Ombak cempedak
-(Selasa, 21 Juli 2026)-
Akhirnya kami tiba di Kota Bau-Bau, di Pulau Buton, sebuah tempat yang dahulu pernah menjadi rumah bagi kami. Rasanya seperti sedang melakukan napak tilas, kembali menyusuri ruang-ruang yang pernah akrab dalam ingatan. Kami bersyukur bisa tiba dengan selamat, meski belakangan saya sadar bahwa sebagian besar kecemasan selama perjalanan mungkin lebih banyak berasal dari pikiran saya sendiri.
Kapal cepat yang kami tumpangi tentu telah dirancang untuk menghadapi gelombang dan guncangan. Secara teknis, kapal itu aman. Namun, pengetahuan semacam itu tidak selalu mampu mengalahkan rasa takut. Ketika memasuki perairan yang ombaknya tinggi, kapal bergoyang dan terayun ke kiri dan ke kanan. Nyali saya seketika mengecil, seolah-olah tubuh lebih percaya pada apa yang dirasakan daripada apa yang diketahui.
Padahal, sepanjang perjalanan, laut Sulawesi menyuguhkan pemandangan yang begitu memikat. Gugusan pulau-pulau kecil, air laut yang bergradasi dari hijau kebiruan hingga biru tua, dan langit yang seolah menyatu dengan cakrawala menghadirkan lanskap yang sulit dilewatkan begitu saja. Di saat laut tenang, perjalanan terasa seperti menikmati lukisan yang bergerak. Namun, ketika kapal memasuki kawasan yang dikenal dengan nama Cempedak, suasananya berubah.
Perjalanan laut itu menjadi pengalaman pertama saya lagi setelah puluhan tahun. Tidak sepanjang rute kapal dihantam gelombang. Sebagian besar jalur relatif tenang karena diapit dua daratan. Hanya di Cempedak kapal melintasi lautan yang lebih terbuka. Jalurnya memang tidak terlalu panjang, tetapi ketika ombak sedang tinggi, waktu terasa melambat. Ayunan kapal yang terus bergeser ke kiri dan ke kanan membuat beberapa menit terasa jauh lebih lama daripada yang sebenarnya.
Besarnya guncangan itu juga tergambar dari cerita para penumpang. Mereka yang berada di kelas biasa bercerita bahwa banyak orang mabuk laut hingga muntah. Saya bersyukur tidak mengalami hal yang sama. Meski begitu, saya harus mengakui bahwa wajah saya mungkin terlihat pucat sepanjang kapal menembus gelombang. Rupanya, tidak semua ketakutan harus berakhir dengan kepanikan. Kadang ia hanya hadir sebagai diam yang membuat tubuh kehilangan warna.
Perjalanan itu kami lakukan pada jadwal kapal pagi, saat laut umumnya lebih bersahabat. Sempat terlintas di pikiran saya, bagaimana jika kami melintasi Cempedak pada sore hari, ketika angin biasanya menguat dan ombak cenderung lebih tinggi. Bayangan itu saja sudah cukup membuat kami mengubah rencana. Niat semula untuk pulang dengan kapal siang akhirnya kami batalkan dan kami memilih kembali menggunakan kapal pagi.
Sesampainya di Bau-Bau, kami tidak sekadar mengunjungi tempat-tempat yang pernah kami kenal. Kami juga kembali menemui sebuah keluarga pribumi yang sejak lama sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Dahulu, kami pernah tinggal di rumah mereka. Bertemu kembali setelah sekian lama menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan. Waktu memang telah berlalu, tetapi kehangatan yang mereka berikan seolah tidak berubah. Ada hubungan yang rupanya tidak dibangun oleh pertalian darah, melainkan oleh kebersamaan yang pernah dijalani.
Selama berada di kota itu, kami mengunjungi dua pantai yang begitu lekat dalam kenangan, yaitu Pantai Nirwana dan Pantai Lakeba. Hamparan pasir putih dan air laut yang bening masih menyambut dengan pesona yang sama seperti yang kami ingat. Saya pun tak kuasa menahan diri untuk mencebur ke laut, membiarkan air asin menyambut tubuh seperti seorang teman lama yang tak pernah benar-benar melupakan kita.
Di Pantai Lakeba, kami memilih menunggu hingga matahari perlahan turun di ufuk barat. Langit berubah warna sedikit demi sedikit, dari biru menjadi jingga, lalu kemerahan sebelum akhirnya meredup. Sunset di tepi pantai itu menghadirkan penutup hari yang sederhana, tetapi begitu berkesan. Kadang keindahan tidak hadir dalam sesuatu yang megah, melainkan dalam kesediaan kita untuk berhenti sejenak dan menikmatinya.
Kami juga kembali mengunjungi Benteng Wolio di kawasan Keraton Buton. Berdiri di atas benteng yang telah bertahan selama ratusan tahun, kami memandang Kota Bau-Bau dari ketinggian. Dari sana, rumah-rumah penduduk, perbukitan, dan bentangan laut berpadu menjadi panorama yang mengingatkan bahwa kota ini memang dianugerahi letak yang istimewa. Dari atas benteng, Bau-Bau terlihat tenang, seolah memeluk daratan dan lautan sekaligus.
Mungkin itulah makna sebuah perjalanan pulang. Bukan semata berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk memastikan bahwa kenangan masih memiliki alamat. Dan ketika akhirnya kami meninggalkan Bau-Bau, yang kami bawa pulang bukan hanya foto-foto, cerita tentang ombak Cempedak, atau indahnya matahari terbenam di Lakeba. Lebih dari itu, kami membawa pulang keyakinan bahwa ada tempat-tempat yang mungkin sudah lama kita tinggalkan, tetapi tidak pernah benar-benar meninggalkan kita.