Puasa tenang

-(Rabu, 1 Juli 2026)-

Belakangan ini saya mulai menjalani puasa Dawud: satu hari berpuasa, satu hari tidak. Dalam praktiknya, saya sering berhadapan dengan situasi yang menarik. Ketika hari tidak berpuasa itu jatuh pada hari Senin atau Kamis, saya kerap berpikir ulang—apakah sebaiknya tetap berpuasa? Artinya, saya menggabungkan puasa Dawud dengan puasa Senin-Kamis.

Seperti hari ini. Saya sedang berpuasa, dan besok adalah hari Kamis. Ada dorongan kuat dalam diri saya untuk tetap berpuasa besok, meskipun itu berarti saya akan berpuasa dua hari berturut-turut. Yang membuat saya terus bertanya adalah: mengapa saya justru merasa ingin kembali pada lapar dan haus?

Barangkali pertanyaan yang lebih tepat bukan sekadar tentang lapar, melainkan tentang apa yang lahir dari lapar itu sendiri. Sebab, alih-alih merasa tersiksa, saya justru merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan sederhana: ketenangan.

Ada semacam keheningan batin yang muncul ketika tubuh tidak segera menuruti setiap dorongan. Saat berpuasa, saya merasa jarak antara keinginan dan pemenuhan menjadi lebih panjang, dan di dalam jeda itulah saya menemukan ruang yang tenang. Lapar tidak lagi sekadar sinyal biologis, melainkan seperti guru yang mengajarkan disiplin—bahwa tidak semua yang diinginkan harus segera dipenuhi.

Sebaliknya, ketika tidak berpuasa, saya sering merasakan hal yang berbeda. Nafsu seolah bergerak lebih liar, lebih mendesak. Misalnya saat jam makan siang tiba. Walaupun sebelumnya sudah makan camilan, tetap saja ada dorongan kuat untuk segera makan, seakan tubuh menuntut jatahnya tepat waktu. Ada semacam kepatuhan otomatis terhadap ritme kebiasaan.

Yang lebih menarik, saat tidak berpuasa saya justru merasa lebih sulit benar-benar puas. Perut mungkin sudah kenyang, tetapi mulut seperti belum selesai. Ada dorongan untuk terus mengunyah, terus mencari sesuatu untuk dinikmati. Seolah rasa kenyang di tubuh tidak otomatis menghadirkan rasa cukup di pikiran.

Ketika berpuasa, pengalaman itu berubah. Keinginan untuk terus ngemil melemah. Hasrat yang biasanya riuh perlahan mereda. Dan justru dalam pengurangan itulah saya menemukan rasa cukup. Mungkin di situlah letak ketenangannya.

Saya masih belum tahu apakah pengalaman ini bersifat umum atau sangat personal. Bisa jadi banyak orang merasakan hal serupa; bisa juga ini hanya pengalaman saya sendiri. Karena itu, saya tidak merasa pengalaman ini bisa dijadikan ukuran bagi orang lain. Apa yang menenangkan bagi seseorang belum tentu memberi efek yang sama bagi orang lain.

Saya juga masih bertanya-tanya: apakah keinginan untuk terus berpuasa ini lahir karena kebiasaan—karena tubuh dan pikiran mulai beradaptasi menjadi sebuah habit? Ataukah memang ada mekanisme biologis atau psikologis tertentu yang membuat puasa memengaruhi ketenangan batin?

Saya belum tahu jawabannya.

Namun, untuk saat ini, barangkali saya tidak perlu terlalu tergesa mencari penjelasan. Cukup dengan mengakui bahwa inilah yang saya rasakan: ketika lapar tidak lagi dipandang sebagai kekurangan, ia justru bisa berubah menjadi ruang yang menenangkan.

Dan mungkin, di situlah paradoks puasa berada—bahwa dalam menahan, kita justru menemukan kelapangan.

Populer

Haus validasi

Motivator backoffice

Bisul

Pembekalan

Rel alternatif

Rebahaner

Walking home kantong sampah

Waktu, Alam, Manusia

Karya kreatif

Pagi bersemangat