Postingan

Pilihan Hari Ini

Gerimis pergi

-(Selasa, 11 November 2025)- Gerimis sore masih saja turun saat penumpang diminta untuk boarding. Karena itulah, tak ada penumpang yang diminta naik lewat pintu belakang. Maka, diatur agar penumpang dengan nomor kursi 20 ke atas diminta naik lebih dahulu. Saya pun sabar menunggu giliran untuk naik pesawat, sebab nomor kursi saya tergolong kecil. Artinya, tak selalu nomor urut kecil diberikan kesempatan lebih dahulu. Padahal mungkin, sebagian dari kita memilih nomor kecil dengan harapan akan dipanggil lebih cepat. Seperti biasa, selalu ada perasaan bahwa sesuatu tertinggal setiap kali akan pergi. Entahlah apa benda atau sesuatu itu, sebab saya belum juga menyadari apa yang sebenarnya tertinggal. Bisa jadi bukan benda, melainkan suatu perasaan. Perasaan yang entah mengapa selalu muncul setiap kali harus meninggalkan sesuatu. Mungkin memang sudah kodratnya begitu: bahwa setiap perpisahan membawa sejumput kehilangan yang tak dapat dijelaskan. Mungkin pula suasana sore dengan gerimis it...

Jejak program

-(Senin, 16 Februari 2026)- Dalam perjalanan pulang menuju kampung halaman, saya melewati desa demi desa. Jalan yang sama, langit yang serupa, tetapi pada beberapa titik saya menangkap pemandangan baru: berdirinya dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Bangunan-bangunan itu hadir seperti penanda zaman, yang sarat makna. Saya tahu, dan kita semua tahu, mengapa SPPG didirikan. Ia adalah bagian dari program besar pemerintah: makan bergizi gratis bagi anak-anak sekolah. Di titik-titik lain perjalanan, terlihat pula proses pembangunan gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Ini pun bukan proyek biasa, melainkan program prioritas pemerintahan saat ini. Dua program, dua wujud fisik, satu pesan: negara sedang bekerja hingga ke pelosok. Sebagaimana hampir semua kebijakan publik berskala besar, pro dan kontra pun mengiringi langkahnya. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah banyak disorot. KDMP juga tak luput dari perdebatan, terutama terkait implikasinya terhadap alokasi dana desa....

Jalur kenangan

-(Minggu, 15 Februari 2026)- Setelah sekian lama tak menaiki kereta yang melintasi jalur selatan, hari itu saya kembali menempuh lintasan itu. Jalur kenangan, barangkali. Dahulu, selama beberapa tahun, saya melewatinya hampir setiap pekan. Ada jejak kebiasaan yang terasa samar, seperti ingatan lama yang tiba-tiba disentuh ulang. Masih musim hujan. Maka pemandangan di kiri dan kanan rel didominasi warna hijau yang berlimpah. Sawah terbentang, pemukiman desa menyelip di antaranya, rerumputan dan pepohonan tampak rimbun—seolah alam sedang berpidato lirih: oh nikmat air hujan mana lagi yang hendak kami dustakan . Hijau yang subur, segar, dan nyaris berlebihan. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar tujuh jam. Sejak awal saya sudah berprasangka: kegabutan akan segera menyerang. Duduk sendiri di kursi dekat jendela, dalam suasana kereta yang cenderung seragam, selama berjam-jam. Kita saja kerap tak sabar menunggu lampu merah yang hanya beberapa menit, apalagi duduk diam selama tujuh jam p...

Bulan madu

-(Sabtu, 14 Februari 2026)- Sebenarnya saya tidak berniat menuliskan pengalaman ini. Ada sesuatu yang sejak awal membuat kami memilih menyimpannya sebagai cerita lisan—dibagikan pelan-pelan kepada keluarga dan sahabat terdekat saja. Kami khawatir, kisah ini justru menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan kecemburuan, bagi orang lain. Namun waktu berjalan. Usia bertambah. Ingatan, pelan tapi pasti, mulai menunjukkan tanda-tanda rapuh. Saya tidak ingin sebuah pengalaman berharga—yang kelak mungkin hanya tersisa sebagai serpihan kenangan—ikut menghilang bersama memudarnya daya ingat. Maka tulisan ini saya hadirkan, sebagai jejak. Sebagai pengingat. Sebagai bentuk syukur. Ini adalah sepotong kisah kami ketika menunaikan ibadah haji tahun 2025 lalu. Sebuah kisah yang tidak—atau belum—kami masukkan ke dalam buku yang telah kami terbitkan. Setelah menempuh penerbangan yang cukup lama dan bersambung dengan transportasi bus, kami tiba di Makkah pada malam hari dan langsung menuju hotel yang te...

