Postingan

Pilihan Hari Ini

Mutasi pulang?

-(Sabtu, 29 Agustus 2026)- Setiap kali mencermati surat keputusan mutasi, saya kadang menemukan sesuatu yang menarik di dalamnya. Ia bukan sekadar file PDF yang berisi nama pegawai, jabatan, tempat lama, dan tempat baru. Dari kolom-kolom sederhana itu, kadang ada cerita yang lebih panjang. Bahkan, sesekali ada sesuatu yang membuat dahi saya berkerut. Dari sebuah SK mutasi, kita mungkin bisa membaca pola. Ada kebijakan yang barangkali tidak pernah ditulis secara terang-terangan, tetapi terasa dari keputusan yang berulang. Misalnya, mungkin saja asumsi lama bahwa setelah lima tahun bertugas di luar daerah, seorang pegawai memiliki kesempatan untuk kembali ke homebase , kini tidak lagi sesederhana itu. Barangkali ada pesan yang hendak disampaikan pimpinan: belum saatnya kembali ke kampung halaman. Dengan segala take home pay  yang diterima sebagai ASN, masih ada pengabdian yang harus ditunaikan di berbagai pelosok negeri. Negara membiayai kita bukan hanya untuk bekerja di tempat ya...

Batas argumen

-(Minggu, 4 Oktober 2026)- Pada akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: apa pun landasan dan sekuat apa pun argumen sebuah program atau kebijakan, ia tetap tidak kebal terhadap kritik dan sanggahan. Manusia, dengan akal pikirannya, selalu punya kemampuan untuk menemukan celah dari sebuah argumentasi, lalu mengajukan alasan lain untuk membantahnya. Hal yang sama bahkan terjadi pada perkara agama. Sesuatu yang bagi seseorang sudah terasa sangat jelas dan meyakinkan, bagi orang lain masih mungkin dipertanyakan, ditafsirkan berbeda, atau bahkan dibantah dengan argumen yang menurutnya sama kuat. Di situlah saya kemudian memahami mengapa perdebatan, terutama di media sosial, seolah tidak pernah selesai. Satu argumen melahirkan bantahan. Bantahan dibalas dengan argumen baru. Argumen baru kembali dicari kelemahannya. Begitu seterusnya. Tidak ada garis akhir yang secara alami menghentikan permainan logika itu. Barangkali karena manusia menyadari bahwa perdebatan semacam itu tid...

Tembok algoritma

-(Sabtu, 3 Oktober 2026)- Nampaknya pemerintah mulai menyadari bahwa tantangan komunikasi dengan masyarakat hari ini tidak lagi sesederhana soal seberapa sering informasi disampaikan atau seberapa menarik pesan dikemas. Ada persoalan yang bekerja lebih dalam: algoritma media sosial telah ikut menentukan apa yang dilihat, dibaca, dan pada akhirnya dipercaya oleh masyarakat. Pemerintah bisa saja membuat konferensi pers, menyebarkan siaran pers, memasang iklan layanan masyarakat, atau memenuhi media dengan berbagai informasi. Namun, semua itu belum tentu sampai kepada publik yang dituju. Informasi tersebut harus lebih dulu melewati sebuah gerbang yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah: algoritma. Algoritma mempelajari kebiasaan kita. Ia tahu video seperti apa yang membuat kita berhenti menggulir, berita apa yang membuat kita membaca lebih lama, dan pendapat seperti apa yang membuat kita bereaksi. Dari sana, algoritma menyusun semacam ruang informasi personal. Dua orang ya...

Dopamin instan

-(Jumat, 2 Oktober 2026)- Barangkali masalahnya bukan pada dopamin. Tubuh kita memang membutuhkannya. Yang perlu dicermati adalah cara kita mendapatkannya: melalui sesuatu yang memberi kepuasan seketika, atau melalui proses yang menuntut waktu, usaha, dan sedikit kesabaran. Pornografi menawarkan kenikmatan dalam waktu singkat. Televisi memberi stimulasi tanpa banyak menuntut keterlibatan. Media sosial menyediakan aliran informasi yang seolah tidak pernah selesai. Makanan ringan memberi rasa nikmat yang cepat. Gim menghadirkan hadiah demi hadiah. Belanja impulsif menghadirkan euforia sesaat. Bahkan membuka ponsel hanya karena sedang punya waktu luang bisa berubah menjadi kebiasaan mengisi kekosongan tanpa tahu sebenarnya apa yang sedang dicari. Begadang pun sering dimulai dengan kalimat sederhana: sebentar lagi. Padahal pagi datang tanpa peduli pada kesepakatan kita dengan malam. Semua itu tidak selalu buruk. Persoalannya muncul ketika kepuasan sesaat menjadi pola. Kita terbiasa mempero...

