Menulis buntu

-(Selasa, 11 Agustus 2026)-

Belakangan ini saya menyadari satu perubahan dalam diri saya. Kebiasaan menulis yang dulu terasa begitu alami, kini mulai menemui jalan buntu.

Dulu, setiap kali memiliki waktu senggang di hari libur, saya hampir selalu membawa diri ke tempat yang tenang. Kadang setelah berolahraga saya duduk di gazebo taman, membiarkan tubuh beristirahat sementara pikiran bekerja. Kadang saya memilih sudut lain yang terasa nyaman. Di tempat-tempat seperti itulah tulisan-tulisan lahir, seolah ide memang menunggu saya datang.

Kebiasaan itu juga sering saya lakukan ketika sedang bepergian. Menunggu keberangkatan di bandara, duduk di dalam kereta, bahkan di kursi pesawat. Waktu-waktu yang bagi sebagian orang hanya jeda, bagi saya justru menjadi ruang untuk berpikir dan menulis. Mungkin nanti, ketika kembali melakukan perjalanan, saya akan mengulanginya lagi.

Namun ada satu perubahan yang semakin saya rasakan. Waktu senggang di hari libur tidak lagi menghasilkan tulisan seperti dulu. Saya duduk di depan layar, tetapi tangan terasa kaku. Pikiran seperti kehilangan kelincahannya. Ide-ide yang biasanya berdatangan kini seolah memilih diam.

Barangkali setiap orang yang menulis cukup lama akan sampai pada fase ini. Bukan karena kehilangan kemampuan, melainkan karena pikiran sedang kehabisan tenaga untuk melahirkan sesuatu yang baru. Saya pun sedang berada di titik itu.

Meski begitu, saya tahu satu hal: saya tidak boleh membiarkan kebiasaan ini berhenti.

Selama lebih dari setahun saya berusaha menjaga disiplin sederhana, yakni menerbitkan setidaknya satu tulisan setiap hari di blog yang saya bangun. Jika seluruh tulisan itu dikumpulkan, mungkin sudah cukup menjadi dua hingga lima buku kumpulan artikel, bergantung pada ketebalan yang diinginkan. Bagi saya, angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah jejak dari sebuah kebiasaan yang berhasil dipelihara hari demi hari.

Yang ingin saya pertahankan sebenarnya bukan jumlah tulisannya, melainkan ritmenya.

Saya juga tidak pernah menjadikan blog itu sebagai mesin mencari penghasilan. Hingga hari ini belum ada iklan ataupun pemasukan yang saya peroleh darinya. Namun itu memang bukan tujuan saya sejak awal. Saya menulis dengan kesadaran penuh bahwa blog tersebut adalah ruang untuk menyimpan sekaligus membagikan ide, pengalaman, kegelisahan, dan cara saya memandang berbagai peristiwa yang saya lihat, pikirkan, maupun alami.

Karena itu, setiap kali ada seseorang yang bersedia membaca tulisan saya, saya merasa tujuan kecil itu sudah tercapai. Ada kepuasan yang sulit diukur ketika pikiran yang sebelumnya hanya hidup di kepala akhirnya menemukan pembacanya.

Kesadaran itulah yang membuat saya merasa kebiasaan ini layak dipertahankan. Menulis bukan sekadar menghasilkan artikel, tetapi juga melatih pikiran agar tetap hidup. Sebab pikiran, seperti otot, hanya akan tetap kuat jika terus digunakan. Ia perlu dirangsang untuk terus bertanya, mengamati, menghubungkan berbagai peristiwa, lalu melahirkan gagasan-gagasan baru.

Sebenarnya jalan yang paling mudah selalu tersedia. Saya bisa mengikuti isu yang sedang ramai diberitakan media massa atau rumor yang beredar di media sosial. Bahan tulisan akan selalu ada. Namun ada bagian dari diri saya yang terus mengingatkan agar tidak sepenuhnya larut dalam arus itu. Saya tidak ingin tulisan saya hanya menjadi gema dari apa yang sedang dikerjakan algoritma. Saya ingin tetap memiliki cara pandang dan suara sendiri.

Tentu saya juga tidak ingin bersikap terlalu kaku. Ada saatnya, ketika benar-benar kehabisan ide, saya akhirnya memilih menulis topik yang sedang hangat diperbincangkan. Itu bukan bentuk menyerah, melainkan cara untuk menjaga mesin menulis tetap menyala.

Menariknya, justru dari kebuntuan itulah saya menemukan kembali sesuatu yang sederhana.

Saya tidak perlu memaksa diri menemukan ide besar. Saya cukup mulai menulis apa yang sedang saya rasakan saat itu. Ketika pikiran terasa buntu, saya menulis tentang kebuntuan itu. Ketika kata-kata terasa sulit keluar, saya menulis tentang kesulitan tersebut. Saya membiarkan tangan bergerak lebih dulu, sementara pikiran mengikuti di belakangnya.

Dan ternyata, di situlah jalan keluarnya.

Sering kali yang menghambat bukan karena kita tidak memiliki ide, melainkan karena kita menunggu ide yang dianggap sempurna. Padahal, ketika tangan terus menulis dengan jujur, pikiran perlahan ikut membuka jalan. Satu kalimat memanggil kalimat berikutnya. Satu gagasan kecil menuntun pada gagasan yang lebih utuh.

Mungkin inilah terapi paling sederhana yang akhirnya saya temukan untuk diri saya sendiri: ketika kehilangan bahan untuk menulis, jangan berhenti. Tulis saja tentang kehilangan itu. Sebab sering kali, dari pengakuan yang paling jujur terhadap diri sendiri, lahir tulisan yang justru paling layak untuk dibaca.

Populer

Tepian Samudra Berenergi Hijau

Tiga mazhab & Berebut Roti

Teori "dua hari"

Rumor ketakutan

Pantun integritas

Sunyi berdua

Barisan sakit hati

Perbendaharaan Go Green

Voli senja

Kesenangan musiman