Postingan

Pilihan Hari Ini

Gerimis pergi

-(Selasa, 11 November 2025)- Gerimis sore masih saja turun saat penumpang diminta untuk boarding. Karena itulah, tak ada penumpang yang diminta naik lewat pintu belakang. Maka, diatur agar penumpang dengan nomor kursi 20 ke atas diminta naik lebih dahulu. Saya pun sabar menunggu giliran untuk naik pesawat, sebab nomor kursi saya tergolong kecil. Artinya, tak selalu nomor urut kecil diberikan kesempatan lebih dahulu. Padahal mungkin, sebagian dari kita memilih nomor kecil dengan harapan akan dipanggil lebih cepat. Seperti biasa, selalu ada perasaan bahwa sesuatu tertinggal setiap kali akan pergi. Entahlah apa benda atau sesuatu itu, sebab saya belum juga menyadari apa yang sebenarnya tertinggal. Bisa jadi bukan benda, melainkan suatu perasaan. Perasaan yang entah mengapa selalu muncul setiap kali harus meninggalkan sesuatu. Mungkin memang sudah kodratnya begitu: bahwa setiap perpisahan membawa sejumput kehilangan yang tak dapat dijelaskan. Mungkin pula suasana sore dengan gerimis it...

Belanja masalah

-(Rabu, 20 Mei 2026)- Barangkali memang demikian rumus kehidupan manusia: tidak ada kebahagiaan yang benar-benar utuh. Di balik hidup yang tampak tenang, selalu ada sesuatu yang sedang dipikul. Setiap orang memiliki masalahnya masing-masing, dengan bentuk dan kadar yang sering kali tak terlihat dari luar. Karena itu, merasa iri pada kehidupan orang lain sesungguhnya hanya lahir dari jarak pandang yang sempit. Kita melihat permukaannya, tetapi tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang mereka sembunyikan di balik senyum, jabatan, kemapanan, atau pencapaiannya. Dan agaknya, hukum itu berlaku selama manusia masih hidup. Satu persoalan selesai, persoalan lain datang menggantikan. Kadang ia datang dari luar diri: keadaan, lingkungan, tekanan sosial. Tetapi sering kali, sumber terbesar masalah justru tumbuh dari dalam diri sendiri—dari keinginan yang tak pernah selesai. Manusia memang cenderung hidup seperti sedang menaiki tangga tanpa ujung. Ketika berhasil mencapai satu anak tangga, ...

Nasib organisasi

-(Selasa, 19 Mei 2026)- Ada hal yang pelan-pelan terasa menyedihkan dalam sebuah organisasi besar: ketika orang-orang di dalamnya tidak lagi benar-benar peduli pada nasib organisasi itu sendiri. Mereka tetap hadir, tetap menjalankan tugas, tetap bergerak dari satu tempat ke tempat lain sesuai penugasan. Namun di balik semua aktivitas itu, ada sesuatu yang diam-diam menghilang—rasa memiliki. Pada titik tertentu, organisasi tidak lagi dipandang sebagai rumah bersama yang harus dijaga, melainkan sekadar ruang singgah untuk mempertahankan hidup dan karier masing-masing. Orang-orang datang, bekerja, lalu pulang dengan urusan mereka sendiri. Sementara pertanyaan tentang ke mana organisasi ini akan dibawa, apakah ia akan berkembang, tenggelam, atau hanya berjalan di tempat, perlahan diserahkan sepenuhnya kepada mereka yang duduk di pusat otoritas. Mungkin dari luar semuanya tampak baik-baik saja. Survei engagement berjalan. Instruksi dipatuhi. Target dilaksanakan. Tidak ada kegaduhan yang ...

Nasib manusia

-(Senin, 18 Mei 2026)- Pada titik tertentu, hidup membuat kita berhenti sejenak lalu bertanya: sebenarnya rencana apa yang sedang ditulis untuk diri kita? Pertanyaan itu kadang muncul bukan ketika melihat kehidupan sendiri, melainkan saat menyaksikan hidup orang lain berubah arah secara tiba-tiba. Kita mendengar kabar tentang seorang teman lama yang dulu hingga sekarang begitu aktif berdakwah, tetapi kini harus bergelut dengan sakit yang terdengar serius. Di lain waktu, ada tokoh masyarakat yang selama ini tampak tegak dan meyakinkan, mendadak seperti runtuh oleh tekanan hidup di dalam keluarganya sendiri. Kabar-kabar semacam itu sering datang seperti pintu kecil yang membuka lorong panjang menuju ingatan masa lalu. Kita mulai mengingat bagaimana mereka menjalani hidup, pilihan-pilihan yang pernah mereka ambil, juga cara mereka berdiri menghadapi dunia. Lalu tanpa sadar, pertanyaan-pertanyaan lama kembali bermunculan. Apakah hidup hari ini adalah akibat dari satu tindakan di masa la...

