Postingan

Menampilkan postingan dengan label Seven Habits

Ngemong

Gambar
 - (Ditulis tanggal 12 Juni 2022) -  Tema obrolan kami malam itu, lebih banyak porsinya tentang bagaimana menumbuhkan ikatan batin antar pegawai, terutama hubungan antar generasi. Satu hal yang bisa saya simpulkan: ikuti apa kemauan anak-anak muda itu. Apa seleranya, mainannya atau tempat yang mereka senangi? Artinya: kaum senior hendaknya bersikap demokratis. Kesimpulan itu saya ambil dari saripati pengalaman seorang senior yang jago dalam interpersonal communication. Memang tidak semua orang bisa melakukan itu. Dibutuhkan kebesaran hati, ngalah, rendah hati dan ikhlas. Atau istilahnya bisa "ngemong". Yang kadang ngemong ini tidak hanya dilakukan oleh senior kepada yunior, oleh atasan kepada bawahan, tapi kerap juga dilakukan oleh bawahan kepada atasan, atau oleh yunior kepada senior. Tentunya, dengan perkembangan jaman dan adanya celah generasi ini, yang ngemong mestinya kaum senior. Dan salah satu tanda senior itu bisa ngemong para yunior adalah kesediaan dan kelegaan hat...

Andai Semua Das Des Sat Set

Gambar
 - (ditulis tanggal 11 Juni 2022) - Nampaknya mengejar target realisasi penyerapan anggaran triwulan II ini akan menghadapi tantangan. Terutama untuk belanja modal, yang sesuai reformulasi IKPA, target di triwulan II ditetapkan 40%. Hampir setiap tahun tantangan penyerapan belanja modal ini selalu berulang. Tak saja pada belanja modal yang ada di satker K/L, termasuk DAK fisik -yang notabene merupakan belanja modal- juga menghadapi persoalan yang sama. Artinya, baik di satker K/L maupun pemda, masalah lambatnya penyerapan belanja modal sudah merupakan hal yang klise. Atau jangan-jangan memang sudah menjadi nature-nya belanja modal. Setiap tahun pola penyerapannya selalu ajeg. Selalu landai di awal, lalu melonjak di periode triwulan IV, jika digambarkan dalam satu grafik. Padahal, semua sudah sepakat, semakin cepat realisasi semakin baik. Alias, jika kegiatan belanja modal itu cepat dilaksanakan dan cepat selesai, tentu outputnya yang berupa infrastruktur bisa segera dimanfaatkan o...

Reaktif

--- (Ditulis tanggal 8 Agustus 2020) --- Reaktif. Kata ini populer semenjak pandemi. Anehnya, pilihan antonimnya: non-reaktif. Mirip saat dulu SMP kita belajar antonim. Ketika kita bingung dengan kata yang tepat, jawabannya ditambah "tidak" di depan kata itu. Seperti "maju" lawannya "tidak maju", "naik" lawannya "tidak naik". Padahal yang tepat adalah mundur dan turun. Proaktif. Sejatinya, inilah kata yang tepat sebagai antonim dari "reaktif". Saya mengenal kata Proaktif pertama kalinya di buku Seven Habitsnya Steven R Covey. Satu buku dan nama penulis yang mungkin akan terus melekat di pikiran. Saya membaca buku itu sekitar tahun 1996/1997. Semasa masih kuliah gratis dulu. Proaktif adalah satu diantara 7 kebiasan yang efektif dan sangat bagus untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam bekerja. Dengan proaktif, kita menjadi merdeka memilih respon terhadap stimulus yang kita terima. Kata Covey: "ada jarak a...

Masa Bodoh

Gambar
Pernahkah Anda resah dengan anggapan atau omongan orang lain terhadap diri Anda? Yang orang lain itu bisa atasan, bawahan, saudara, teman, tetangga atau komunitas kita. Yang keresahan itu membuat kita overthinking dan stres. Yang karena kuatir dengan persepsi orang itu, lalu membuat kita berusaha meyakinkan mereka atas sesuatu. Yang kegelisahan atas persepsi orang itu, membuat kita menjadi tidak nyaman dan tidak bahagia. Dan seterusnya. Hampir semua orang mengalaminya. Apalagi bagi mereka yang berambisi karir, dimana ingin selalu dianggap positif dan perform oleh pimpinan. Apalagi juga bagi mereka yang pengen selalu dianggap baik oleh teman-temannya. Termasuk mereka yang takut dibulli, takut dibilang kuno, ndeso, takut distigmakan dengan sebutan-sebutan negatif lainnya. Itulah yang sebagian besar terjadi pada diri kita. Dimana ketakutan akan persepsi orang, anggapan buruk pada kita, telah membebani pikiran dan membuat kita tidak nyaman. Jika hal itu tidak menjadi soal dan terus meneru...

Filsafat Kebahagiaan

Setelah 5 tahun lebih, akhirnya saya berhasil merampungkan buku Dunia Sophie. Tepatnya di bulan ramadhan lalu. Sebuah prestasi yang buruk untuk seorang yang mengaku memiliki hobi membaca dan menulis. Membaca buku ini atau tepatnya novel Dunia Sophie juga mengindikasikan betapa awamnya si pembaca tentang dunia filsafat. Termasuk diri saya. Yang memang niat membaca novel ini adalah untuk menambah wawasan tentang sejarah filsafat, tentang pemikiran-pemikiran para filosof mulai dari jaman Yunani hingga abad 20. Dari novel ini, setidaknya saya semakin menyadari betapa pemikiran atau perspektif manusia ini terus berkembang seiring jaman, penemuan teknologi dan hasil penelitian manusia. Ini juga menunjukkan betapa luar biasanya evolusi pemikiran manusia dalam perjuangannya mempertahankan eksistensi dan mencapai kebahagiaan. Pada akhirnya, apapun itu bermuara pada dua hal: eksistensi dan kebahagiaan. Termasuk dalam bekerja pada suatu komunitas atau organisasi. Pada sebagian besar manusia, dua ...