Simulasi batin

-(Jumat, 13 Februari 2026)- Pukul 04.50 saya duduk di dalam kereta yang berhenti di Stasiun Kutoarjo. Dari balik kaca jendela—yang sebenarnya bukan jendela dalam pengertian biasa, karena tak bisa dibuka dan hanya boleh dipecahkan dalam keadaan darurat—terbaca jelas sebuah tulisan: Kutoarjo +16M. Entah kenapa, tulisan itu terasa seperti penanda: bukan sekadar jarak, melainkan jeda. Beberapa saat sebelum kereta berhenti, saya berada dalam posisi duduk, menunaikan salat Subuh. Beberapa jam sebelumnya—bahkan sebelum saya naik kereta—kepala saya sudah sibuk menyusun rencana, membuat bayangan, dan memutar simulasi tentang satu hal yang tampaknya sepele: bagaimana saya akan berwudhu sebelum sholat subuh itu. Begini masalahnya. Dalam perjalanan tiga hari itu, saya mengenakan sepatu dan tidak membawa sandal cadangan. Lalu, bagaimana nanti ketika harus berwudhu di kereta? Orang mungkin akan dengan ringan berkata, “Tayamum saja, kan sedang di perjalanan.” Masuk akal. Apalagi di dalam kereta. ...

Membaca pola

-(Kamis, 12 Februari 2026)- Perilaku, keputusan, dan tindakan—termasuk kebijakan—tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia berakar dari pendidikan, latar belakang, lingkungan, relasi, serta cara berpikir yang lama tertanam dalam diri seseorang. Jika kita menyadari hal ini dan mampu membaca polanya, maka memahami seseorang menjadi jauh lebih mudah. Bahkan, dalam situasi tertentu, kita bisa mengantisipasi langkahnya, menghindarinya, atau—dalam arti tertentu—mengalahkannya. Kesadaran inilah yang membuat pembacaan pola menjadi penting dalam konteks kepemimpinan dan kebijakan negara. Ketika pola kebijakan seorang pemimpin bisa dikenali, kita tidak lagi sepenuhnya berada dalam posisi reaktif. Kita bisa mencari celah untuk melawan, atau setidaknya membangun perlindungan diri dari dampak buruk yang mungkin ditimbulkannya. Membaca pola bukan soal menebak-nebak, melainkan usaha memahami konsistensi tindakan yang berulang. Dalam lingkup yang lebih kecil, misalnya di sebuah organisasi, logika yang s...

Mendengar manajer

-(Rabu, 11 Februari 2026)- Ketika bertemu dengan kolega yang berada pada jabatan setara, sering kali percakapan mengalir ke satu muara yang sama: keluh kesah tentang kinerja anggota tim. Ragamnya pun nyaris seragam. Ada yang mengeluhkan perilaku tidak disiplin, minimnya inisiatif, hingga sikap yang terlalu kaku dalam bekerja dan menyikapi ketentuan, yang pada akhirnya justru memantik kegaduhan di lapangan. Jika ditelisik lebih dalam, persoalan ini kerap berakar pada satu hal mendasar: ekspektasi. Ada harapan yang dibangun, ada gambaran ideal tentang bagaimana anggota tim seharusnya bersikap dan bekerja. Ketika realitas tidak sejalan dengan bayangan itu, muncullah rasa kecewa. Dan dari kekecewaan itulah, keluh kesah menemukan suaranya. Namun, memberi solusi atas keluhan semacam ini bukan perkara sederhana. Apa yang berhasil kita lakukan di satu tempat, belum tentu relevan di tempat lain. Lingkungan kerja, budaya organisasi, hingga latar belakang personal tiap individu membentuk konte...

Generalisasi prematur

-(Selasa, 10 Februari 2026)- Bagaimana mungkin dua atau tiga kasus—yang bahkan melibatkan tak sampai sepuluh orang—kemudian dianggap mewakili kondisi keseluruhan? Padahal populasi yang dimaksud mencakup puluhan ribu personel. Di titik ini, logika sederhana pun seharusnya cukup untuk mengingatkan kita: ada jarak yang terlampau jauh antara fakta terbatas dan kesimpulan menyeluruh. Maka, meski pernyataan itu disampaikan oleh seseorang dengan latar akademis, tetap saja sulit menafikan kesan bahwa ia lahir lebih dari rasa geram ketimbang dari kejernihan nalar. Yang lebih mencemaskan, segelintir peristiwa itu lalu diperlakukan seolah cermin utuh dari perilaku seluruh populasi. Dari sudut pandang ilmiah, sampelnya jelas tidak memadai; dari sudut pandang kemanusiaan, pendekatan ini terasa tergesa dan melukai. Generalisasi semacam ini bukan hanya keliru secara metodologis, tetapi juga menyisakan rasa tidak adil bagi mereka yang setiap hari bekerja dengan integritas, namun tiba-tiba harus mena...

