ASN AI
-(Kamis, 30 Juli 2026)-
Ada satu hal yang belakangan ini sering mengusik pikiran saya. Mengapa sebagian ASN begitu mudah marah ketika dikritik? Mengapa kritik yang seharusnya menjadi bahan introspeksi justru dibalas dengan serangan balik, bahkan tak jarang disertai upaya membuka aib si pengkritik?
Saya tentu tidak sedang mengatakan bahwa semua ASN seperti itu. Tidak adil jika menggeneralisasi jutaan orang hanya dari perilaku sebagian kecil di antaranya. Namun, ketika kritik dibalas dengan kemarahan alih-alih argumentasi, sesungguhnya ada pesan yang ikut tersampaikan: ada persoalan yang belum selesai di dalam diri maupun di dalam sistem. Sebab, orang yang yakin dengan integritas institusinya biasanya tidak merasa perlu membalas kritik dengan cara yang emosional.
Hari ini masyarakat juga tidak lagi melihat birokrasi hanya dari laporan tahunan, pidato pejabat, atau slogan pelayanan. Media sosial telah menjadi jendela yang memperlihatkan kehidupan birokrasi dari sudut yang paling jujur: pengalaman orang-orang yang menjalaninya setiap hari.
Cukup membuka kolom komentar atau unggahan para ASN muda, kita sudah bisa menemukan potret yang beragam. Ada yang mengeluhkan perilaku senior. Ada yang secara terang-terangan mengingatkan rekan-rekannya agar tidak bekerja terlalu keras karena pada akhirnya justru akan menjadi "kuda beban" bagi unitnya sendiri. Ada pula yang menganggap kalimat "kita adalah tim" atau "kita adalah keluarga" hanyalah mantra yang terdengar indah, tetapi dalam praktiknya sering dipakai untuk membungkus tuntutan agar bawahan terus bekerja tanpa batas.
Keluhan lain juga muncul mengenai pembagian beban kerja. Menurut mereka, staf sering kali menjadi pihak yang bekerja hingga larut malam, sementara atasan lebih banyak menerima hasil akhirnya. Ironisnya, ketika keberhasilan datang, nama yang paling sering muncul adalah nama pemimpin. Sebaliknya, ketika ada pegawai yang jatuh sakit karena kelelahan atau bahkan meninggal dunia, perhatian institusi sering kali berhenti pada karangan bunga dan ucapan belasungkawa.
Semua itu bukan kesimpulan ilmiah. Itu hanyalah potongan-potongan percakapan yang saya baca di media sosial. Tentu tidak semuanya benar. Tentu pula tidak semuanya salah. Namun, ketika keluhan serupa muncul berulang kali dari tempat yang berbeda, rasanya kita juga tidak bijak jika buru-buru menganggapnya sekadar ocehan orang yang tidak puas.
Di titik inilah saya merasa kritik semestinya diperlakukan seperti cermin. Cermin memang tidak selalu menampilkan wajah yang ingin kita lihat. Kadang ia memperlihatkan noda yang selama ini kita abaikan. Tetapi memecahkan cermin tidak pernah membuat wajah menjadi lebih bersih.
Karena itu, menurut saya, yang lebih mendesak bukanlah membungkam kritik, melainkan mengevaluasi sistem kerjanya. Pemerintah sudah saatnya meninjau kembali seluruh beban kerja di setiap unit. Pekerjaan yang sudah kehilangan relevansi perlu dihapus. Administrasi yang hanya menghabiskan waktu tetapi tidak memberi manfaat nyata bagi masyarakat harus berani disederhanakan. Jangan sampai energi ASN lebih banyak dihabiskan untuk memenuhi prosedur daripada menyelesaikan persoalan publik.
Pada saat yang sama, kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan sudah tidak bisa lagi dipandang sebagai pelengkap. AI seharusnya dimanfaatkan secara jauh lebih optimal untuk mengambil alih pekerjaan-pekerjaan administratif yang berulang, mekanis, dan menyita waktu. Semakin banyak pekerjaan rutin yang dapat diotomatisasi, semakin besar kesempatan ASN untuk mengerjakan hal-hal yang memang membutuhkan pertimbangan, empati, kreativitas, dan pengambilan keputusan.
Jika transformasi itu benar-benar dilakukan, kebutuhan terhadap tenaga administratif dalam jumlah besar tentu akan berkurang. Beban kerja bisa menjadi lebih proporsional, proses birokrasi lebih sederhana, dan ruang bagi konflik-konflik internal yang selama ini dipicu oleh distribusi pekerjaan yang tidak seimbang juga dapat dipersempit.
Karena itu, ketika membaca berbagai keluhan ASN di media sosial, saya justru tidak melihatnya semata-mata sebagai persoalan individu. Saya melihatnya sebagai sinyal bahwa sistem kerja birokrasi sedang meminta diperbaiki.
Mungkin terdengar provokatif, tetapi saya semakin yakin bahwa masa depan birokrasi bukanlah memperbanyak manusia untuk mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya dapat diselesaikan oleh mesin. Masa depan birokrasi adalah menghadirkan manusia pada pekerjaan yang memang hanya bisa dilakukan manusia.
Barangkali memang sudah waktunya sebagian "ASN manusia" digantikan oleh "ASN kecerdasan buatan"—bukan untuk menggantikan nilai-nilai kemanusiaan dalam pelayanan publik, melainkan untuk mengambil alih pekerjaan administratif yang selama ini menyita tenaga, waktu, dan kesabaran. AI tidak mengenal lelah, tidak mengeluh, tidak tersinggung oleh kritik, dan mampu bekerja dengan konsisten selama sistemnya dirancang dengan baik.
Dengan begitu, manusia di dalam birokrasi justru dapat kembali menjalankan peran yang paling penting: berpikir, melayani, berempati, dan terus memperbaiki diri. Bukankah pada akhirnya itulah yang paling dibutuhkan oleh masyarakat dari seorang aparatur negara?