Mental miskin

-(Kamis, 1 Oktober 2026)- Saya sering mendengar orang mengatakan, “Dia itu bermental miskin.” Setiap kali mendengarnya, saya justru penasaran: sebenarnya apa yang dimaksud dengan mental miskin? Apa cirinya? Siapa yang menetapkan ciri-ciri itu? Dan, yang paling mendasar, apa dasar pengetahuan yang membuat seseorang berhak menyebut orang lain bermental miskin? Semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa istilah itu problematis. Tidak ada ukuran yang benar-benar jelas. Tidak ada standar yang disepakati. Tidak ada instrumen yang bisa digunakan untuk mengukur kadar “mental miskin” seseorang. Pada akhirnya, istilah itu lebih sering menjadi penilaian subjektif yang disampaikan seolah-olah merupakan sebuah fakta. Yang menarik, label tersebut kerap muncul justru ketika seseorang mengambil keputusan yang sebenarnya sangat rasional secara ekonomi. Dalam situasi ekonomi seperti sekarang, misalnya, istilah in this economy semakin sering digunakan untuk menggambarkan perlunya berhati-hati membe...

Nafsu makan

-(Rabu, 30 September 2026)- Semakin lama menjalani kehidupan, mungkin kita semakin mengenal diri sendiri, termasuk bagaimana kita merespons sesuatu. Ada hal-hal yang mampu kita tahan, tetapi ada pula yang pada akhirnya membuat kita menyerah. Salah satunya adalah bujukan untuk terus mengunyah. Entahlah, apa yang sebenarnya dilakukan nenek moyang manusia sehingga kebiasaan mengunyah ini begitu kuat diwariskan kepada kita. Tubuh seolah selalu punya alasan untuk memasukkan sesuatu ke dalam mulut. Kalau bukan makanan, ada saja pelampiasan lain: rokok, vape, atau sekadar camilan kecil yang katanya hanya untuk menemani waktu luang. Ujungnya sama: mulut tetap sibuk. Di situlah saya melihat salah satu godaan terbesar ketika seseorang ingin hidup lebih sehat. Musuhnya sering kali bukan makanan yang tersedia di meja, bukan pula restoran atau iklan makanan. Musuh yang paling sulit dikalahkan justru ada di dalam diri sendiri: keinginan untuk makan. Yang menarik, tubuh dan pikiran kita kadang sepert...

Slow jogging

-(Selasa, 29 September 2026)- Saya tahu olahraga beban bagus untuk kesehatan dan kebugaran. Masalahnya, olahraga seperti ini menuntut rutinitas. Ada jadwal yang harus dijaga, gerakan yang harus diulang, dan otot yang seolah meminta kita untuk terus kembali. Saya kadang berpikir, apakah pola seperti itu masih realistis ketika usia terus bertambah? Karena itu, saya lebih tertarik pada olahraga yang terasa ringan, santai, dan bisa dilakukan dalam waktu panjang: jalan kaki dan gowes. Bukan karena olahraga beban tidak penting, tetapi saya mulai melihat olahraga dari sudut yang sedikit berbeda. Bagi saya, olahraga yang dapat dipertahankan mungkin lebih berguna daripada olahraga yang bagus secara teori tetapi akhirnya ditinggalkan karena terasa terlalu berat. Ambil contoh squat. Gerakan ini sering menjadi bagian dari latihan kekuatan karena memang bermanfaat untuk otot-otot tubuh bagian bawah. Tetapi bagaimana dengan orang yang lutut kanan atau kirinya sudah mulai terasa sakit? Apakah kemudia...

Tantangan seimbang

-(Senin, 28 September 2026)- Ada keadaan ketika kita begitu tenggelam dalam sesuatu yang sedang dikerjakan sampai waktu seperti kehilangan ukurannya. Tidak terasa lama, tidak pula terasa berat. Perhatian sepenuhnya tertuju pada apa yang ada di depan mata. Tantangannya cukup sulit untuk membuat kita berpikir, tetapi masih berada dalam jangkauan kemampuan untuk ditaklukkan. Keadaan semacam itu disebut flow state , atau keadaan alir. Saya kira, di situlah kita menemukan sesuatu yang sering keliru kita pahami tentang kebahagiaan. Kita kerap membayangkan bahwa hidup yang bahagia adalah hidup yang serba mudah: pekerjaan tidak terlalu menuntut, persoalan sedikit, dan segala sesuatu berjalan tanpa banyak hambatan. Padahal, kemudahan yang terus-menerus justru dapat berubah menjadi kebosanan. Manusia membutuhkan tantangan. Bukan tantangan yang terlalu berat hingga membuat kita merasa tidak berdaya, tetapi juga bukan tugas yang begitu mudah sehingga tidak membutuhkan perhatian dan usaha. Ada titi...