Menjaring ikan

-(Minggu, 17 Mei 2026)- Jalan pagi kerap membuka pemandangan yang tak terduga. Beberapa waktu lalu, saya bercerita tentang lapak BBM di depan SPBU. Kali ini, yang saya temui berbeda: seorang lelaki yang menebar jaring ikan di pinggir teluk. Bukan sekali, melainkan dua kali saya melihatnya melakukan hal yang sama, di waktu yang hampir serupa. Pemandangan itu perlahan berubah dari sekadar kebetulan menjadi semacam pola—barangkali memang itulah rutinitas paginya. Saya mengamatinya lebih lama pada pertemuan kedua. Ia berjalan menyusuri tepian air, membawa jala dan wadah sederhana untuk menampung hasil tangkapan. Gerakannya terukur: melempar jaring, menunggu, lalu menariknya kembali. Ada kesabaran yang nyaris tak terlihat, tapi terasa. Saya bahkan sempat merekamnya—sebuah fragmen kecil yang kemudian saya unggah menjadi status WhatsApp, seolah ingin membagikan ketenangan yang saya saksikan. Melihatnya, saya tak bisa tidak membayangkan kehidupan batinnya. Mungkin ia seorang yang soliter. Atau...

Sawah hijau

-(Sabtu, 16 Mei 2026)- Ketika nilai dolar menembus lebih dari Rp17.500, saya justru sedang berjalan-jalan di daerah pedesaan. Siang itu saya melihat hamparan sawah yang menghijau, padi-padi muda yang mungkin baru berusia sebulan berdiri rapat tertiup angin. Pemandangan itu terasa tenang, nyaris bertolak belakang dengan kegaduhan yang sedang diproduksi layar televisi dan media sosial tentang ancaman krisis ekonomi. Sawah yang hijau sebenarnya bukan sekadar lanskap. Ia adalah tanda kehidupan yang terus bekerja. Di balik warna hijau itu ada petani yang masih mampu membeli bibit, membayar pupuk, mengairi sawah, dan menanam kembali. Ada modal yang masih berputar. Ada keyakinan bahwa musim tanam tetap layak dijalani. Dua atau tiga bulan lagi, kemungkinan besar daerah itu akan memasuki panen raya. Dan selama petani masih menanam dengan tenang, setidaknya ada satu hal penting yang belum runtuh: keberanian masyarakat kecil untuk tetap bergerak. Saya kemudian berhenti di sebuah restoran yang ...

Wajah manusia

-(Jumat, 15 Mei 2026)- Sebagai orang yang sering bepergian, saya telah bertemu dan melihat begitu banyak wajah manusia. Anehnya, dari sekian banyak wajah itu, hampir tidak ada yang benar-benar sama. Setiap orang seperti membawa bentuknya sendiri: garis rahang yang berbeda, tatapan mata yang khas, cara tersenyum yang unik, bahkan gestur kecil yang sulit dijelaskan tetapi terasa sangat personal. Kadang saya membayangkan, dari mana semua variasi itu berasal. Mungkin dari persilangan antarmanusia selama ribuan tahun—percampuran keluarga, suku, bangsa, dan perjalanan panjang peradaban yang terus melahirkan kemungkinan-kemungkinan baru. Seolah manusia adalah hasil dari eksperimen waktu yang tidak pernah berhenti. Setiap kelahiran menghadirkan kombinasi baru yang belum pernah benar-benar ada sebelumnya. Namun yang lebih membuat saya gemetar bukanlah keragaman bentuk fisik itu, melainkan kenyataan bahwa di balik setiap wajah terdapat kehidupan yang utuh: kebutuhan, keinginan, ketakutan, amb...

