Sate pokea

-(Selasa, 1 September 2026)-

Di akhir pekan, beberapa hari sebelum saya berburu sunrise, saya sebenarnya sedang menuju Toronipa. Saya melewati lokasi tempat saya kemudian menemukan spot sunrise itu. Namun, perjalanan menuju Toronipa masih cukup jauh, sementara tenaga saya untuk mengayuh sepeda lipat rasanya belum cukup. Lagi pula, saya sudah pernah ke sana. Maka, daripada memaksakan diri mengulang perjalanan yang sama, saya memilih berbelok ke tempat yang belum pernah saya kunjungi.

Keputusan itu muncul begitu saja setelah saya melihat sebuah penunjuk arah: penyeberangan Pulau Bokori.

Saya mengikuti jalan menuju sebuah perkampungan. Tidak lama kemudian, saya menemukan sebuah kawasan dengan beberapa bangunan yang tampaknya masih relatif baru. Di gerbangnya tertulis jelas: Kampung Nelayan Merah Putih.

Kawasan itu terlihat sepi. Tidak banyak orang, tidak banyak aktivitas. Saya bersama sepeda lipat kemudian memasuki kawasan tersebut. Dan rupanya, di dalamnya terdapat sebuah dermaga.

Saya baru mengetahui bahwa Kampung Nelayan Merah Putih itu memang dibangun tepat di pinggir laut. Jadi, keberadaan dermaga terasa masuk akal. Dermaga itu digunakan untuk penyeberangan menuju Pulau Bokori sekaligus menjadi tempat berlabuh kapal-kapal nelayan yang membawa hasil tangkapan.

Ada sebuah bangunan dengan tulisan cold storage di bagian depannya. Saya membayangkan bangunan itu nantinya digunakan untuk menyimpan ikan hasil tangkapan nelayan agar tetap terjaga sebelum dipasarkan. Kawasannya cukup luas. Selain dermaga dan cold storage, terdapat pula bangunan untuk UMKM, kantor kesyahbandaran, serta beberapa bangunan lain yang tampaknya dirancang untuk mendukung aktivitas masyarakat nelayan.

Namun, pagi itu kawasan tersebut belum menunjukkan kesibukan sebagaimana yang mungkin saya bayangkan.

Di dekat dermaga, saya bertemu seorang ayah bersama dua putranya yang sedang memancing. Kami bertegur sapa. Saya bertanya tentang kegiatan mereka dan sekadar berbincang ringan. Tidak lama kemudian, mereka berpindah ke dermaga lain. Mungkin ikan yang ditunggu belum juga menyambut umpan mereka.

Saya kemudian duduk sendirian di pinggir laut.

Saya menikmati kesunyian sambil menyantap beberapa kue yang sebelumnya saya beli di sekitar Pasar Sentral. Ada danggo, nagasari, dan gemblong. Kalau dipikir-pikir, hampir semuanya adalah sumber karbohidrat. Danggo sedikit berbeda karena di dalamnya terdapat kacang hijau yang memberi tambahan protein.

Sederhana sekali pagi itu. Sepeda lipat, beberapa potong kue, laut yang tenang, dan sebuah kawasan yang nyaris tanpa aktivitas. Tetapi justru dalam kesunyian seperti itu, saya merasa sedang menemukan sesuatu.

Tak lama kemudian, datang seseorang membawa sebuah jeriken berisi BBM. Rupanya ia adalah pemilik salah satu perahu yang tertambat di dermaga. Kami kembali bertegur sapa dan berbincang sebentar.

Dari percakapan itu saya mengetahui bahwa ia menyediakan jasa penyeberangan ke Pulau Bokori. Tarifnya Rp20 ribu per orang, dengan kapasitas sekitar sepuluh orang dalam satu perahu. Harga tersebut sudah termasuk perjalanan pulang-pergi.

Setelah meletakkan BBM, ia kembali berjalan menuju pintu gerbang kawasan. Mungkin menunggu calon penumpang yang ingin menyeberang ke Bokori. Ketika saya meninggalkan kawasan itu untuk melanjutkan perjalanan, saya masih melihatnya duduk di sana.

Saya sendiri akhirnya tidak jadi melanjutkan petualangan lebih jauh.

Jalan yang hendak saya ikuti ternyata tidak semulus jalan raya yang sebelumnya saya lewati. Dengan sepeda lipat, saya merasa perjalanan akan menjadi terlalu berat jika dipaksakan. Maka, saya memilih kembali ke kota.

Tetapi perjalanan pulang rupanya belum selesai memberikan kejutan.

Sebelum sampai di Kampung Nelayan Merah Putih, saya sempat melihat beberapa kios kecil di pinggir jalan yang menjajakan makanan seperti lemper, gogos, dan buras. Pemandangan itu membuat saya penasaran. Saya pun memutuskan untuk mencarinya ketika perjalanan pulang nanti.

