Batas waktu

-(Sabtu, 9 Mei 2026)-

Entah sudah berapa banyak orang yang pernah saya kenal, satu per satu meninggalkan dunia ini. Mereka pergi, tetapi tidak benar-benar hilang. Ada sesuatu yang tertinggal—jejak yang tak kasatmata, namun terasa nyata dalam ingatan orang-orang yang pernah bersentuhan dengan hidup mereka.

Sebagian kenangan melekat kuat karena intensitas pertemuan: rekan kerja yang hampir setiap hari berbagi ruang, waktu, bahkan beban pikiran. Sebagian lainnya hanya hadir sekilas—perjumpaan singkat, percakapan seadanya. Namun anehnya, ketika mereka tiada, ingatan tentang mereka tetap menemukan jalannya untuk kembali. Seolah-olah waktu tidak pernah benar-benar menghapus, hanya menyamarkan.

Kita tahu, ada banyak sebab di balik kepergian itu. Sakit sering menjadi alasan yang paling tampak di permukaan. Dan kita pun cenderung meredakannya dengan keyakinan bahwa semua telah digariskan oleh Tuhan. Tetapi di balik itu, ada lapisan-lapisan lain yang tak selalu sederhana: kemungkinan warisan biologis, akumulasi pilihan hidup, atau kebiasaan yang perlahan membentuk tubuh sekaligus merapuhkannya. Hidup, rupanya, adalah rangkaian sebab yang sering kali baru kita pahami ketika semuanya telah selesai.

Namun, di antara semua penjelasan itu, selalu ada satu pertanyaan yang menggantung—mengapa ada yang pergi begitu cepat? Pertanyaan yang tidak selalu menuntut jawaban, tetapi terus berulang seperti gema dalam ruang batin. Kita bertanya, bukan karena berharap menemukan kepastian, melainkan karena ingin berdamai dengan ketidakmengertian.

Begitulah hidup bergerak dalam paradoksnya. Ada yang bertahan lama meski tubuh telah renta dan waktu seakan enggan melepaskannya. Ada pula yang dipanggil pulang saat raga masih tampak utuh, bahkan segar. Seolah usia bukan ukuran, dan kesiapan bukan syarat.

Pada akhirnya, semua perenungan ini berbalik arah. Bukan lagi tentang mereka yang telah pergi, melainkan tentang kita yang masih tinggal. Pertanyaan paling sunyi justru muncul dari dalam diri sendiri: sampai kapan kita akan berada di sini? Sebuah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban segera, tetapi cukup untuk membuat kita menyadari—bahwa setiap detik yang kita jalani sesungguhnya adalah pinjaman yang sedang berjalan.

Populer

Diluar kendali

Jam karet

Candu seremoni

Gerimis pergi

Resafel kabinet

Karya kreatif

Bermutasi

Logika rezeki

Gelar Dokter

Enggan adaptasi