Nasi kuning
-(Selasa, 8 September 2026)-
Setelah puas menyaksikan sunrise, saya tidak langsung pulang ke rumah untuk memulai rutinitas berikutnya. Saya masih menyempatkan diri membeli sarapan: nasi kuning yang dibungkus dengan styrofoam. Begitulah salah satu kebiasaan masyarakat di sini. Styrofoam masih cukup lazim digunakan untuk membungkus makanan.
Sekitar satu kilo meter dari tempat saya melihat matahari terbit itu memang ada beberapa penjual nasi kuning. Lauknya sederhana: ikan, ayam, atau telur. Setiap kali datang ke tempat tersebut, saya sengaja bergantian membeli dari penjual yang berbeda. Bukan karena ada perbedaan yang terlalu mencolok di antara mereka, tetapi saya ingin mencoba semuanya. Sekalian menikmati keberadaan para pelaku UMKM kecil yang setiap pagi sudah membuka dagangannya ketika sebagian dari kita mungkin masih terlelap.
Menariknya, pilihan mereka sebenarnya hampir sama. Lauknya tidak jauh berbeda. Harganya pun sama-sama Rp10 ribu. Menurut saya, harga itu masih sangat murah—apalagi in this economy, ketika harga berbagai kebutuhan perlahan membuat kita semakin sering menghitung ulang isi dompet.
Sarapan nasi kuning seharga Rp10 ribu mungkin terlihat sederhana. Tetapi justru dari hal sesederhana itu saya kembali berpikir: barangkali pilihan untuk hidup lebih hemat sebenarnya masih cukup banyak. Masalahnya, kita sering tidak tahu di mana menemukannya atau bagaimana caranya.
Kita terlalu terbiasa mencari makanan melalui aplikasi, mendatangi tempat yang sedang ramai di media sosial, atau memilih tempat makan berdasarkan apa yang sedang menjadi tren. Padahal, di sudut-sudut kota, masih ada warung kecil dan penjual makanan sederhana yang menawarkan sesuatu yang mungkin lebih kita butuhkan: makanan yang cukup, harga yang masuk akal, dan tanpa beban tambahan untuk membayar gaya hidup.
Dari nasi kuning Rp10 ribu itu, pikiran saya kemudian bergerak ke hal yang lebih besar: bagaimana sebenarnya kita menjalani kehidupan di tengah biaya hidup yang terus meningkat?
Saya kira, pada kondisi seperti sekarang, kemampuan mengelola keuangan menjadi semakin penting. Bukan semata-mata karena pendapatan kita kurang, tetapi karena keinginan manusia memang hampir selalu punya kemampuan untuk tumbuh lebih cepat daripada penghasilannya.
Ketika penghasilan bertambah, standar hidup sering ikut naik. Dulu cukup makan di warung, sekarang merasa perlu sesekali ke restoran. Dulu berjalan kaki atau naik kendaraan sederhana tidak masalah, sekarang muncul keinginan untuk memiliki sesuatu yang lebih mahal. Dulu membeli barang ketika memang membutuhkan, sekarang kita bisa membelinya hanya karena sedang ada diskon.
Di sinilah gaya hidup menjadi penting.
Menambah penghasilan tentu merupakan pilihan yang baik. Tetapi ada satu cara lain yang sering kali justru kita abaikan: mengurangi pengeluaran yang tidak perlu. Menabung bukan hanya persoalan bagaimana mendapatkan lebih banyak uang, tetapi juga bagaimana membiarkan sebagian uang yang sudah kita miliki tetap tinggal bersama kita.
Sayangnya, hidup sederhana tidak selalu mudah.
Kita hidup di tengah budaya yang terus mendorong konsumsi. Hampir setiap hari ada sesuatu yang ditawarkan kepada kita: makanan yang harus dicoba, barang yang sedang tren, tempat yang harus dikunjungi, pengalaman yang seolah-olah akan membuat hidup kita lebih lengkap. Media sosial membuat semua itu terlihat semakin dekat. Apa yang dimiliki orang lain perlahan menjadi standar yang ingin kita kejar.
Lalu muncul kalimat yang sering kita dengar: “Buat apa terlalu berhemat? Hidup cuma sekali. Saatnya menikmati hidup.”
Sepintas, kalimat itu terdengar masuk akal. Kita memang tidak boleh menjadikan hidup sekadar perlombaan mengumpulkan uang sambil lupa menikmatinya. Tetapi persoalannya bukan pada menikmati hidup atau tidak. Persoalannya adalah: dengan uang siapa kita membiayai kenikmatan itu, dan sampai kapan kita mampu mempertahankannya?
Sebab, bagaimana mungkin kita benar-benar menikmati hidup jika setiap akhir bulan justru dihantui tagihan? Bagaimana bisa merasa bebas jika penghasilan bulan depan sudah habis untuk membayar pengeluaran bulan ini? Dan bagaimana kita bisa tidur dengan tenang jika keinginan untuk menikmati hidup hari ini membuat kehidupan kita di masa depan menjadi lebih berat?
Hidup memang hanya sekali. Justru karena hanya sekali, mungkin kita perlu menjalaninya dengan lebih sadar.
Hemat bukan berarti pelit. Frugal living juga bukan berarti menolak semua kesenangan. Hidup hemat, menurut saya, lebih dekat dengan kemampuan membedakan mana yang memang kita butuhkan, mana yang benar-benar membuat kita bahagia, dan mana yang sebenarnya hanya kita beli karena tidak ingin merasa tertinggal dari orang lain.
Saya masih bisa menikmati sunrise tanpa membayar tiket masuk. Saya masih bisa bersepeda sambil menikmati udara pagi. Dan setelah itu, saya bisa sarapan nasi kuning Rp10 ribu. Sederhana, tetapi tidak membuat saya merasa sedang kekurangan.
Mungkin justru di situlah inti hidup hemat: bukan mengurangi kehidupan sampai terasa menyedihkan, melainkan menemukan cara agar kehidupan tetap menyenangkan tanpa harus mengorbankan ketenangan finansial.
Kita tidak harus selalu memilih yang paling murah. Kita hanya perlu belajar bahwa yang mahal tidak selalu membuat kita lebih bahagia.
Pada akhirnya, mungkin yang ingin kita cari dari uang bukanlah sebanyak-banyaknya barang yang bisa kita beli, melainkan sebanyak-banyaknya ketenangan yang bisa kita rasakan.
Karena setelah semua keinginan terpenuhi, bukankah yang paling kita butuhkan tetap sama: pikiran yang tenang dan tubuh yang sehat?