Postingan

Pilihan Hari Ini

Gerimis pergi

-(Selasa, 11 November 2025)- Gerimis sore masih saja turun saat penumpang diminta untuk boarding. Karena itulah, tak ada penumpang yang diminta naik lewat pintu belakang. Maka, diatur agar penumpang dengan nomor kursi 20 ke atas diminta naik lebih dahulu. Saya pun sabar menunggu giliran untuk naik pesawat, sebab nomor kursi saya tergolong kecil. Artinya, tak selalu nomor urut kecil diberikan kesempatan lebih dahulu. Padahal mungkin, sebagian dari kita memilih nomor kecil dengan harapan akan dipanggil lebih cepat. Seperti biasa, selalu ada perasaan bahwa sesuatu tertinggal setiap kali akan pergi. Entahlah apa benda atau sesuatu itu, sebab saya belum juga menyadari apa yang sebenarnya tertinggal. Bisa jadi bukan benda, melainkan suatu perasaan. Perasaan yang entah mengapa selalu muncul setiap kali harus meninggalkan sesuatu. Mungkin memang sudah kodratnya begitu: bahwa setiap perpisahan membawa sejumput kehilangan yang tak dapat dijelaskan. Mungkin pula suasana sore dengan gerimis it...

Mutasi pulang?

-(Sabtu, 29 Agustus 2026)- Setiap kali mencermati surat keputusan mutasi, saya kadang menemukan sesuatu yang menarik di dalamnya. Ia bukan sekadar file PDF yang berisi nama pegawai, jabatan, tempat lama, dan tempat baru. Dari kolom-kolom sederhana itu, kadang ada cerita yang lebih panjang. Bahkan, sesekali ada sesuatu yang membuat dahi saya berkerut. Dari sebuah SK mutasi, kita mungkin bisa membaca pola. Ada kebijakan yang barangkali tidak pernah ditulis secara terang-terangan, tetapi terasa dari keputusan yang berulang. Misalnya, mungkin saja asumsi lama bahwa setelah lima tahun bertugas di luar daerah, seorang pegawai memiliki kesempatan untuk kembali ke homebase , kini tidak lagi sesederhana itu. Barangkali ada pesan yang hendak disampaikan pimpinan: belum saatnya kembali ke kampung halaman. Dengan segala take home pay  yang diterima sebagai ASN, masih ada pengabdian yang harus ditunaikan di berbagai pelosok negeri. Negara membiayai kita bukan hanya untuk bekerja di tempat ya...

Kursi maskapai

-(Jumat, 28 Agustus 2026)- Ada yang terasa aneh dengan beberapa maskapai penerbangan belakangan ini: kursi di dalam pesawat ternyata tidak lagi sekadar bagian dari tiket. Ada kursi yang gratis, tetapi ada pula kursi yang harus dibayar jika penumpang menginginkannya. Dan tentu saja kita bisa menebak kursi mana yang masuk kategori berbayar. Biasanya kursi-kursi yang dianggap lebih strategis, lebih nyaman, atau memiliki kelebihan tertentu akan dikenai biaya tambahan. Dulu, memilih kursi pesawat terasa seperti bagian sederhana dari perjalanan. Siapa cepat, dia dapat. Kalau kita ingin duduk dekat jendela, di bagian depan, atau berdampingan dengan keluarga, cukup memilih ketika melakukan check-in atau pemesanan, sepanjang kursi tersebut masih tersedia. Tidak ada perasaan bahwa kita sedang membeli kembali sesuatu yang sebenarnya sudah kita bayar melalui tiket. Sekarang situasinya berubah. Kita membeli tiket untuk terbang dari satu kota ke kota lain, tetapi untuk memilih tempat duduk tertentu ...

