Postingan

Pilihan Hari Ini

Mutasi pulang?

-(Sabtu, 29 Agustus 2026)- Setiap kali mencermati surat keputusan mutasi, saya kadang menemukan sesuatu yang menarik di dalamnya. Ia bukan sekadar file PDF yang berisi nama pegawai, jabatan, tempat lama, dan tempat baru. Dari kolom-kolom sederhana itu, kadang ada cerita yang lebih panjang. Bahkan, sesekali ada sesuatu yang membuat dahi saya berkerut. Dari sebuah SK mutasi, kita mungkin bisa membaca pola. Ada kebijakan yang barangkali tidak pernah ditulis secara terang-terangan, tetapi terasa dari keputusan yang berulang. Misalnya, mungkin saja asumsi lama bahwa setelah lima tahun bertugas di luar daerah, seorang pegawai memiliki kesempatan untuk kembali ke homebase , kini tidak lagi sesederhana itu. Barangkali ada pesan yang hendak disampaikan pimpinan: belum saatnya kembali ke kampung halaman. Dengan segala take home pay  yang diterima sebagai ASN, masih ada pengabdian yang harus ditunaikan di berbagai pelosok negeri. Negara membiayai kita bukan hanya untuk bekerja di tempat ya...

Menjadi pertama

-(Senin, 26 Oktober 2026)- “Ini pertama kali dalam sejarah.” Ungkapan ini sering terdengar sebagai penanda keberhasilan sekaligus sumber kebanggaan. Ada sesuatu yang baru, sebuah gagasan yang sebelumnya belum pernah diwujudkan, lalu mulai dihadirkan dalam kenyataan. Bahkan, ketika masih sebatas ikhtiar, kebanggaan itu kadang sudah muncul. Seolah-olah menjadi yang pertama saja sudah cukup untuk memberikan nilai lebih pada sebuah pencapaian. Apalagi jika sesuatu yang pertama kali dalam sejarah itu sudah menghasilkan output, bahkan outcome yang nyata. Kebanggaan tentu semakin besar. Nama seseorang atau sebuah institusi pun berpeluang tercatat sebagai pelopor, sebagai pihak yang berhasil melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Para pemimpin dan bos tampaknya menyukai pencapaian semacam ini. Ada kepuasan tersendiri ketika sesuatu yang baru lahir pada masa kepemimpinannya. Program, kebijakan, atau strategi yang belum pernah ada sebelumnya bisa menjadi bukti bahwa dirinya ...

Perjalanan rindu

-(Minggu, 25 Oktober 2026)- Hari yang luar biasa. Bagaimana tidak? Selepas Subuh, ketika hari mulai terang, saya melangkahkan kaki menyusuri Teluk Mekongga. Langkah terus berlanjut melewati jalanan kota hingga tiba di Pasar Raya Mekongga. Para pedagang tampak telah bersiap dengan barang dagangan masing-masing. Saya memasuki pasar sambil mengedarkan pandangan ke kiri dan kanan. Namun, pagi itu saya hanya menyusuri jalan utama, tanpa masuk ke gang-gang yang juga dipenuhi pedagang. Ada kehidupan yang bergerak di sana, tetapi waktu tidak memberi keleluasaan untuk menjelajah lebih jauh. Kaki terus melangkah hingga saya kembali ke titik awal perjalanan. Mungkin sekitar 30 menit waktu yang saya habiskan. Jauh lebih singkat dibandingkan rutinitas jalan pagi selama ini. Bukan karena keinginan berjalan sudah terpenuhi, melainkan karena ada jadwal yang harus ditepati. Pukul 07.30, saya mesti sudah siap di kendaraan untuk menuju ibu kota. Sebelumnya, tentu saja, sarapan pagi tak boleh dilewatka...

Menghargai waktu

-(Sabtu, 24 Oktober 2026)- Bayangkan seseorang dipanggil ke pengadilan untuk menjadi saksi dalam perkara korupsi. Dalam surat panggilan tertulis jelas bahwa ia harus hadir pukul 08.30. Karena tempat tinggalnya jauh, ia menempuh perjalanan berjam-jam dan memilih berangkat sehari sebelumnya. Ia tidak ingin terlambat memenuhi panggilan yang memiliki konsekuensi hukum jika diabaikan. Ia datang tepat waktu dan melaporkan kehadirannya kepada jaksa yang menghadirkannya sebagai saksi. Namun, waktu terus berjalan tanpa kepastian kapan ia akan diperiksa. Jadwal yang semula pagi bergeser menjadi selepas siang. Jaksa sendiri tidak dapat memastikan kapan persidangan dimulai karena semuanya bergantung pada agenda dan keputusan majelis hakim. Saya membayangkan apa yang harus ditanggung orang tersebut selama menunggu. Ia bukan orang yang tidak memiliki kesibukan. Ada pekerjaan yang ditinggalkan, tanggung jawab di institusinya yang harus tertunda, biaya perjalanan yang dikeluarkan, dan waktu yang tid...