Sekitar satu atau dua kilometer mengayuh pedal, saya menemukan salah satu kios tersebut. Ternyata bukan hanya gogos, lemper, dan buras yang dijual. Saya juga menemukan sesuatu yang sejak tadi membuat saya penasaran: sate kerang.

Saya memesan sate kerang dan gogos untuk dimakan di tempat.

Ternyata enak.

Baik sate kerangnya maupun gogosnya. Gogos sendiri semacam lemper yang dibungkus daun pisang lalu dipanggang. Ada aroma khas daun pisang yang terbakar ringan, berpadu dengan isian yang membuat makanan sederhana itu terasa istimewa setelah perjalanan pagi yang cukup panjang.

Ketika sedang menikmati makanan, sebuah mobil berhenti di depan kios. Salah seorang penumpangnya berteriak kepada penjual bahwa ia ingin membeli sate pokea.

Saya langsung memperhatikan.

Pokea?

Saya baru menyadari bahwa sate kerang yang sedang saya makan ternyata di daerah ini dikenal sebagai sate pokea. Saya kemudian memastikan kepada penjual dan ternyata memang benar. Nama makanan itu adalah sate pokea.

Sebenarnya saya sudah beberapa kali membaca nama tersebut di papan-papan kios atau warung yang saya lewati. Tetapi selama ini saya hanya mengenalnya sebagai nama. Pagi itu, rasa penasaran saya akhirnya menemukan bentuknya—dan bisa langsung saya rasakan.

Ternyata, rasa penasaran memang kadang membutuhkan sedikit perjalanan untuk mendapatkan jawabannya.

Pagi itu saya menikmati sate pokea, menikmati gogos, dan merasa cukup puas hanya karena menemukan sesuatu yang sebelumnya belum saya kenal.

Mungkin begitulah cara saya mencoba menikmati hari-hari belakangan ini: bersepeda menuju tempat-tempat yang belum pernah saya datangi, mengambil jalan yang sesekali tidak ada dalam rencana, lalu melihat apa yang bisa saya temukan di sepanjang perjalanan.

Tempat-tempat itu mungkin bukan destinasi wisata bagi orang-orang yang tinggal di sini. Tidak ada papan besar yang mengatakan bahwa tempat tersebut layak dikunjungi. Tidak ada antrean wisatawan. Tidak ada pula sesuatu yang secara khusus membuatnya tampak istimewa.

Tetapi bagi saya, justru di situlah menariknya.

Sebuah kawasan nelayan yang sepi, dermaga kecil, seorang ayah bersama dua anaknya yang memancing, perahu yang menunggu penumpang ke Pulau Bokori, kios sederhana di pinggir jalan, dan seporsi sate pokea. Semuanya mungkin tampak biasa bagi orang lain. Tetapi ketika kita mau berhenti dan memperhatikannya, kehidupan ternyata selalu punya cara untuk menyuguhkan cerita.

Saya kira, berpetualang tidak selalu berarti pergi jauh.

Kadang-kadang petualangan hanyalah keberanian untuk berbelok ketika kita biasanya terus lurus. Mencoba jalan yang belum pernah dilalui. Berhenti di tempat yang tidak ada dalam daftar tujuan. Atau mencicipi makanan yang namanya selama ini hanya kita baca dari kejauhan.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, cara seperti itu membuat kita lebih hadir pada kehidupan.

Kita terlalu sering hidup dengan pola yang sama: bekerja untuk masa depan, menabung untuk masa depan, merencanakan liburan untuk masa depan, dan menunggu waktu yang dianggap tepat untuk menikmati hidup. Semua itu tentu penting. Tetapi jika terlalu lama dilakukan, kita bisa terjebak dalam kehidupan yang selalu menunggu.

Padahal, waktu yang sedang kita miliki sekarang tidak pernah bisa diulang.

Karena itu, saya tidak ingin setiap akhir pekan hanya menjadi jeda dari pekerjaan. Saya ingin sesekali menggunakannya untuk melihat sesuatu yang baru. Tidak harus spektakuler. Cukup sesuatu yang membuat saya bisa berkata, “Oh, ternyata ada tempat seperti ini di dekat sini.”

Sebab hidup barangkali bukan hanya tentang sampai ke tujuan. Ada kalanya jalan memutar justru membuat kita menemukan sesuatu yang tidak pernah kita rencanakan.

Dan pagi itu, saya menemukan dermaga, menemukan sate pokea, dan menemukan satu hal yang mungkin lebih penting: bahwa menikmati hidup tidak selalu harus menunggu nanti.

Populer

Mutasi pulang?

Lelaki Harimau

Berburu Sunrise

Jejak program

Gerimis pergi

Sarangan - Cemoro Sewu - Tawangmangu

ASN AI

Mimbar sosial

Sangu halal bihalal

Kesadaran