Hujan subuh

-(Minggu, 1 Februari 2026)-

Pada rakaat kedua sholat subuh, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Bukan hujan biasa—suaranya menghantam atap mushola yang terbuat dari seng, keras dan berulang, seperti ketukan tanpa jeda. Suara itu memenuhi ruang, menutup keheningan subuh yang sebelumnya tenang.

Entah mengapa, denting hujan itu memicu rasa takut, atau mungkin cemas—saya sendiri sulit memberi nama yang tepat. Perasaan itu menjalari batin secara perlahan, bukan karena hujan semata, melainkan karena ia mengganggu rencana kecil yang sudah saya susun sejak awal. Selepas sholat, saya berniat berdzikir sebentar, lalu segera pulang.

Namun hujan berkata lain. Dengan derasnya, ia seolah menutup jalan pulang dan “memaksa” saya untuk tetap duduk, mengikuti dzikir berjamaah hingga selesai. Dan memang begitu yang terjadi. Begitu imam menutup doa, hujan pun mereda, seakan tahu tepat kapan harus berhenti.

Saya segera berdiri dan meninggalkan mushola. Lima menit setelah sampai di rumah, hujan turun kembali—sebentar saja—lalu reda, menyisakan rintik-rintik yang jatuh pelan, seperti sisa kalimat yang tak diucapkan.

Saya sudah cukup lama tinggal di daerah ini untuk mengenali pola hujannya. Hujan sering datang tiba-tiba, lalu berhenti tanpa aba-aba. Pagi itu pun demikian. Saat berangkat ke mushola, saya tidak merasakan tanda-tanda apa pun: tak ada angin basah, tak ada rintik yang jatuh di jalan. Mungkin saya tak sempat menengadah ke langit, sehingga luput membaca pertanda alam yang sebenarnya sudah ada.

Namun tetap saja, kejadian itu meninggalkan kesan. Pagi itu, hujan terasa bukan sekadar peristiwa cuaca. Ia seperti jeda yang disengaja, sebuah cara halus untuk menahan langkah saya yang terlalu tergesa. Seolah ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: duduklah sebentar, tenanglah, dan selesaikan apa yang telah dimulai.

Dan barangkali, dalam hidup, kita memang kerap perlu “dihujani” terlebih dahulu—oleh keadaan yang tak kita rencanakan—agar mau berhenti, diam, dan mendengarkan.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"