Kepatuhan semu

-(Jumat, 23 Oktober 2026)- Bayangkan Anda memiliki seorang pemimpin yang sulit menerima masukan, cenderung otoriter, dan ingin semua keinginannya dijalankan. Ia lebih suka mendengarkan pendapat orang luar daripada masukan anak buahnya sendiri. Namun, mendengarkan bukan berarti bersedia mengubah pendirian. Pada akhirnya, ia tetap bertahan pada keinginannya semula. Masukan dari pihak luar hanya menjadi semacam pembenaran, seolah-olah ada orang lain yang menguatkan apa yang sejak awal ingin ia lakukan. Dalam situasi seperti itu, anak buah menghadapi pilihan yang tidak mudah. Membantah atau menolak keinginan pemimpin bisa dianggap sebagai pembangkangan dan mengancam posisi mereka. Memberikan masukan pun terasa sia-sia karena keputusan sudah hampir pasti ditentukan. Maka, mereka memilih jalan yang tampaknya paling aman: menuruti semua keinginan pemimpin. Tetapi, kepatuhan itu tidak selalu lahir dari keyakinan. Ada yang menjalankan perintah dengan setengah hati, sekadarnya saja, tanpa kesung...

Syahwat politik

-(Kamis, 22 Oktober 2026)- Saya kira ada orang-orang yang memanfaatkan isu ijazah dan pemakzulan untuk kesenangan pribadi. Mereka terus berbicara, tampil di media, dan memperoleh panggung dari isu yang seolah tidak pernah selesai. Boleh jadi, bagi sebagian dari mereka, persoalannya bukan lagi semata-mata kebenaran atau kepentingan publik, melainkan juga kepuasan diri karena terus mendapat perhatian. Namun, mereka tentu tidak bisa melakukan itu sendirian. Ada media yang menyediakan panggung, mengundang mereka berulang kali, dan memberi ruang bagi pandangan mereka untuk terus beredar. Di sinilah saya melihat kemungkinan hubungan mutualisme. Media memperoleh penonton, sementara para narasumber mendapatkan sorotan, popularitas, dan kesempatan untuk terus menyuarakan kepentingannya. Keduanya saling membutuhkan, meskipun kepentingan yang bekerja di baliknya belum tentu sama dengan kepentingan masyarakat luas. Persoalannya menjadi lebih menarik ketika sebagian dari mereka mengatasnamakan masy...

Scrolling medsos

 -(Rabu, 21 Oktober 2026)- Ada yang mengatakan bahwa scrolling media sosial, seperti TikTok, membuat otak menjadi lemot atau menyebabkan kita mengalami kelebihan informasi. Saya memahami kekhawatiran itu, tetapi saya melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Bagi saya, scrolling terkadang mirip dengan berjalan-jalan ke tempat yang belum pernah kita kunjungi. Kita melihat hal-hal baru, menyaksikan kehidupan orang lain, menemukan kejadian unik, atau sekadar menikmati sesuatu yang mengundang tawa. Kita tidak selalu datang dengan tujuan tertentu. Kadang-kadang, kita hanya ingin melihat dan menikmati apa yang ada di hadapan kita. Ketika berjalan-jalan, kita tidak merasa wajib mengingat semua yang kita lihat, apalagi mengambil pelajaran dari setiap pengalaman. Kita bisa melewati sebuah toko tanpa mengingat namanya atau menyaksikan pemandangan indah yang beberapa jam kemudian terlupakan. Namun, apakah itu berarti perjalanan kita sia-sia? Saya kira tidak. Pengalaman tidak selalu harus me...

