Bukan alumni
-(Sabtu, 21 Juni 2025)-
Tibalah giliran saya untuk memperkenalkan diri. Setelah menyebutkan nama dan asal daerah—yang kebetulan relatif dekat dengan pondok pesantren tempat para alumni ini berasal—saya berkata, “Sayangnya, saya bukan alumni. Saya hanya menemani istri, yang saya pun tidak tahu apakah ia juga alumni.” Ucapan itu mengundang tawa dan senyum dari para peserta yang hadir malam itu.
Acara ini sebenarnya merupakan pertemuan alumni sebuah pondok pesantren yang terletak di daerah tetangga kabupaten kami. Istri saya diundang oleh temannya untuk ikut hadir. Rupanya, salah satu senior dari temannya—yang kini memimpin sebuah travel haji dan umroh dan tengah memimpin rombongan haji ONH Plus—mengundang mereka untuk makan malam dan bersilaturahmi. Mereka menginap di sebuah hotel yang lokasinya sangat dekat dengan pelataran Masjidil Haram.
Setelah sholat Maghrib, kami pun bertemu. Ada beberapa alumni yang tahun ini mendapat kesempatan berhaji, dan momen ini menjadi ajang yang hangat untuk berkumpul, bertukar kabar, dan mendoakan pondok pesantren tercinta.
Ternyata, istri saya memang pernah nyantri di pesantren itu—meskipun hanya sebentar. Ia sempat mengenal temannya itu, yang dulu menjadi seniornya di pesantren. Persahabatan itu ternyata terus terjalin hingga kini, bahkan melampaui waktu dan jarak.
Silaturahmi yang tak disangka-sangka malam itu bukan hanya mempertemukan kembali kenangan lama mereka, tetapi juga membuka wawasan kami tentang perbedaan antara haji reguler dan haji ONH Plus—terutama dari sisi fasilitas, diantaranya lokasi hotel yang begitu dekat dengan Masjidil Haram.