Sungai coklat
-(Selasa, 6 Januari 2026)-
Setiap kali melihat sungai berwarna coklat itu, hati saya merasa sedih. Lalu pertanyaan yang sama selalu datang: apakah mungkin sejak dahulu sungai itu memang berwarna coklat? Pertanyaan itu semakin mengusik karena di tepi sungai, ada banyak penduduk yang hidupnya—bahkan masa depannya—bertumpu pada air yang mengalir di dekat rumah mereka.
Di bagian inilah saya mulai membangun gambaran dalam kepala. Dahulu kala, ketika kawasan ini masih berupa hutan rimba, manusia memilih tinggal di pinggiran sungai. Pilihan itu logis. Air mudah dijangkau. Protein tersedia dari ikan yang hidup di dalamnya. Mobilitas pun bergantung pada perahu, karena sungai adalah jalan paling masuk akal di tengah rimba yang belum mengenal jalur transportasi darat. Gambaran itu terasa semakin rasional ketika membayangkan bahwa di sekeliling sungai, dulu, memang hanya ada pepohonan rapat dan tanah yang belum dibuka menjadi apa pun.
Kehidupan berjalan, manusia berkembang, tetapi sungai tetap menjadi pusatnya. Dari permukiman kecil, tumbuhlah desa. Dari desa, hadir pasar. Dari pasar, tumbuh kota. Semua bergerak maju—dengan satu asumsi yang dulu tidak perlu dipertanyakan: bahwa sungai akan selalu mampu menampung kebutuhan manusia yang hidup di sisinya.
Kita pun dapat membayangkan kondisi sungai pada zaman dahulu. Airnya pasti jernih, mungkin bahkan ikan-ikan yang berenang di dalamnya terlihat dari permukaan. Karena sungai adalah sumber hidup, rasanya hampir mustahil manusia pada masa itu merusaknya dengan sengaja. Kesadaran akan pentingnya sungai bukan sekadar pilihan moral, tetapi juga kebutuhan rasional: mencemari sungai sama saja dengan merusak sumber kehidupan sendiri.
Namun, perkembangan manusia tidak pernah berdiri sendiri tanpa konsekuensi. Tahun demi tahun, manusia berkembang biak. Pendatang berdatangan. Lahan di sekitar sungai terasa semakin sempit. Hutan pun mulai dibuka—mula-mula untuk jalan, tempat tinggal, lalu kebun, lalu pertanian. Semakin lama, pembukaan hutan itu semakin melebar. Dan pada titik tertentu, proses yang semula tampak biasa saja berubah menjadi penyebab masalah yang tak lagi bisa diabaikan. Ketika hujan turun, air jatuh langsung ke tanah terbuka, mengikis permukaan, lalu membawa butiran tanah itu mengalir ke sungai. Tanah yang dulu tertahan akar kini berpindah menjadi kiriman rutin setiap musim hujan. Sungai pun berubah keruh. Warnanya coklat. Bukan karena ia ingin, tetapi karena ia tidak punya pilihan lain.
Masalah ini menjadi semakin besar ketika pembukaan lahan tidak lagi berskala kecil, melainkan masif—untuk tambang, untuk ekspansi agraria baru, untuk kepentingan yang sering kali mengabaikan batas daya dukung alam. Di sinilah sungai tidak hanya menerima limpasan tanah, tetapi juga menanggung akumulasi keputusan manusia yang tidak cukup kritis mempertimbangkan dampaknya.
Barangkali, itulah gambaran yang paling rasional tentang mengapa sungai itu kini berwarna coklat. Ironisnya, di tepi sungai yang sama, masih ada banyak warga yang tetap tinggal dan tetap menggantungkan hidup pada aliran itu. Sungai berubah, tetapi ketergantungan mereka tidak.
Lalu, apakah mungkin mengembalikan sungai itu menjadi bening dan jernih kembali? Secara teoritis, jawabannya bukan tidak mungkin, tetapi juga tidak sederhana. Pemulihan sungai bukan sekadar keinginan emosional, melainkan pekerjaan struktural yang menuntut pembenahan di hulu: pengendalian sedimentasi, pemulihan daerah tangkapan air, serta kebijakan tata ruang yang berbasis bukti, bukan asumsi. Artinya, peluang pemulihan tetap ada—jika penyebabnya diperbaiki, bukan hanya dampaknya diratapi. Tetapi saya juga sadar, perbaikan ekologis bekerja dalam hitungan waktu yang panjang, sementara kesedihan manusia bekerja dalam hitungan detik.
Karena itu, saya akhirnya sampai pada kesimpulan yang paling jujur: nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada cara kembali ke titik awal. Semua sudah terjadi. Yang masih bisa dilakukan bukan mengulang masa lalu, melainkan menahan masa depan agar tidak semakin rusak. Mencegah kerusakan menjadi lebih parah, meski terdengar minimalis, tetap merupakan langkah paling rasional yang tersisa.
Tetapi barangkali, hati saya akan tetap bersedih. Bukan hanya karena airnya coklat, melainkan karena ia menjadi pengingat bahwa dulu semuanya bisa berbeda—ketika kerusakan belum sebesar ini, ketika pencegahan masih menjadi pilihan, bukan sisa usaha. Sungai ini tidak lagi jernih, tetapi ia tetap jujur menunjukkan jejak perubahan yang kita tinggalkan.
Dan mungkin, kesedihan itu tidak sepenuhnya tentang sungainya.
Mungkin juga tentang saya—yang masih belajar menerima bahwa tidak semua arus dapat diputar, tetapi semuanya masih dapat dijaga agar tidak semakin hanyut.