Kabut asap

-(Kamis, 27 Agustus 2026)- Sebagai orang yang pernah menetap beberapa tahun di pedalaman Kalimantan Selatan, saya ikut prihatin setiap kali mendengar kabar tentang kebakaran lahan dan kabut asap di Banua. Ada perasaan yang sulit saya jelaskan ketika membayangkan masyarakat yang pernah saya kenal harus kembali berhadapan dengan udara yang tidak lagi sepenuhnya menjadi milik mereka sendiri. Saya tahu sedikit banyak seperti apa wajah lahan gambut setelah terbakar. Saya pernah melewati jalan yang membelah kawasan dengan bekas-bekas kebakaran. Tanah dan pepohonan menghitam, menyisakan pemandangan seperti sesuatu yang baru saja kehilangan kehidupan. Yang lebih mengerikan, api di lahan gambut tidak selalu benar-benar mati ketika nyala di permukaan sudah padam. Ia bisa bersembunyi di bawah tanah, membara perlahan, lalu kembali mengeluarkan asap. Karena itu, kabut asap bagi saya bukan sekadar berita yang muncul di layar televisi atau media sosial. Saya bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup ...

Menjadi tua

-(Rabu, 26 Agustus 2026)- Jika Anda tidak ingin anak-anak memandang Anda sebagai beban ketika usia sudah menua, ada beberapa hal yang sebaiknya dipikirkan sejak sekarang. Ini bukan tentang menjadi orang tua yang keras, perhitungan, atau menjaga jarak dari anak-anak. Justru sebaliknya. Ini tentang memahami bahwa hubungan antara orang tua dan anak akan berubah seiring waktu. Ketika anak-anak masih kecil, merekalah yang sepenuhnya bergantung kepada kita. Namun ketika mereka dewasa, menikah, memiliki keluarga sendiri, dan sibuk dengan kehidupannya, kita tidak bisa selamanya menuntut mereka hadir seperti dulu. Saya sering berpikir, menjadi orang tua sebenarnya bukan hanya soal bagaimana membesarkan anak sampai mereka mandiri. Ada satu tahap lain yang tidak kalah penting: bagaimana kita belajar menjadi tua tanpa kehilangan kemandirian, harga diri, dan kehidupan kita sendiri. Karena itu, ada tujuh hal yang menurut saya layak direnungkan. Pertama, jangan mengorbankan seluruh hidup Anda untuk a...

Demokrasi digital

-(Selasa, 25 Agustus 2026)- Saya kadang tidak memahami jalan pikiran sebagian orang yang disebut kaum intelektual atau akademisi ketika membicarakan demokrasi. Bukan karena saya merasa paling memahami demokrasi, tetapi karena ada argumen tertentu yang menurut saya justru membuat persoalan menjadi lebih rumit daripada yang sebenarnya. Misalnya, ada pendapat bahwa demokrasi di negeri ini sudah tidak ada. Salah satu alasannya adalah prinsip one man, one vote dianggap tidak lagi berlaku. Mengapa? Karena hari ini ada influencer atau buzzer yang memiliki jutaan pengikut. Ketika seorang influencer menyatakan dukungan kepada seorang kontestan dalam pemilu, pengikutnya dianggap akan mengikuti pilihan tersebut. Di sinilah saya mulai bertanya-tanya: bagaimana fenomena semacam itu dapat dijadikan bukti bahwa demokrasi sudah tidak ada? Bukankah setiap orang tetap datang ke bilik suara dengan satu suara? Seorang influencer boleh saja memiliki jutaan pengikut. Ia boleh memiliki pengaruh besar. Bahka...

Latihan karakter

-(Senin, 24 Agustus 2026)- Mari kita buang sampah pada tempatnya. Kalimat itu begitu akrab di telinga kita. Para guru mengatakannya, para pemimpin mengulanginya, bahkan di banyak tempat kalimat semacam itu ditulis besar-besar agar mudah dilihat orang. Kita berharap orang membaca, memahami, lalu melakukannya. Tetapi saya mulai berpikir, jangan-jangan di situlah persoalannya. Kita terlalu sering mengira bahwa perilaku manusia cukup dibentuk dengan nasihat. Padahal, dari pembicaraan dengan seorang narasumber ahli neurosains, saya menangkap satu hal yang sederhana tetapi penting: perilaku tidak lahir hanya dari apa yang kita dengar, melainkan dari apa yang berulang kali kita lakukan. Otak manusia belajar melalui pengulangan. Sesuatu yang terus dilakukan akan menjadi pola, dan pola yang terus dipelihara pada akhirnya dapat menjadi kebiasaan. Karena itu, ketika kita mengatakan kepada anak-anak, “Buanglah sampah pada tempatnya,” tetapi mereka tidak pernah benar-benar dilatih untuk melakukanny...