Naik kereta

-(Kamis, 14 Mei 2026)- Hari itu kami naik kereta menuju kota terbesar di provinsi itu. Perjalanan dimulai dari sebuah stasiun kecil yang tampak tenang, sampai kami mengetahui bahwa penumpang di sana tidak bisa membeli tiket secara go show. Untungnya, beberapa saat sebelumnya saya sempat meminta tolong untuk dibelikan tiket lewat aplikasi—keputusan yang sebenarnya muncul begitu saja, nyaris tanpa pertimbangan panjang. Kadang hidup memang berjalan seperti itu. Ada keputusan-keputusan yang datang tanpa alasan yang benar-benar bisa dijelaskan, seolah ada dorongan halus yang meminta kita segera bertindak. Saat itu saya hanya mengikuti naluri. Baru kemudian saya sadar, keputusan kecil itu ternyata menyelamatkan perjalanan kami. Andai tiket itu tidak sempat dibeli, mungkin kami tak jadi berangkat naik kereta. Dan mungkin pula, hari yang menyenangkan itu tak pernah benar-benar terjadi. Kereta melaju sekitar dua jam. Waktu yang sebenarnya singkat, tetapi terasa panjang dalam cara yang menyen...

Hak guru

-(Rabu, 13 Mei 2026)- Saya punya hipotesis bahwa narasi pertentangan antara program makan dan nasib guru non-ASN sengaja dipanaskan. Semua orang sebetulnya bisa membaca ke mana arah isu ini dibawa. Namun karena persoalan ini sudah telanjur menyebar dan menyentuh ruang yang sensitif, pemerintah tetap perlu hadir dengan penjelasan yang jernih sekaligus langkah yang konkret. Tuntutan guru non-ASN, baik di lingkungan kementerian pendidikan maupun kementerian agama, sebenarnya sangat jelas: mereka ingin diangkat menjadi PNS. Itu tuntutan yang masuk akal. Mereka telah bekerja bertahun-tahun, mengajar di ruang-ruang kelas yang sering kali jauh dari sorotan, tetapi tetap memikul tanggung jawab yang sama besar. Di sisi lain, pemerintah tentu memiliki aturan, kebijakan, dan keterbatasan yang tidak sesederhana dibayangkan publik. Karena itu, persoalan ini semestinya tidak dibaca secara hitam-putih. Namun di balik tuntutan besar itu, ada satu persoalan yang justru terasa paling dekat dengan keh...

Kemajuan timpang

-(Selasa, 12 Mei 2026)- Dalam satu hari, saya bisa berada di empat provinsi sekaligus. Pagi masih di provinsi A. Siang terbang dan transit di provinsi B. Beberapa jam kemudian mendarat di provinsi C. Setelah itu perjalanan dilanjutkan lewat jalur darat menuju provinsi D. Apa yang dulu mungkin membutuhkan berhari-hari perjalanan, kini bisa dipadatkan menjadi hitungan jam. Di tengah perjalanan seperti itu, sering muncul rasa takjub yang sulit dijelaskan. Betapa jauh manusia telah melangkah dalam menaklukkan persoalan transportasi. Jarak yang dulu terasa seperti dinding besar, sekarang tinggal garis tipis di layar ponsel dan jadwal keberangkatan. Bandara, pesawat, jalan tol, sistem navigasi—semuanya seperti bukti bahwa manusia tidak pernah berhenti mencari cara agar hidup menjadi lebih cepat, lebih mudah, lebih efisien. Namun setiap kali rasa kagum itu muncul, selalu ada pertanyaan lain yang diam-diam mengikuti di belakangnya. Kemajuan sebesar ini sebenarnya milik siapa? Sebab di saa...

