Jejak waktu
-(Selasa, 27 Januari 2026)-
Ada tiga dimensi waktu: masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Ketiganya saling terhubung. Dalam hukum sebab-akibat, apa yang terjadi hari ini niscaya merupakan hasil dari proses yang berlangsung di masa lampau—perlahan, berlapis, dan sering kali tidak kita sadari.
Pembuktian atas premis tersebut dapat dilihat dengan jelas melalui lini masa yang telah dilalui manusia. Dari sejarah dan perjalanan peradaban, kita tidak hanya mengetahui siapa saja yang hidup di masa lalu, tetapi juga memahami hubungan antarperistiwa, keterkaitan gagasan yang berkembang pada zamannya, serta bagaimana semua itu memberi dampak pada masa berikutnya—bahkan hingga kita alami di masa kini.
Dengan membaca pola sejarah masa lalu, barangkali kita dapat memprediksi apa yang mungkin terjadi di masa depan. Bukan dalam pengertian meramal, melainkan mengenali kecenderungan. Sejarah kerap bergerak dengan pola yang berulang, meski wajah dan konteksnya berubah.
Kesadaran atas pola semacam ini tampaknya belum banyak dimiliki. Mungkin hanya kalangan tertentu—sejarawan, pemikir, atau mereka yang tekun mempelajari berbagai peristiwa, peperangan, gagasan, dan peradaban—yang mampu melihatnya secara lebih utuh. Padahal, pola itu sejatinya hadir di hadapan kita, menunggu untuk dibaca.
Karena itu, sebagai sebuah bangsa dan negara, pengetahuan sejarah menjadi sesuatu yang perlu diketahui dan diingat. Bukan untuk romantisasi masa lalu, melainkan untuk memahami kemungkinan masa depan. Ketika pola tertentu mulai terlihat, kita sesungguhnya memiliki kesempatan untuk bertindak: mengubah arah jika yang tampak adalah peristiwa yang tak diinginkan, atau menjaga dan merawatnya jika ia mengarah pada kebaikan.
Begitulah, mengulik masa lampau bukan sekadar mengingat kenangan. Pada dasarnya, ia adalah cara untuk memahami masa depan—yang benih-benihnya sedang tumbuh hari ini.