Memilih jarak

-(Minggu, 27 September 2026)- Ketika seseorang memutuskan untuk memutus kontak—baik telepon maupun pesan WhatsApp—dengan seseorang yang sebenarnya sangat dekat, apa yang sejatinya sedang terjadi di dalam dirinya? Mungkin ia sedang berada di sebuah persimpangan. Di satu sisi ada masa lalu dengan segala kenangan yang belum benar-benar selesai. Di sisi lain ada masa depan yang menuntutnya untuk terus berjalan. Dan pada titik tertentu, ia menyadari bahwa untuk bisa melangkah, ia harus berhenti terlalu sering menoleh ke belakang. Keputusan itu bukan selalu lahir dari kebencian. Justru kadang sebaliknya. Ada hubungan yang harus dijauhkan bukan karena sudah tidak berarti, tetapi karena masih terlalu berarti. Ada percakapan yang sengaja dihentikan bukan karena tak ada lagi yang ingin dikatakan, melainkan karena terlalu banyak hal yang ingin dikatakan dan semuanya berisiko membuka kembali sesuatu yang sedang berusaha ditenangkan. Boleh jadi, orang itu masih menyimpan rindu. Masih ada keinginan ...

AI & AIR

-(Sabtu, 26 September 2026)- Ada yang membuat saya sedikit terusik belakangan ini. Setiap kali orang membicarakan penggunaan AI, terutama setelah tren membuat foto dengan AI ramai di media sosial, tiba-tiba muncul narasi tentang air yang menyusut, hutan yang berkurang, dan bumi yang semakin terbebani. Saya tidak menolak fakta bahwa AI memiliki jejak lingkungan. Yang membuat saya tidak nyaman adalah ketika persoalan yang sebenarnya sangat kompleks itu kemudian disederhanakan menjadi semacam tuduhan moral kepada orang yang menggunakan AI. Karena itu, ketika muncul kalimat bahwa setiap kali seseorang menggunakan AI ia ikut membuat air berkurang, saya merasa perlu bertanya: sesederhana itukah persoalannya? Memang benar, AI membutuhkan pusat data. Pusat data membutuhkan listrik dan menghasilkan panas. Panas itu harus dibuang, dan sebagian sistem pendinginan menggunakan air. Pembangkit listrik yang memasok pusat data pun dalam kondisi tertentu menggunakan air. Jadi, secara ilmiah, AI memang ...

Tone deaf

-(Jumat, 25 September 2026)- Belakangan ini, istilah tone deaf kerap muncul di X dan berbagai platform media sosial Indonesia. Semula, istilah tersebut hanya merujuk pada ketidakmampuan seseorang membedakan nada dalam musik. Namun dalam percakapan sehari-hari di media sosial, maknanya telah bergeser. Tone deaf kini digunakan untuk menyebut seseorang yang dianggap tidak peka, gagal membaca situasi, atau kurang mampu menangkap perasaan orang lain. Istilah itu kembali ramai setelah video YouTube seorang penyanyi tentang mindfulness di tengah “zaman berita buruk” menjadi perbincangan. Sebagian netizen menilai konten tersebut kurang berjarak dengan realitas masyarakat yang sedang menghadapi tekanan ekonomi dan berbagai kesulitan hidup. Latar video yang terasa nyaman, ditambah pendekatan yang dianggap terlalu ringan, dipersepsikan sebagai gambaran adanya jarak antara kehidupan selebriti dan kehidupan masyarakat kebanyakan. Dari situlah tone deaf bekerja sebagai sebuah label. Begitu dilek...