Officially, dr. Wau

-(Senin, 11 Mei 2026)- Pada akhirnya, kami sampai juga di titik itu: sumpah dokter. Sejak pagi ia sudah dirias. Wajahnya tampak bahagia, meski saya tahu hari itu bukan sekadar acara seremonial. Ada perjalanan panjang yang sedang diringkas dalam beberapa jam. Dan seperti banyak peristiwa penting dalam hidup, semuanya tampak sederhana di permukaan, padahal di belakangnya tersimpan bertahun-tahun kelelahan, kecemasan, dan ketekunan yang nyaris tidak terlihat. Hari itu ada 75 dokter yang disumpah, dan ia menjadi salah satunya. Kami bersyukur ia mampu menuntaskan pendidikan itu tepat waktu. Rasa syukur itu terasa semakin besar ketika mengingat bahwa saat pertama masuk kuliah, jumlah mahasiswa seangkatannya sekitar 200 orang. Artinya: ada sebagian besar teman-temannya yang masih terus berjuang.  Karena itu, pagi-pagi kami sudah berada di kampus untuk mendampinginya. Kami datang bukan hanya sebagai keluarga, melainkan sebagai saksi dari sebuah perjalanan yang perlahan membentuk dirinya. D...

Menemukan ide

-(Minggu, 10 Mei 2026)- Beberapa menit yang terasa panjang saya habiskan dalam diam. Duduk, berdiri, lalu berbaring—seolah posisi tubuh bisa menukar kebuntuan dengan ilham. Namun tak ada yang berubah. Pikiran tetap kosong, seperti halaman yang enggan disentuh kata. Akhirnya saya kembali pada cara yang paling jujur: menulis tentang kebuntuan itu sendiri. Tentang kegagalan menemukan ide, tentang rasa hampa yang menggantung. Ada semacam keyakinan sederhana—bahwa dengan mulai menulis, bahkan dari ketiadaan, sesuatu akan bergerak. Dan benar saja, dari celah kecil itulah sebuah gagasan menyelinap masuk. Saya teringat pada angka pertumbuhan ekonomi triwulan pertama tahun ini: 5,61 persen secara tahunan, melampaui ekspektasi. Sebuah angka yang, di atas kertas, membawa kabar baik. Ia seperti lampu yang menyala di tengah ruang gelap—memberi harapan, sekaligus arah. Tak sulit membayangkan bagaimana angka itu disambut. Wajah-wajah sumringah, senyum yang mengembang, mungkin juga tawa lega dari para...

Batas waktu

-(Sabtu, 9 Mei 2026)- Entah sudah berapa banyak orang yang pernah saya kenal, satu per satu meninggalkan dunia ini. Mereka pergi, tetapi tidak benar-benar hilang. Ada sesuatu yang tertinggal—jejak yang tak kasatmata, namun terasa nyata dalam ingatan orang-orang yang pernah bersentuhan dengan hidup mereka. Sebagian kenangan melekat kuat karena intensitas pertemuan: rekan kerja yang hampir setiap hari berbagi ruang, waktu, bahkan beban pikiran. Sebagian lainnya hanya hadir sekilas—perjumpaan singkat, percakapan seadanya. Namun anehnya, ketika mereka tiada, ingatan tentang mereka tetap menemukan jalannya untuk kembali. Seolah-olah waktu tidak pernah benar-benar menghapus, hanya menyamarkan. Kita tahu, ada banyak sebab di balik kepergian itu. Sakit sering menjadi alasan yang paling tampak di permukaan. Dan kita pun cenderung meredakannya dengan keyakinan bahwa semua telah digariskan oleh Tuhan. Tetapi di balik itu, ada lapisan-lapisan lain yang tak selalu sederhana: kemungkinan warisan bio...

Enggan adaptasi

-(Jumat, 8 Mei 2026)- Jika sebelumnya pengalaman itu saya temui dalam sebuah peringatan hari jadi, kali ini ia muncul di forum ekonomi daerah—ruang yang seharusnya paling akrab dengan kata efisiensi, percepatan, dan perubahan. Di ruangan itu hadir berbagai institusi yang mengurusi fiskal, moneter, dan urusan lain yang saling terkait dalam denyut ekonomi daerah. Masing-masing mendapat giliran memaparkan data, isu, langkah, dan rekomendasi. Semuanya berjalan formal sebagaimana biasanya: angka demi angka, grafik demi grafik, slide demi slide. Namun perhatian saya tertahan pada satu paparan. Perwakilan sebuah unit membuka presentasinya dengan sebuah video. Ia bahkan mengatakan secara terbuka bahwa video itu dibuat menggunakan AI. Setelahnya, ia menampilkan slide yang sejak awal langsung saya kenali sebagai hasil olahan kecerdasan buatan. Rapi, presisi, visualnya kuat, dan terasa memiliki standar estetika yang berbeda dari presentasi birokrasi pada umumnya. Beberapa sesi berikutnya, unit la...