Target sunyi

-(Senin, 9 Februari 2026)- Sudah berbulan-bulan, bahkan nyaris setahun, saya berupaya keras untuk menulis setiap hari. Selain sekadar meniru apa yang dilakukan Pak Dahlan Iskan, menulis harian bagi saya adalah ruang untuk menuangkan pikiran, keluh kesah, dan sesekali sekadar coretan curahan perasaan. Harapannya sederhana: agar semuanya tidak menumpuk di kepala dan berubah menjadi beban yang menyesakkan. Menulis, dalam bayangan saya, adalah katup pelepas stres. Meski ironisnya, bagi sebagian orang, menulis justru menjadi sumber stres itu sendiri. Sebuah paradoks yang sejak awal saya sadari. Barangkali paradoks itu pelan-pelan menjelma nyata dalam diri saya. Alih-alih menjadi pelepas, menulis setiap hari berubah menjadi target yang mengejar. Saya mulai stres memikirkan tema: hari ini menulis apa lagi? Rasanya hampir semua hal sudah saya tuliskan. Apa pun yang sempat nyantol di kepala, pernah saya tuangkan. Seolah-olah gudang ide itu mulai kosong, atau setidaknya tampak kosong di mata s...

Dunia kecil

-(Minggu, 8 Februari 2026)- Guo Jing berkata, “Dunia ini luas. Aku tak akan kehilanganmu lagi. Tidak akan.” Huang Rong menjawab, “Jika sungguh mencari, sebenarnya dunia ini kecil.” ( Film Legends of The Condor Heroes: The Gallants ) Kalimat-kalimat itu keluar dari mulut dua tokoh dalam film tersebut, pada saat mereka akhirnya bertemu kembali setelah lama berpisah. Sebuah pertemuan yang mengharukan, mengingat betapa lama rindu dipendam, betapa dalam rasa saling kehilangan, dan tentu saja—betapa kuat cinta yang mereka jaga. Apa yang bisa kita interpretasikan dari percakapan dua insan itu? Boleh jadi Guo Jing beranggapan bahwa ia kehilangan orang yang dicintainya karena dunia yang terlalu luas. Dunia yang memungkinkan manusia saling menjauh, tersesat, dan tak saling menemukan. Maka ucapannya terdengar seperti janji sekaligus tekad: ia tak ingin lagi kalah oleh jarak dan keadaan, tak ingin lagi kehilangan Huang Rong. Namun justru respons Huang Rong yang terasa menohok dan reflektif. Sejat...

Benturan narasi

-(Sabtu, 7 Februari 2026)- Berdasarkan berbagai postingan dan percakapan di satu platform media sosial yang saya ikuti, saya mulai menangkap sebuah pola. Entah dirancang secara sadar atau tumbuh secara alamiah, ada upaya untuk membenturkan satu kebijakan pemerintah dengan kebijakan lainnya—yang dianggap lebih penting namun terpinggirkan. Contoh paling nyata adalah bagaimana kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) diposisikan berhadap-hadapan dengan isu gaji guru honorer atau non-ASN yang hingga kini masih jauh dari kata layak. Narasi ini mengalir deras, bergaung, lalu beranak-pinak menjadi meme, video satire, dan unggahan bernada getir tentang nasib para guru non-ASN. Pertanyaannya pun dikemas sederhana namun menghantam: alih-alih mengalokasikan anggaran besar untuk MBG, mengapa tidak dialihkan saja untuk meningkatkan kesejahteraan guru non-ASN? Argumen turunannya tak kalah kuat: pendidikan gratis dan berkualitas dinilai jauh lebih penting daripada program makan gratis. Pendidikan berkua...