Politik bergosip

-(Kamis, 24 September 2026)- Belakangan ini, tahun 2029 terasa semakin dekat. Bukan dalam arti sebenarnya. Jika dihitung dari sekarang, masih ada sekitar dua setengah tahun sebelum pemilihan presiden berlangsung. Namun, percakapan publik rupanya tidak mengenal kalender. Jauh sebelum hari pemungutan suara tiba, politik sudah lebih dulu memenuhi ruang percakapan kita. Di beberapa kanal YouTube, misalnya, mulai ramai diperbincangkan siapa akan bersama siapa. Tokoh ini disebut tak lagi akan bersama tokoh itu. Sebaliknya, tokoh ini diperkirakan akan menggandeng nama tertentu. Lalu, kalau benar demikian, tokoh itu akan berpasangan dengan siapa? Dari pertanyaan-pertanyaan semacam itulah analisis, spekulasi, dan dugaan kemudian berkembang memenuhi ruang publik. Media sosial membuat semuanya terasa semakin dekat. Hampir setiap hari ada saja unggahan yang menyudutkan seorang tokoh, sementara unggahan lainnya mengangkat dan memuji tokoh yang berbeda. Ada pula berita dan isu yang terus "digor...

Kuliah gratis

-(Rabu, 23 September 2026)- Dalam pidato Presiden itu, sejatinya ada bagian yang jauh lebih penting dan patut untuk diviralkan agar benar-benar menjadi kenyataan: soal pendidikan gratis, dari SD hingga universitas negeri. Sayangnya, perhatian publik justru lebih banyak tersedot pada pernyataan Presiden tentang orang-orang pintar yang lama-lama menjadi “goblok”. Buzzer dan para content creator ikut memperbesar isu tersebut. Potongan pernyataan itu beredar, ditanggapi, diperdebatkan, lalu menjadi konsumsi sehari-hari di ruang publik. Seolah-olah di situlah persoalan terbesar dari pidato tersebut. Saya bisa memahami jika sebagian orang merasa tersinggung. Terlebih bagi mereka yang selama ini berada di lingkungan intelektual dan terbiasa bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah. Mereka tentu memiliki hak untuk memberikan tanggapan, bahkan mengkritik balik Presiden atas pernyataan tersebut. Tetapi ada persoalan lain yang menurut saya jauh lebih penting. Perdebatan tentang satu kata akh...

Nurani

-(Selasa, 22 September 2026)- Hal tersulit bagi sebagian orang bukan menghadapi masalah, melainkan berhenti memikirkan masalah yang sedang dihadapinya. Padahal, kemampuan untuk melepaskan pikiran dari sesuatu yang tidak lagi bisa diubah sering kali menjadi salah satu kunci untuk hidup lebih tenang dan terbebas dari stres. Di situlah paradoks manusia muncul: kita ingin bebas dari masalah, tetapi justru pikiran kita sendiri yang terus membawanya ke mana-mana. Manusia tentu ingin terbebas dari masalah. Salah satu caranya adalah dengan berhenti memikirkannya. Namun, pikiran tidak selalu mau mengikuti keinginan pemiliknya. Sesuatu yang sebenarnya sederhana bisa berulang-ulang muncul dalam kepala, diperiksa dari berbagai sudut, lalu melahirkan kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya bahkan tidak pernah terpikirkan. Misalnya, seseorang memilih tidak menghadiri sebuah undangan karena alasan ego pribadi. Sebenarnya persoalannya sederhana. Ia tidak datang, acara tetap berlangsung, orang-orang te...

Jejak perlawanan

-(Senin, 21 September 2026)- Ada satu hal yang mungkin luput dari perhatian setelah drama penolakan eselon I terhadap keputusan Menteri, yang kemudian berujung pada lengsernya sang Menteri. Peristiwa itu, setidaknya, telah meninggalkan sebuah contoh—bahkan mungkin semacam yurisprudensi informal—tentang bagaimana sebuah organisasi merespons ketika bawahan menolak keputusan atasannya. Pertanyaannya kemudian sederhana, tetapi tidak kecil: apakah hal yang sama bisa terjadi di level yang lebih bawah? Sebab, jika dilihat dari permukaan, penolakan tersebut tetap merupakan bentuk perlawanan bawahan terhadap atasan. Kita boleh saja berasumsi bahwa ada banyak pertimbangan yang melatarbelakanginya. Ada alasan, kalkulasi, atau mungkin dinamika internal yang tidak pernah benar-benar kita ketahui. Tetapi organisasi tidak hanya bekerja dengan apa yang sebenarnya terjadi. Organisasi juga bekerja dengan apa yang terlihat dan ditafsirkan oleh orang-orang di dalamnya. Dan yang terlihat oleh banyak orang ...