Silent majority

-(Selasa, 20 Oktober 2026)- Dalam politik, suara yang paling nyaring belum tentu mewakili mayoritas. Perdebatan di media sosial bisa menciptakan kesan bahwa opini publik telah mengarah ke satu sisi, padahal orang-orang yang tidak ikut berkomentar mungkin memiliki penilaian berbeda. Mereka tidak merasa perlu berdebat, tidak sibuk membela tokoh pujaannya, tetapi tetap menyimpan pilihan. Sikap itu baru terlihat ketika mereka datang ke bilik suara. Fenomena ini dikenal sebagai silent majority . Dalam politik Indonesia, istilah tersebut kerap dikaitkan dengan basis pendukung Joko Widodo. Pengalaman Pilpres 2019 dan 2024 memperlihatkan bahwa ramainya perdebatan di ruang publik tidak selalu sejalan dengan hasil pemungutan suara. Dukungan kepada Jokowi, termasuk dari kalangan akar rumput dan mereka yang memiliki kedekatan emosional dengannya, menjadi salah satu faktor yang ikut membentuk peta elektoral. Tentu, kemenangan dalam pemilu tidak bisa dijelaskan hanya dengan keberadaan silent majorit...

Masyarakat sipil

-(Senin, 19 Oktober 2026)-  Saya sering mendengar tokoh, aktivis, pengamat, atau narasumber di televisi dan podcast menggunakan istilah masyarakat sipil ketika mengkritik kebijakan pemerintah. Istilah itu seolah memberikan bobot tambahan pada pendapat yang disampaikan. Kritik yang semula merupakan pandangan seseorang atau kelompok tertentu terdengar seperti suara masyarakat yang lebih luas. Ada semacam legitimasi yang melekat pada istilah tersebut, seakan-akan siapa pun yang menggunakannya sedang berdiri mewakili kepentingan publik. Saya tidak mempersoalkan keberadaan masyarakat sipil. Dalam demokrasi, organisasi warga, lembaga bantuan hukum, serikat pekerja, kelompok lingkungan, dan berbagai komunitas independen memang memiliki peran penting dalam mengawasi kekuasaan dan memperjuangkan kepentingan bersama. Yang mengusik saya adalah ketika identitas sebagai bagian dari masyarakat sipil seolah-olah cukup untuk memberikan kewenangan berbicara atas nama masyarakat. Padahal, ada perbe...

Harga diri

-(Minggu, 18 Oktober 2026)- Akhirnya, saya menghapus akun medsos itu dari ponsel. Ada dorongan yang mungkin terdengar egois, tetapi justru menjadi alasan kuat di balik keputusan itu: saya merasa lebih tinggi daripada orang-orang yang selama ini postingannya muncul di timeline saya. Saya tidak mengenal mereka. Mereka juga tidak mengenal saya. Namun, saya menghabiskan waktu membaca pendapat, perdebatan, pameran pencapaian, dan berbagai pernyataan orang-orang yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan kehidupan saya. Sebagian terasa seperti bualan, sebagian lainnya tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar saya butuhkan. Pada satu titik, muncul pertanyaan sederhana: mengapa saya mesti membaca semua itu? Pertanyaan tersebut menyentuh harga diri saya. Mengapa saya memberikan perhatian kepada orang-orang yang tidak saya kenal, yang kehidupannya tidak berkaitan dengan kehidupan saya, dan yang ucapannya bahkan sering tidak saya anggap penting? Saya menyadari bahwa saya memiliki kehidupan ...

Diluar kendali

-(Sabtu, 17 Oktober 2026)- Bagaimanapun, rasa kecewa itu nyata. Dan dalam keadaan tertentu, kekecewaan dapat tumbuh menjadi rasa dendam. Salah satu pemicunya adalah ketika seseorang merasa dirugikan oleh sebuah keputusan atau aturan yang menurutnya tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Kita mungkin merasa tidak melakukan kesalahan. Bahkan, kita tahu betul bahwa bagian yang menjadi tanggung jawab kita telah dikerjakan dengan baik. Kita telah memberikan kontribusi secara maksimal. Tetapi kemudian muncul sebuah aturan yang menentukan bahwa ada komponen lain yang ikut memengaruhi penilaian atau keputusan. Pada titik itulah persoalan mulai terasa berbeda. Sebab, meskipun kita sudah melakukan bagian kita dengan baik, hasil akhirnya tetap dipengaruhi oleh sesuatu yang berada di luar kendali kita. Kita akhirnya ikut menanggung akibat dari kinerja yang sebenarnya bukan menjadi tanggung jawab kita. Di sinilah rasa tidak adil mulai muncul. Bayangkan seseorang sudah berlari sekuat yang ia ma...