Karya kreatif

-(Kamis, 7 Mei 2026)- Dalam sebuah acara penutupan hari jadi sebuah daerah, saya menemukan sesuatu yang mungkin luput dari perhatian banyak orang. Namun tidak bagi saya. Ada detail-detail kecil yang sering kali justru paling menarik untuk diamati—sebab di situlah zaman diam-diam memperlihatkan wajahnya. Malam itu, perhatian saya tertuju pada layar besar di panggung utama. Di belakang foto dua pimpinan daerah terpampang animasi kota futuristik: gedung-gedung menjulang dengan cahaya biru metalik, jalan-jalan yang tampak bersih dan modern, langit yang nyaris terlalu sempurna untuk disebut nyata. Saya membayangkan visual itu sebagai semacam proyeksi harapan—gambaran tentang masa depan yang ingin dicapai daerah tersebut. Tetapi yang kemudian muncul di kepala saya bukanlah soal visi pembangunan. Saya justru bertanya: siapa yang membuat ilustrasi itu? Atau lebih tepatnya, bagaimana ia dibuat? Tak butuh waktu lama bagi saya untuk menebaknya. Visual itu hampir pasti dibuat dengan bantuan AI. Sa...

Diluar kendali

-(Rabu, 6 Mei 2026)- Dalam pekerjaan, ada momen ketika kita merasa pihak eksternal berada sepenuhnya di luar kendali kita. Kita tahu apa yang perlu mereka lakukan, kita bahkan bertanggung jawab atas hasilnya, tetapi pada saat yang sama kita sadar: kita tidak benar-benar memegang kemudi. Di titik itu, diam-diam muncul godaan untuk mundur—mencari alasan, atau setidaknya pembenaran—agar kita tidak perlu berbuat lebih jauh. Rasanya logis: untuk apa bersusah payah jika hasilnya pun tak bisa kita pastikan? Namun sering kali, yang luput dari perhatian justru hal-hal kecil yang kita anggap remeh. Sebuah sapaan yang konsisten, pengingat yang disampaikan dengan niat baik, atau sekadar kehadiran yang menunjukkan kesungguhan—semuanya mungkin tampak sepele, tetapi diam-diam membangun pengaruh. Seperti riak kecil di permukaan air, ia mungkin tidak langsung terlihat, tetapi perlahan menggerakkan arus di bawahnya. Masalahnya, kita kerap mengecilkan arti upaya-upaya semacam itu. Kita merasa sudah lelah...

Kilas ingatan

-(Selasa, 5 Mei 2026)- Ada saat-saat sederhana yang diam-diam menjadi penanda: ketika kita berjalan di taman, lalu tiba-tiba menyadari sepenuhnya bahwa kita benar-benar hadir di sana. Di momen seperti itu, sering terlintas pikiran halus—barangkali suatu hari nanti kita akan mengingatnya. Seolah-olah kita sedang menandai waktu, memberi isyarat pada diri di masa depan: “ingatlah ini.” Lalu waktu bergerak. Kita berpindah tempat, menyusuri pantai, mendengar debur ombak yang berulang seperti napas panjang kehidupan. Kita kembali berusaha hadir sepenuhnya. Namun justru di tengah kesadaran itu, ingatan lama muncul—momen di taman tadi, yang kini telah menjadi masa lalu. Dalam satu tarikan napas, kita hidup di dua waktu: yang sedang berlangsung, dan yang telah lewat. Dan lagi-lagi, kita mengulangi pikiran yang sama—bahwa suatu hari, momen di pantai ini pun akan menjadi kenangan. Begitulah cara waktu bekerja: ia tidak pernah benar-benar berhenti, tetapi memberi kita ilusi bahwa kita bisa menahan...

