akan memasuki panen raya. Dan selama petani masih menanam dengan tenang, setidaknya ada satu hal penting yang belum runtuh: keberanian masyarakat kecil untuk tetap bergerak.

Saya kemudian berhenti di sebuah restoran yang menyajikan masakan khas Jawa—menu-menu tradisional yang bahkan sebagian mulai jarang ditemui. Anehnya, restoran itu justru penuh oleh pengunjung kelas menengah. Parkiran mobil sesak. Orang-orang tetap makan bersama keluarga, bercakap santai, berwisata kecil di akhir pekan. Dari sana saya berpikir: jika ekonomi benar-benar sedang runtuh seperti yang dibayangkan banyak orang, bukankah hal-hal seperti ini biasanya lebih dulu menghilang?

Tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa kondisi ekonomi baik-baik saja tanpa masalah. Nilai tukar rupiah yang melemah tetap harus dianggap serius. Dampaknya nyata, terutama bagi sektor yang bergantung pada impor, utang luar negeri, dan harga kebutuhan tertentu. Pemerintah dan Bank Indonesia memang perlu bekerja ekstra menjaga stabilitas agar pelemahan itu tidak menjalar menjadi kepanikan yang lebih luas.

Namun ada satu hal yang juga perlu disadari: suasana krisis sering kali tumbuh lebih cepat daripada krisis itu sendiri. Media, pengamat, dan media sosial kadang bekerja seperti gema di ruang tertutup—suara kecil dipantulkan berkali-kali hingga terdengar seperti ledakan besar. Di era sekarang, ketakutan bisa menyebar lebih cepat daripada fakta. Judul yang dramatis lebih mudah menarik perhatian dibanding kenyataan yang berjalan biasa-biasa saja.

Karena itu saya merasa pengalaman melihat sawah dan restoran tadi penting untuk diceritakan. Bukan sebagai bantahan mutlak terhadap situasi ekonomi, melainkan sebagai pengingat bahwa realitas masyarakat jauh lebih kompleks daripada narasi yang ramai di layar ponsel. Apa yang terlihat di media belum tentu sepenuhnya mewakili keadaan di lapangan, sama seperti pemandangan yang saya lihat di desa tentu juga belum cukup untuk menggambarkan seluruh kondisi Indonesia.

Ekonomi, pada akhirnya, bukan hanya soal angka kurs, grafik, atau prediksi para analis. Ekonomi juga soal psikologi: tentang rasa percaya, ketenangan, dan keyakinan masyarakat untuk tetap beraktivitas. Ketika orang terlalu takut, mereka menahan belanja, menunda investasi, bahkan memindahkan modal keluar. Kepanikan sering kali menciptakan luka yang lebih besar daripada masalah awalnya sendiri.

Mungkin tulisan ini tidak akan membuat rupiah tiba-tiba menguat. Tetapi setidaknya saya ingin menyampaikan bahwa di tengah kegaduhan itu, kehidupan nyata masih terus berjalan. Sawah tetap ditanami. Restoran tetap ramai. Orang-orang masih bekerja, berdagang, dan berharap hari esok lebih baik.

Dan kadang, optimisme memang sesederhana itu: percaya bahwa bangsa ini belum berhenti bergerak.


Populer

Hak guru

Puas pemerintah

Officially, dr. Wau

Kemajuan timpang

Menemukan ide

Enggan adaptasi

Sisi gelap

Lagu imitasi

Optimisme

Daya sinema