Pikiran merdeka

-(Jumat, 16 Oktober 2026)- Dalam bukunya The 48 Laws of Power , Robert Greene memperkenalkan hukum pertama: Never Outshine the Master . Nasihat ini mengingatkan seseorang agar tidak membuat atasannya merasa tersaingi oleh kecemerlangan dirinya sendiri. Kepintaran dan kemampuan memang penting, tetapi cara memperlihatkannya juga dapat memengaruhi hubungan dengan orang yang memiliki kekuasaan. Dalam organisasi yang hierarkis, nasihat itu terasa relevan. Ada pimpinan yang senang memiliki bawahan cakap dan mandiri. Namun, ada pula yang lebih nyaman bekerja dengan orang yang patuh, mudah diarahkan, dan tidak terlalu menonjol. Bawahan yang memiliki gagasan sendiri bahkan bisa dianggap sebagai ancaman, meskipun ia tidak pernah berniat menyaingi atasannya. Keadaan seperti ini menimbulkan dilema. Haruskah seseorang menyembunyikan kemampuannya agar lebih disukai? Haruskah ia mengurangi keberanian menyampaikan pendapat demi menjaga peluang menduduki jabatan yang lebih tinggi? Tentu, kecakapan bero...

Dugaan politik

-(Kamis, 15 Oktober 2026)- Ada satu hal yang kerap mengganggu saya ketika menyaksikan diskusi politik di televisi atau YouTube. Sejumlah orang berbicara panjang lebar tentang apa yang sedang dipikirkan seorang tokoh, strategi yang tengah disiapkannya, hingga motif tersembunyi di balik keputusannya. Mereka berbicara dengan penuh keyakinan, seolah-olah mengetahui apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Padahal, mereka mungkin hanya mengamati gestur, membaca pemberitaan, menghubungkan sejumlah peristiwa, lalu menyusun dugaan. Anehnya, penjelasan semacam itu sering diterima penonton sebagai informasi yang dapat dipercaya. Persoalannya bukan apakah pengamat boleh membuat dugaan. Persoalannya adalah ketika dugaan disampaikan sedemikian rupa sehingga kehilangan batasnya sebagai dugaan. Ambil contoh pembicaraan tentang langkah politik Jokowi. Setelah sebuah pertemuan atau keputusan terjadi, pengamat menghubungkannya dengan kepentingan tertentu. Ada yang menyebutnya manuver, strategi jangka p...

Jalan ketenteraman

-(Rabu, 14 Oktober 2026)- Pagi itu, saya membaca terjemahan Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 28. Ada satu pesan yang terasa begitu dekat dengan kehidupan manusia: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Manusia menghabiskan banyak waktu untuk mencari ketenteraman. Kita bekerja keras untuk memperoleh penghasilan lebih baik, mengejar jabatan, membeli barang yang diinginkan, atau berharap mendapat pengakuan dari orang lain. Semua itu wajar. Masalahnya, kebahagiaan yang datang setelah satu keinginan terpenuhi sering kali tidak bertahan lama. Setelah terbiasa, kita mulai menginginkan hal lain. Begitu seterusnya. Tanpa sadar, ketenteraman seolah-olah selalu berada di tempat yang belum kita capai. Kebiasaan itu semakin kuat ketika kehidupan orang lain hadir setiap saat melalui media sosial. Kita melihat pencapaian, perjalanan, rumah, penampilan, dan kebahagiaan yang mereka tampilkan. Lalu, kita membandingkannya dengan kehidupan sendiri. Apa yang sudah dimiliki terasa kuran...

Belanja perjalanan

-(Selasa, 13 Oktober 2026)- Surat yang diberi label rahasia itu nyatanya beredar di media sosial dan dikutip oleh sejumlah media. Artinya, surat tersebut sudah bukan rahasia lagi. Lagi pula, mengapa sebuah surat perlu diberi label rahasia jika isinya justru ditujukan kepada seluruh kementerian dan lembaga (K/L)? Namun, sudahlah. Tidak perlu memperdebatkan sifat kerahasiaan surat itu. Anggap saja ada kekeliruan dalam proses penyusunannya: semula dirancang sebagai surat rahasia, tetapi kemudian pimpinan memutuskan lain. Toh, kebijakan yang disampaikan di dalamnya memang layak diketahui publik agar masyarakat memahami situasi dan kondisi APBN menjelang akhir tahun. Karena itu, saya ingin beralih pada salah satu poin penting dalam surat tersebut, yakni pemotongan atau pemblokiran pagu belanja perjalanan dinas sebesar 30 persen dari sisa pagu yang tersedia saat ini. Menurut saya, langkah ini bagus dan tepat. Di tengah kebutuhan menjaga kesehatan APBN, belanja perjalanan dinas memang patut d...

