Bulan menyapa
-(Jumat, 23 Januari 2026)-
Dalam perjalanan menuju musala untuk menunaikan salat Isya, pandangan saya tak sengaja terangkat ke langit. Di sana, bulan sabit tampak menggantung tenang—bukan bulan sabit tua yang kelelahan menutup siklusnya, melainkan bulan sabit muda yang baru saja lahir. Seolah memberi isyarat, ia hadir sebagai penanda waktu yang tak pernah benar-benar berhenti berjalan.
Ingatan saya pun melompat ke sepekan sebelumnya. Di kalender, ada satu tanggal merah: peringatan Isra Mikraj, 27 Rajab. Jika hitungan itu ditarik lurus, maka malam dengan bulan sabit muda yang saya lihat itu menandai masuknya bulan Sya’ban. Dan Sya’ban, seperti kita tahu, hanyalah satu pintu sebelum kita kembali mengetuk Ramadan—bulan puasa, bulan yang selalu datang membawa gema yang berbeda.
Perasaan itu muncul begitu saja: rasanya belum lama kita melewati Ramadan terakhir, dan kini, dalam jarak waktu yang terasa singkat, kita akan kembali bertemu dengannya. Seperti seorang tamu lama yang baru saja berpamitan, namun kini sudah mengirim kabar akan segera datang lagi. Waktu memang memiliki caranya sendiri untuk mempermainkan rasa dekat dan jauh.
Kesadaran akan datangnya Ramadan barangkali bukan semata soal penanggalan. Ia muncul karena kita tahu, bulan itu akan membawa hari-hari yang berbeda dari hari biasanya. Ritme hidup berubah. Jam tidur bergeser. Aktivitas harian menyesuaikan diri. Dan tentu saja, Ramadan adalah bulan ketika kita “bertemu” dengan hampir semua jenis kuliner yang pernah diciptakan manusia—dari yang sederhana hingga yang nyaris berlebihan.
Di sinilah paradoks itu terasa. Bulan puasa, yang secara makna mengajarkan pengendalian dan pengurangan, justru menjadi bulan ketika kebutuhan bahan pangan meningkat. Orang-orang berpuasa, tetapi dapur bekerja lebih keras. Meja makan disiapkan lebih ramai. Namun mungkin, paradoks ini tak perlu kita ratapi sebagai ironi yang harus disesali. Begitulah budaya kita bekerja—dengan segala kontradiksi yang hidup berdampingan.
Alih-alih menjadi keprihatinan, sisi positifnya bisa kita lihat: roda perekonomian berputar lebih cepat, konsumsi masyarakat meningkat, dan banyak orang menggantungkan harapan rezekinya pada denyut Ramadan itu sendiri. Seperti pasar yang tiba-tiba menjadi lebih hidup menjelang senja, ada denyut sosial yang tak bisa diabaikan.
Barangkali, yang lebih penting dari sekadar menghitung hari menuju puasa adalah bagaimana kita menyiapkan Ramadan agar berjalan kondusif—bukan hanya secara ritual, tetapi juga secara sosial dan kultural. Agar ia benar-benar menjadi bulan yang menenangkan, bukan sekadar ramai. Bulan yang mendewasakan, bukan hanya mengenyangkan.