Terjemahan Al-Qur'an
-(Selasa, 28 Juli 2026)-
Sudah sekitar tiga bulan terakhir saya menambahkan satu kebiasaan baru setiap selesai salat Subuh berjamaah di masjid. Setelah menuntaskan bacaan Al-Qur'an sebanyak dua halaman—kebiasaan yang sudah saya jalani bertahun-tahun—saya tidak langsung beranjak. Saya membuka mushaf terjemahan, lalu membaca dua halaman lagi.
Yang menarik, dua halaman terjemahan itu bukanlah terjemahan dari ayat yang baru saja saya baca. Jadi, saya menjalankan dua "khataman" yang berbeda: mengkhatamkan bacaan Al-Qur'an dalam bahasa Arab dan, secara terpisah, mengkhatamkan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.
Membaca Al-Qur'an setiap pagi bukanlah sesuatu yang baru bagi saya. Entah sudah berapa kali saya mengkhatamkannya. Namun, selama ini saya menyadari ada satu kekosongan yang belum benar-benar saya isi. Saya mampu membaca ayat demi ayat dengan lancar, tetapi tidak selalu memahami makna yang terkandung di dalamnya. Saya seperti seseorang yang setiap hari menikmati indahnya sebuah taman dari balik pagar, tanpa pernah benar-benar masuk untuk mengenali bunga-bunga yang tumbuh di dalamnya.
Karena itulah saya ingin mengkhatamkan terjemahan Al-Qur'an. Bukan untuk menggantikan bacaan dalam bahasa Arab, melainkan untuk mendampinginya. Saya ingin hubungan dengan kitab suci tidak berhenti pada lantunan, tetapi juga sampai pada pemahaman.
Sebenarnya, ini bukan pengalaman pertama. Dulu, ketika masih duduk di bangku SMA, saya pernah mengkhatamkan terjemahan Al-Qur'an. Waktu itu saya membacanya setiap sore menjelang Magrib. Saat teman-teman sebaya menghabiskan waktu di lapangan bermain sepak bola atau bola voli, saya justru lebih sering memilih duduk membaca. Mungkin itulah sebabnya hingga hari ini saya tidak pernah benar-benar mahir memainkan kedua olahraga tersebut. Ada harga yang saya bayar dari setiap pilihan, sekecil apa pun pilihan itu.
Kini, setelah sekian lama, saya kembali mengulang kebiasaan tersebut. Setiap pagi saya membaca sekitar dua halaman terjemahan. Isinya rata-rata hanya enam hingga sepuluh ayat, jauh lebih sedikit dibandingkan dua halaman mushaf Al-Qur'an yang bisa memuat lebih banyak ayat. Namun, saya tidak merasa perlu tergesa-gesa. Memahami firman Tuhan memang bukan perlombaan yang menuntut kecepatan. Justru dengan langkah yang pelan, saya berharap setiap ayat memiliki kesempatan untuk singgah lebih lama di kepala dan hati.
Saya mulai menyadari bahwa mengkhatamkan bacaan dan mengkhatamkan pemahaman adalah dua perjalanan yang berbeda. Yang satu melatih lisan agar akrab dengan ayat-ayat-Nya, sedangkan yang lain mengajak akal dan hati untuk berdialog dengan pesan-pesan-Nya. Keduanya saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
Tentu saja saya berharap ada keberkahan dari ikhtiar sederhana ini. Namun, ada satu kegelisahan yang juga ikut menyertai. Ketika saya menuliskan kebiasaan ini, sempat terlintas pertanyaan dalam hati: jangan-jangan saya sedang membuka pintu riya'. Bukankah amal yang dipamerkan bisa kehilangan nilainya?
Saya tidak memiliki jawaban yang pasti. Yang bisa saya lakukan hanyalah meluruskan niat, sembari terus mengoreksi diri. Saya berharap tulisan ini bukan menjadi ajang untuk menunjukkan apa yang saya lakukan, melainkan sekadar berbagi bahwa memahami Al-Qur'an juga membutuhkan kebiasaan yang dibangun sedikit demi sedikit. Sebab, sering kali perubahan besar tidak lahir dari langkah yang besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan istiqamah.
Kalau pun ada satu hal yang layak dibawa pulang dari tulisan ini, mungkin bukan tentang saya, melainkan tentang sebuah pengingat sederhana: jangan hanya berusaha menamatkan Al-Qur'an, tetapi berusahalah juga membiarkan Al-Qur'an perlahan-lahan menamatkan cara kita memandang hidup.