Asap Kalimantan

-(Senin, 12 Oktober 2026)- Publik tampaknya mulai lelah dengan polemik ijazah dan pemakzulan. Perhatian media kembali tertuju pada persoalan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat: kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah, terutama di Kalimantan. Berita itu membuat saya prihatin. Saya pernah tinggal di beberapa daerah di Kalimantan. Saya mengenal masyarakatnya, menyimpan kenangan tentang daerah-daerahnya, dan punya kesukaan tersendiri pada kulinernya. Karena itu, sulit bagi saya untuk tidak ikut merasakan kegelisahan ketika membayangkan mereka harus menjalani hari-hari di tengah udara yang tercemar asap. Bernapas, sesuatu yang seharusnya berlangsung begitu alamiah, justru menjadi ancaman bagi kesehatan. Saya membayangkan bagaimana rasanya membuka jendela rumah dan mendapati udara di luar tak layak dihirup. Bagaimana anak-anak berangkat sekolah, orang-orang bekerja, dan warga menjalani rutinitas ketika setiap tarikan ...

Beda generasi

-(Minggu, 11 Oktober 2026)- Ada hal yang kadang sulit dipahami ketika kita berhadapan dengan generasi yang berbeda. Bagi generasi senior, membaca komentar atau pendapat generasi yang lebih muda terkadang terasa janggal. Kita kemudian mencoba membandingkannya dengan pengalaman yang pernah kita jalani. Dalam ingatan kita, hal semacam itu dulu tidak pernah menjadi persoalan. Lalu muncul pertanyaan: mengapa sesuatu yang bagi generasi kita terasa biasa saja, sekarang justru dianggap sebagai masalah oleh generasi setelah kita? Mungkin di situlah letak apa yang sering disebut sebagai gap generasi. Bukan semata-mata karena perbedaan usia, tetapi karena setiap generasi tumbuh dengan pengalaman, lingkungan sosial, dan ukuran kewajaran yang berbeda. Apa yang dianggap wajar oleh satu generasi belum tentu memiliki makna yang sama bagi generasi lainnya. Saya kira perbedaan itu salah satunya terlihat dari cara memandang pekerjaan. Bagi generasi sebelumnya, pekerjaan sering kali ditempatkan sebagai b...

Intrik elit

-(Sabtu, 10 Oktober 2026)- Berdasarkan pengamatan dan hipotesis saya, nampaknya saya cenderung setuju dengan sebuah postingan di media sosial yang mengatakan bahwa hati Presiden terhadap tokoh itu sebenarnya tidak berubah. Dan tokoh tersebut, menurut saya, kemungkinan juga tahu persis mengenai hal itu. Mungkin Presiden hanya sedang menjaga hati beberapa seniornya yang menginginkan keturunannya menjadi orang nomor dua. Dalam politik, menjaga perasaan kadang memang menjadi bagian dari cara menjaga keseimbangan. Tidak semua hal harus segera dijawab dengan keputusan. Ada kalanya sesuatu dibiarkan mengambang, bukan karena belum diketahui arahnya, tetapi karena ada kepentingan lain yang sedang dijaga. Karena itu, saya juga punya keyakinan bahwa sampai berakhirnya masa pemerintahan ini, pasangan Presiden dan Wakil Presiden tidak akan berubah. Kalaupun belakangan muncul intrik dan upaya mempermasalahkan syarat pencalonan, saya melihatnya lebih sebagai bumbu politik. Penyedap berita, pemanis pe...