Kunci kenangan

-(Minggu, 20 September 2026)- Entahlah, mungkin saya memang terlalu melankolis. Setiap kali mendengar Samsara dari Soegi Bornean, yang terbayang dalam pikiran saya justru diri saya di masa lalu—ketika sedang berada di sebuah kota yang sebenarnya hanya saya singgahi selama beberapa bulan. Saya sendiri tidak tahu mengapa kenangan tentang kota itu begitu lekat. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Lagu-lagu Soegi seperti memiliki kemampuan membawa saya kembali ke sana, sebagaimana saya seperti dibawa pulang ke masa SMA setiap kali mendengar Forever in Love  dari Kenny G. Mungkin di situlah kekuatan sebuah lagu. Ia bukan sekadar rangkaian nada yang kita dengarkan, melainkan sesuatu yang kadang diam-diam menyatu dengan tempat, waktu, suasana, dan perasaan ketika pertama kali kita benar-benar menghayatinya. Ada lagu yang kita dengarkan sambil lalu, lalu hilang begitu saja. Tetapi ada pula lagu yang hadir pada sebuah momen tertentu, ketika kita sedang berada dalam keadaan batin yang begitu...

Yang tak sama

-(Sabtu, 19 September 2026)- Dua tulisan tentang mutasi itu, jika dibaca kembali, sebenarnya lebih banyak berbicara tentang bagaimana membuat hati tetap tenteram ketika mutasi yang datang tidak sesuai dengan harapan. Ia juga berlaku bagi mereka yang sampai hari ini belum mendapatkan mutasi, padahal mungkin sudah lama menunggu, berharap, bahkan diam-diam bertanya-tanya kapan giliran itu tiba. Bagaimanapun, membuat hati tetap kuat dan tegar menuju tempat baru jauh lebih penting daripada terus-menerus menangisi keadaan dan merasa menjadi korban nasib. Perasaan “apa salah saya?” yang muncul ketika nama sendiri tidak ada dalam daftar, ketika mutasi justru semakin menjauh dari kampung halaman, atau ketika tempat tugas yang baru terasa semakin jauh dari apa yang selama ini diharapkan, sering kali tidak lebih dari bentuk overthinking . Bukankah hal serupa juga kerap dirasakan anak-anak muda sekarang ketika melihat unggahan atau story teman-temannya? Mereka melihat kehidupan orang lain dari p...

Empat kebiasaan

-(Jumat, 18 September 2026)- Ada beberapa kebiasaan sederhana yang mungkin tidak langsung membuat hidup kita lebih mudah, tetapi justru membuat kita lebih kuat menjalaninya. Kebiasaan-kebiasaan itu melatih sesuatu yang sering terlupakan: kemampuan untuk bertahan ketika keadaan tidak sesuai dengan keinginan. Pertama, kebiasaan yang membuat kita mampu menoleransi ketidaknyamanan. Berjalan tanpa musik. Mandi dengan air dingin. Duduk dalam keheningan. Atau menyelesaikan sesuatu yang sudah kita mulai meskipun di tengah jalan kita kehilangan semangat. Kita hidup di zaman yang hampir selalu menawarkan cara untuk membuat segala sesuatu terasa lebih nyaman. Ketika bosan, kita membuka telepon. Ketika lelah, kita mencari hiburan. Ketika pekerjaan terasa berat, kita berpindah kepada sesuatu yang lebih menyenangkan. Padahal, tidak semua hal yang berharga terasa menyenangkan ketika dikerjakan. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan meskipun kita tidak sedang bersemangat. Ada proses yang harus dijalan...

Jangan mengejar

-(Kamis, 17 September 2026)- Ada hal-hal dalam hidup yang sebaiknya tidak dikejar. Bukan karena kita tidak peduli, bukan pula karena kita sudah tidak menginginkannya. Tetapi karena ada sesuatu yang memang selesai, pergi, atau tidak lagi menjadi bagian dari perjalanan kita. Orang yang memilih pergi dari kita, misalnya. Cinta yang sudah berakhir. Penilaian orang lain tentang siapa kita. Bahkan uang yang pernah kita miliki, tetapi kemudian hilang dan tidak mungkin diputar kembali menjadi seperti semula. Namun, ada satu hal yang menurut saya justru paling tidak boleh dikejar dengan cara apa pun: diri kita yang dulu. Barangkali kita pernah mengalaminya. Kita mengingat suatu masa ketika hidup terasa lebih ringan. Saat itu kita bahagia. Lebih dicintai. Lebih muda. Mungkin punya lebih banyak uang. Punya lebih banyak teman. Punya pekerjaan yang lebih menyenangkan. Atau sekadar merasa bahwa hidup sedang berpihak kepada kita. Lalu suatu hari semuanya berubah. Kita mulai membandingkan hidup yang s...