Konflik supremasi

-(Minggu, 23 Agustus 2026)- Barangkali, itulah istilah yang paling tepat untuk membaca tatanan dunia saat ini: konflik supremasi. Bukan semata-mata persaingan antarnegara, melainkan perebutan posisi untuk menentukan siapa yang paling berpengaruh, siapa yang paling didengar, dan siapa yang memiliki kemampuan paling besar untuk menentukan arah dunia. Terutama Amerika Serikat. Tetapi mungkin juga China dan Rusia. Masing-masing memiliki kepentingan untuk mempertahankan atau memperluas pengaruhnya. Slogan seperti American First , China First , atau Russia First pada akhirnya bukan sekadar rangkaian kata dalam pidato politik. Di baliknya terdapat kepentingan nasional yang ingin terus ditempatkan di atas kepentingan negara lain. Setidaknya, itulah yang saya tangkap dari pembicaraan seorang pejabat Kementerian Luar Negeri beberapa waktu lalu. Dari sana saya kemudian berpikir, jangan-jangan berbagai konflik yang berlangsung di sejumlah belahan dunia hari ini sebenarnya merupakan bagian dari pe...

Panggilan darurat

-(Sabtu, 22 Agustus 2026)-  Ada sebuah istilah yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan banyak hal: emergency call . Panggilan darurat. Barangkali sebagian dari kita pernah mengalaminya. Suatu ketika, telepon berdering atau sebuah pesan masuk membawa kabar bahwa ada anggota keluarga yang sakit keras, mengalami sesuatu yang serius, atau sedang berada dalam keadaan yang membutuhkan kehadiran orang-orang terdekat. Seketika, rutinitas yang sedang dijalani seperti kehilangan prioritasnya. Ada panggilan yang terasa lebih penting daripada pekerjaan, perjalanan, atau kesibukan apa pun. Ketika kami mengalami situasi seperti itu, saya justru teringat sebuah adegan dalam film Transformers . Ada bagian ketika para Autobots yang tersebar di berbagai tempat dipanggil untuk berkumpul karena ada keadaan penting dan darurat yang harus segera ditangani. Mereka datang dari tempat masing-masing, meninggalkan urusan yang sedang mereka kerjakan, karena ada sesuatu yang lebih besar yang me...

Cap futur

-(Jumat, 21 Agustus 2026)- Saya pernah mendengar judul sebuah buku: Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah . Seingat saya, buku itu bercerita tentang orang-orang yang dianggap mulai meninggalkan jalan dakwah, kehilangan semangat, atau dalam istilah yang kerap digunakan, mengalami futur . Istilah itu terdengar sederhana. Seolah-olah ada orang yang sedang berjalan bersama dalam satu barisan, lalu karena satu dan lain hal berhenti, menyimpang, atau bahkan meninggalkan jalan yang sebelumnya ditempuh bersama. Tetapi belakangan saya berpikir, jangan-jangan persoalannya tidak sesederhana itu. Sebab, siapa sebenarnya yang berhak menentukan seseorang telah berguguran? Pertanyaan itu penting, karena bisa jadi istilah futur tidak selalu lahir dari penilaian yang objektif terhadap perubahan iman, akhlak, atau amal seseorang. Bisa jadi, tanpa kita sadari, ada ukuran lain yang diam-diam digunakan: apakah seseorang masih berada di dalam kelompok kita atau sudah berada di luar kelompok kita. Jika masih bers...