Sok penting

-(Jumat, 9 Oktober 2026)- “Ga usah sok penting di tempat kerja.” Begitu bunyi ungkapan yang beberapa kali mampir di timeline saya. Kalimatnya pendek, tetapi entah mengapa cukup mengusik pikiran. Ada sesuatu yang terasa pahit di dalamnya, seolah-olah seseorang sedang mengingatkan kita agar jangan terlalu percaya bahwa keberadaan kita sedemikian penting bagi sebuah organisasi. Kalau boleh menambahkan, mungkin ungkapan itu bisa dibuat sedikit lebih panjang: bahkan ketika kita sudah berprestasi, jangan terlalu berharap akan selalu ada reward. Sebab organisasi, pada dasarnya, akan lebih dulu memikirkan kepentingannya sendiri. Kalaupun kemudian organisasi juga memikirkan kepentingan personelnya, tentu itu bagian dari kepentingan organisasi untuk menjaga agar pekerjaan tetap berjalan. Mungkin terdengar sinis. Tetapi barangkali ungkapan semacam itu lahir dari pengalaman. Ada orang yang sudah bekerja keras, memberikan kontribusi, mencapai target, bahkan berkali-kali menunjukkan prestasi, tetapi...

Sebuah keisengan

-(Kamis, 8 Oktober 2026)- Bagaimana kalau sebenarnya tuntutan kepada lembaga tinggi itu berawal dari sebuah keisengan? Dari sesuatu yang pada mulanya tidak dimaksudkan sebagai perkara serius, tetapi kemudian berkembang jauh melampaui dugaan orang yang memulainya. Bisa jadi, ia sebenarnya hanya berpura-pura mempermasalahkan soal ijazah itu. Sebagai seorang intelektual, ia tentu memahami bagaimana sistem pendidikan di sejumlah negara bekerja. Ia juga mestinya memahami bahwa orang yang dipersoalkan telah memiliki gelar sarjana. Jadi, barangkali persoalannya bukan pada ketidaktahuan. Justru karena memahami hukum, ia tahu bahwa hukum memiliki bahasa sendiri. Ada rumusan, definisi, frasa, dan celah yang kadang memungkinkan sebuah persoalan dipersoalkan dari sudut yang berbeda. Dan celah semacam itu bisa saja digunakan untuk bermain-main. Masalahnya, permainan seperti itu kadang memiliki konsekuensi yang tidak lagi bisa dikendalikan oleh orang yang memulainya. Ketika lembaga tinggi negara men...

Ijazah SMA

-(Rabu, 7 Oktober 2026)- Semalam Mahkamah Konstitusi memutus perkara terkait ijazah itu, anda sudah tahu. Keputusannya sudah bisa dibaca di berbagai media. Seperti biasa, media sosial pun segera riuh. Menariknya, setelah putusan dibacakan, muncul kesan bahwa semua pihak sama-sama senang dan sama-sama merasa menang. Entahlah. Mungkin itu cara paling sederhana untuk menghibur diri setelah sebuah perdebatan panjang. Tetapi bagi saya, persoalannya justru belum selesai. Terutama pada bagian yang menyangkut ketentuan ijazah SMA. Kalau seseorang dinyatakan tidak terbukti memiliki ijazah SMA, lalu pada saat yang sama ia sudah memiliki ijazah sarjana, pertanyaan yang muncul bukan lagi semata-mata tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Kita perlu melihat kembali apakah aturan yang digunakan memang masih cukup untuk menjawab kenyataan sistem pendidikan yang berkembang. Tidak butuh waktu lama setelah putusan itu, perdebatan baru bermunculan. Salah satunya menyangkut mereka yang menempuh pe...

Batas kepantasan

-(Selasa, 6 Oktober 2026)- Perdebatan di media sosial rupanya memang tidak pernah kehabisan bahan. Bukan hanya soal politik, kebijakan, atau perilaku pejabat publik. Bahkan urusan dalil agama pun bisa menjadi arena perdebatan yang panjang. Satu pendapat berhadapan dengan pendapat lain, masing-masing membawa dalil, rujukan, dan keyakinannya sendiri. Belakangan, yang kembali ramai adalah soal musik. Sebenarnya ini bukan persoalan baru. Sejak dulu, hukum musik telah menjadi perdebatan di kalangan ulama. Ada yang mengharamkan, ada yang membolehkan dengan batasan tertentu, dan ada pula yang membedakan antara jenis musik, lirik, suasana, serta konteks penggunaannya. Sampai hari ini pun, perbedaan itu belum menemukan satu kesepakatan tunggal. Perdebatan lama tersebut kemudian seperti mendapat bahan bakar baru setelah beredar potongan video seorang pendakwah yang terlihat sedang menyaksikan konser dan menikmati sebuah lagu. Bagi sebagian orang yang selama ini mengenalnya sebagai pendakwah dan ...