Candu seremoni

-(Senin, 4 Mei 2026)- Barangkali inilah yang membuat banyak pejabat begitu betah—bahkan ketagihan—berada dalam acara-acara seremonial. Ada semacam kenikmatan yang sulit dijelaskan, tetapi terasa sangat nyata. Bayangkan sebuah acara resmi digelar. Di depan panggung utama, telah disiapkan deretan kursi khusus dengan tata letak yang nyaris sakral: siapa duduk di barisan paling depan, siapa di belakang, semua diatur dengan presisi. Bahkan ada yang ditempatkan di atas panggung, duduk berjajar, menghadap lautan manusia yang menyaksikan mereka. Dalam momen seperti itu, jarak antara pejabat dan rakyat seolah dipentaskan secara visual—bahwa ada mereka yang dianggap penting, dan ada yang hanya menjadi penonton. Belum lagi ritual kecil yang terus diulang dalam setiap acara. Nama mereka disebut satu per satu oleh pembawa acara dengan gelar yang lengkap. Para pemberi sambutan pun sering melakukan hal serupa, menyapa mereka dengan penuh penghormatan. Di hadapan khalayak, identitas mereka dipertegas:...

Jam karet

-(Minggu, 3 Mei 2026)- Saya selalu menyimpan keraguan terhadap kinerja pemerintah daerah, sekeras apa pun dorongan yang datang dari pemerintah pusat maupun tekanan dari masyarakat. Keraguan itu bukan lahir dari prasangka, melainkan dari pengamatan yang berulang. Saya sering bertanya dalam hati: mengapa perubahan di tubuh pemda terasa begitu lambat? Apakah mereka masih bisa berbenah dan meningkatkan kinerjanya? Mungkin bisa. Namun, setiap kali saya berhadapan dengan satu indikator sederhana ini, harapan itu seperti perlahan memudar. Indikator itu terdengar sepele: disiplin waktu. Barangkali ini tampak terlalu sederhana untuk dijadikan ukuran kinerja. Tetapi justru dalam hal-hal yang tampak remeh, sering tersembunyi persoalan yang paling mendasar. Selama berinteraksi dengan beberapa pemerintah daerah dalam tugas saya, saya berulang kali menjumpai pola yang sama: acara hampir selalu molor, bahkan lebih dari satu jam dari jadwal yang tercantum di undangan. Ironisnya, undangan itu sering ka...

Logika rezeki

-(Sabtu, 2 Mei 2026)- Jalan pagi sering memberi saya hal-hal kecil yang tampaknya biasa, tetapi diam-diam memantik renungan panjang. Kadang saya menemukan pemandangan yang baru pertama kali terlihat, kadang justru sesuatu yang sudah berkali-kali lewat di depan mata—namun baru benar-benar saya perhatikan belakangan ini. Beberapa pagi terakhir, perhatian saya tertuju pada sebuah kios penjual bensin eceran yang berdiri tepat di depan SPBU. Bukan sekadar keberadaannya yang membuat saya berhenti berpikir, melainkan logika di balik keputusan itu. Di kepala saya, pertanyaan sederhana segera muncul: mengapa seseorang memilih berjualan BBM persis di depan tempat yang menjual produk sama, dengan harga lebih murah, takaran lebih pasti, dan jaminan kualitas yang lebih dipercaya? Secara bisnis, keputusan itu tampak seperti menanam pohon di bawah bayang-bayang pohon yang jauh lebih besar. Peluang hidupnya terlihat tipis. Pengendara motor, tentu saja, secara rasional akan memilih mengisi bensin di SP...

Resafel kabinet

-(Jumat, 1 Mei 2026)- Entah sudah berapa kali reshuffle kabinet terjadi. Menteri diganti, kepala badan dipindahkan, pimpinan lembaga dirotasi. Wajah-wajah baru datang membawa harapan, sementara wajah lama bergeser ke kursi lain dengan tugas yang berbeda. Barangkali itu memang diperlukan ketika presiden melihat ada kinerja yang belum optimal, atau merasa ada orang lain yang lebih tepat mengisi posisi tertentu. Di balik setiap pergantian itu, selalu ada asumsi yang terdengar masuk akal: bahwa orang baru akan membawa energi baru, cara kerja baru, dan pada akhirnya hasil yang lebih cepat terasa oleh masyarakat. Seolah-olah persoalan negara bisa diselesaikan dengan mengganti nakhoda di atas kapal. Namun, di titik inilah saya sering merasa ada sesuatu yang luput dibicarakan. Benarkah seorang menteri bekerja sendirian? Tentu tidak. Di belakang seorang menteri, kepala badan, atau kepala lembaga, ada mesin birokrasi yang panjang, berlapis, dan sering kali rumit. Mesin itulah yang sesungguhnya m...