Cakrawala batin
-(Jumat, 30 Januari 2026)-
Beberapa kali saya berolahraga jalan kaki di tanah lapang. Sebuah ruang terbuka di mana pandangan seolah tidak terhalang apa pun, membiarkan mata menjangkau kejauhan tanpa perlu bernegosiasi dengan tembok, bangunan, atau rimbun pepohonan. Ada sensasi tertentu ketika berada di sana—sejenis kelegaan yang sulit dijelaskan, tetapi mudah dirasakan.
Pengalaman itu kerap mengingatkan saya pada suasana pantai. Pada momen ketika kita memandangi cakrawala, batas antara laut dan langit seakan mengabur, dan pikiran ikut melebar bersama pandangan. Tanah lapang memang bukan pantai, tetapi ia menghadirkan kebebasan serupa: ruang visual yang luas, sunyi yang tidak menekan, dan perasaan bahwa jiwa tidak sedang disempitkan oleh apa pun. Tentu saja, pengalaman ini sangat personal. Apa yang saya rasakan boleh jadi tidak berlaku bagi orang lain.
Sudah lama saya ingin menuliskan perasaan ini—tentang pengalaman berada di tanah lapang sebagai ruang perjumpaan dengan diri sendiri. Bagi saya, ia berfungsi seperti terapi sederhana bagi jiwa yang penat oleh keadaan. Bukan terapi dalam pengertian klinis, melainkan pereda batin yang bekerja perlahan, melalui langkah kaki dan tarikan napas. Namun sekali lagi, semua kembali pada cara masing-masing orang memaknai ruang dan pengalaman.
Di tanah lapang itu, saya berjalan berputar-putar, mengelilinginya berulang kali. Kadang, imajinasi saya melangkah lebih jauh: saya membayangkan sedang melakukan tawaf. Maka saya genapkan putaran itu menjadi tujuh kali. Setelahnya, saya berjalan lurus bolak-balik sebanyak tujuh kali pula, seolah sedang menunaikan sa’i. Gerakan sederhana ini menjelma menjadi ritual kecil yang saya ciptakan sendiri—bukan untuk menggantikan makna ibadah, melainkan untuk merawat ingatan.
Barangkali ini cara saya bernostalgia pada pengalaman spiritual ketika berada di tanah suci. Sebuah upaya sederhana, bahkan mungkin naif, untuk mengobati rindu. Cara paling murah, paling dekat, dan paling mungkin ketika jarak dan keadaan tidak memungkinkan perjalanan yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, tanah lapang itu menghadirkan pengalaman yang utuh: fisik dan batin. Tubuh bergerak, keringat mengalir, sementara pikiran diberi ruang untuk bernapas. Bukan berarti tempat lain tidak menawarkan apa-apa. Setiap ruang memiliki watak dan suasana batinnya sendiri. Namun perbedaan itu sering kali bukan semata karena tempatnya, melainkan karena cara kita memandang dan mengalaminya.
Begitulah, tanah lapang setidaknya sedikit mengobati kerinduan saya—bukan hanya pada tanah suci, tetapi juga pada pantai. Terutama pada satu hal yang sama-sama mereka miliki: pandangan yang bisa melihat jauh. Pandangan yang, tanpa sadar, ikut membuka pikiran menjadi lebih luas. Dan di sanalah, entah bagaimana, hati terasa lebih lega.