Roda manusia

-(Senin, 26 Januari 2026)-

Pagi itu saya bertemu dengan seseorang dan berbincang tentang berbagai hal, terutama pengalaman perjalanan. Salah satu yang kami bicarakan adalah sebuah kota dengan tempat wisata yang menarik. Orang itu memuji kota tersebut, termasuk sisi kebersihannya.

Dalam hati saya berkata, tentu ini berkat visi kepala daerahnya dan upayanya untuk menjadikan kota itu sebagai tempat kunjungan. Dengan begitu, UMKM akan tumbuh dan menggerakkan ekonomi kota tersebut.

Baru juga pagi itu membicarakan kota itu, siang harinya saya cukup terkejut membaca sebuah berita tentang OTT: kepala daerah kota itu ditangkap.

Apa yang sebenarnya terjadi? Saya tidak tertarik untuk mengetahui lebih dalam. Biarlah itu menjadi bagian dari satu cerita di awal tahun ini. Dan mungkin akan ada cerita-cerita lain yang tak kalah menarik.

Orang dulu bilang, hidup bagai roda yang berputar. Kadang berada di atas, kadang turun ke bawah. Mungkin begitulah nasib setiap manusia, yang memiliki masalahnya masing-masing. Tidak sama, tetapi setiap orang pasti punya. Entah masalah dengan orang terdekat, tetangga, teman kerja, orang tak dikenal, atau bahkan masalah dengan dirinya sendiri. Dan justru inilah yang paling berat.

Melawan diri sendiri adalah hal yang aneh, tetapi itulah yang kerap terjadi pada setiap orang. Karena tidak sadar, manusia kerap hanyut dalam segala keinginannya, tanpa sanggup lagi memilah dan memilih mana yang baik untuk dirinya. Akibat yang sering terjadi adalah terjerumus ke jalan yang salah—yang baru disadari sebagai kesalahan ketika semuanya sudah terjadi.

Lalu, apa kaitannya dengan cerita saya di awal tulisan ini?

Barangkali setiap orang yang bermasalah dengan hukum pada awalnya tidak menyadari bahwa tindakannya itu salah di mata hukum. Mungkin semuanya terjadi karena dorongan naluri, keinginan, atau hasrat yang sulit ia lawan. Artinya, barangkali ia sendiri adalah korban dari dirinya sendiri.

Jika ia sendiri adalah korban, lantas siapa yang mesti bertanggung jawab?

Pertanyaan itu menggantung seperti senja yang enggan jatuh.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"