Kerja adaptif

-(Jumat, 6 Februari 2026)- Saya mencoba membuat sebuah kajian sederhana, yakni memetakan jenis pekerjaan yang ada di kantor. Pertanyaan dasarnya mungkin terdengar biasa: bagaimana pengelompokannya? Namun sejak awal, kajian ini saya letakkan pada satu pijakan yang tak terhindarkan, yaitu perkembangan AI yang kian cepat dan nyata hadir dalam keseharian kita. Kenyataannya, hari ini sudah ada begitu banyak aplikasi berbasis teknologi AI. Aplikasi-aplikasi ini secara langsung telah memudahkan manusia dalam bekerja. Dari situ, saya mulai berpikir: jika pekerjaan kita bisa dipermudah oleh AI, bukankah itu berarti sebagian tugas dan pekerjaan di kantor juga berpotensi untuk dikerjakan—atau setidaknya dibantu—oleh AI? Berangkat dari pemikiran tersebut, saya meminta tim saya untuk menuliskan dan merumuskan secara rinci tugas-tugas yang mereka kerjakan. Bukan jabatan, bukan posisi struktural, melainkan pekerjaan konkret yang benar-benar mereka lakukan sehari-hari. Berdasarkan daftar tugas itu...

Menang elektoral

-(Kamis, 5 Februari 2026)- Apa sebenarnya yang perlu dilakukan seorang tokoh politik agar mampu terus memenangkan kontestasi elektoral? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar. Setidaknya, ia harus selalu hadir di benak siapa pun yang berniat menapaki jalan politik. Politik bukan sekadar soal niat baik atau idealisme luhur; ia adalah medan panjang yang menuntut strategi, ketekunan, dan kesadaran diri. Lalu, adakah resep yang benar-benar ampuh untuk membuat masyarakat terus menjatuhkan pilihan? Dari pengamatan orang luar—yang tak pernah benar-benar berkecimpung langsung dalam dunia politik—ada beberapa kunci yang tampak paling relevan. Pertama, soal dana. Ini kerap disalahpahami sebagai pintu masuk politik uang. Padahal, maknanya jauh lebih sederhana sekaligus tak terelakkan: setiap kerja politik membutuhkan ongkos. Ongkos untuk bergerak, untuk hadir, untuk menjumpai. Biaya transportasi agar seorang tokoh bisa menyapa masyarakat secara langsung, hingga ha...

Gaung maya

-(Rabu, 4 Februari 2026)- Kadang kita dibuat bingung oleh media sosial. Informasi yang kita peroleh dan kita yakini sebagai sesuatu yang viral dan tengah terjadi di masyarakat, rupanya acapkali berbeda dengan realitas di dunia nyata. Barangkali kita menganggap tuduhan-tuduhan atau postingan yang lalu-lalang tentang seseorang sebagai akhir dari orang itu. Namun ternyata, apa yang terjadi di masyarakat sering kali berbeda. Betapa orang tersebut justru masih memperoleh simpati dan dukungan dari banyak pihak. Pertanyaan yang menggelitik kemudian muncul: apa sebenarnya yang terjadi pada orang-orang dengan media sosialnya itu? Apakah media sosial telah memanipulasi diri kita, sehingga kita kerap menemukan kenyataan yang berbeda antara dunia maya dan dunia nyata? Atau barangkali jumlah manusia memang sangatlah banyak, sementara hanya sebagian kecil saja yang aktif di media sosial. Pada akhirnya, betapapun keras dan riuhnya suara di media sosial, tetap saja ia kalah jumlah dengan mereka yang h...

Kodrat gelap

-(Selasa, 3 Februari 2026)- Mungkin pandangan ini terdengar terlalu ekstrem. Barangkali pula ia lahir dari pengaruh film-film thriller kriminal yang gemar menguliti sisi tergelap manusia. Bisa juga dari bacaan sejarah tentang perang, pembantaian, dan kekejaman yang berulang tanpa pernah benar-benar usai. Atau dari percakapan di media sosial hari ini yang penuh emosi, kemarahan, dan penghakiman. Semua itu, disadari atau tidak, perlahan menuntun saya pada satu kesimpulan yang muram: manusia akan selalu menjadi sumber kekacauan. Tentu tidak semua manusia demikian. Namun hampir selalu ada, di antara kita, mereka yang menyimpan hasrat keji—entah atas nama egoisme, dendam, amarah, kecemburuan, keserakahan, atau sekadar ketidakmampuan mengendalikan diri. Sifat-sifat itu seperti bara kecil: tampak sepele, tetapi cukup satu hembusan angin untuk menjelma api yang membakar sekelilingnya. Banyak film telah menggambarkan konsekuensi dari sisi gelap ini. Kerusakan demi kerusakan ditampilkan bukan se...