Postingan

Pilihan Hari Ini

Gerimis pergi

-(Selasa, 11 November 2025)- Gerimis sore masih saja turun saat penumpang diminta untuk boarding. Karena itulah, tak ada penumpang yang diminta naik lewat pintu belakang. Maka, diatur agar penumpang dengan nomor kursi 20 ke atas diminta naik lebih dahulu. Saya pun sabar menunggu giliran untuk naik pesawat, sebab nomor kursi saya tergolong kecil. Artinya, tak selalu nomor urut kecil diberikan kesempatan lebih dahulu. Padahal mungkin, sebagian dari kita memilih nomor kecil dengan harapan akan dipanggil lebih cepat. Seperti biasa, selalu ada perasaan bahwa sesuatu tertinggal setiap kali akan pergi. Entahlah apa benda atau sesuatu itu, sebab saya belum juga menyadari apa yang sebenarnya tertinggal. Bisa jadi bukan benda, melainkan suatu perasaan. Perasaan yang entah mengapa selalu muncul setiap kali harus meninggalkan sesuatu. Mungkin memang sudah kodratnya begitu: bahwa setiap perpisahan membawa sejumput kehilangan yang tak dapat dijelaskan. Mungkin pula suasana sore dengan gerimis it...

Air terjun

-(Senin, 30 Maret 2026)- Pagi yang beranjak siang itu, kami memulai perjalanan menuju ketinggian—sebuah rute yang, dalam beberapa tahun terakhir, hampir selalu kami tempuh setiap kali pulang dari berlebaran di kampung. Barangkali benar pepatah lama itu: sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Perjalanan pulang ke kota kami sulap menjadi sekaligus perjalanan mencari jeda—wisata kecil di sela rutinitas yang menunggu. Sejak awal, kami sepakat untuk singgah di salah satu kafe estetik yang berjajar di sepanjang jalur pegunungan itu. Tempat-tempat yang menjual lebih dari sekadar kopi dan makanan—mereka menawarkan lanskap, ketenangan, dan ilusi bahwa waktu bisa berjalan lebih lambat. Namun, kami tak pernah benar-benar menentukan tujuan. Insting kami jadikan kompas. Ketika satu tempat terasa “memanggil”, kami berhenti. Tentu saja, spontanitas itu tetap dibungkus kehati-hatian—jalan yang ramai menuntut kami untuk tidak gegabah. Perjalanan berlangsung lancar. Tak ada kemacetan, meski ken...

Pohon fitrah

-(Minggu, 29 Maret 2026)- Salah satu tradisi yang menghidupkan malam-malam Ramadan adalah tadarus bersama di masjid selepas salat tarawih. Ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan secara bergantian, disimak dengan khidmat, seolah setiap huruf menemukan ruangnya sendiri di hati para pembacanya. Dalam satu malam, biasanya satu juz menjadi target. Di penghujung Ramadan, ritmenya bahkan bisa dipercepat hingga dua juz. Maka tanpa terasa, sebelum bulan suci itu benar-benar pamit, Al-Qur’an telah khatam lebih dulu. Dari sanalah lahir satu tradisi lanjutan: khataman. Sebuah penutup yang bukan sekadar seremonial, tetapi juga penanda perjalanan spiritual yang dilalui bersama. Dan itulah yang terjadi pada satu malam di penghujung Ramadan di masjid kami. Namun, cerita ini tidak bermula di sana. Ia justru berakar dari pagi harinya—dari sebuah kegelisahan sederhana tentang bagaimana membuat anak-anak turut hadir, bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari pengalaman itu sendiri. Sebagai sal...

Ego sunyi

-(Sabtu, 28 Maret 2026)- Dalam percakapan, sering kali ada sesuatu yang pelan-pelan merayap tanpa kita sadari—ego yang tiba-tiba ingin berdiri paling depan. Barangkali inilah yang pernah disinggung Nietzsche sebagai will to power: dorongan halus namun kuat untuk menguasai, untuk menang, untuk menjadi lebih dari yang lain. Saya mengalaminya sendiri dalam sebuah diskusi tentang perjalanan haji. Awalnya sederhana—sekadar membicarakan satu istilah yang menurut saya keliru dipahami. Namun, seperti bara yang disulut angin, perbedaan kecil itu perlahan membesar. Dua orang di hadapan saya tetap bersikukuh dengan penjelasan pembimbing mereka. Saya pun tak kalah kukuh dengan keyakinan saya. Di titik tertentu, saya merasakan perubahan dalam diri: nada suara meninggi, ritme bicara menajam, dan emosi mulai mengambil alih. Seolah ada arus tak terlihat yang mendorong saya untuk terus membuktikan bahwa saya benar. Namun justru di detik itulah kesadaran muncul—seperti seseorang yang tiba-tiba tersad...

Paradoks energi

-(Jumat, 27 Maret 2026)- Kekhawatiran tentang persediaan BBM dan wacana penghematan melalui kebijakan satu hari WFH setiap minggu terasa janggal bagi sebagian orang ketika disandingkan dengan realitas yang terjadi saat Lebaran. Jalanan dipenuhi kendaraan yang bergerak serentak—pulang kampung, bersilaturahmi, menjahit kembali relasi yang mungkin sempat longgar oleh jarak dan waktu. Semua perjalanan mudik dan balik itu, tentu saja, memerlukan BBM dalam jumlah yang tidak sedikit. Di titik ini, muncul kesan yang sulit diabaikan: ada ajakan untuk berhemat, tetapi didahului oleh lonjakan konsumsi yang nyaris tak terbendung. Seolah kita diminta menahan napas setelah sebelumnya berlari sekencang-kencangnya. Kontras ini menimbulkan pertanyaan—apakah ini sekadar inkonsistensi, atau justru bagian dari logika yang lebih besar? Barangkali, dari sudut pandang pemerintah, Lebaran bukan semata perayaan spiritual dan kultural, melainkan juga momentum ekonomi. Pergerakan manusia berarti pergerakan ua...

Ramadan hilang

-(Kamis, 26 Maret 2026)- Kehidupan sudah kembali seperti semula. Ramadan yang sebulan penuh hadir, telah memudar, seolah tak meninggalkan bekas apa pun. Bukan karena ia gagal mendidik atau melatih manusia, melainkan karena manusianya yang kembali larut dalam arus dunia—arus yang tak pernah benar-benar berhenti. Rutinitas pun mengambil alih. Orang-orang kembali disibukkan oleh pekerjaan, oleh tuntutan hidup yang terasa tak bisa ditawar. Para ASN kembali duduk dalam rapat-rapat yang silih berganti, atau mengisi layanan yang berjalan seperti biasa. Sebagian mungkin justru dihantui kebingungan: apa yang harus dikerjakan ketika anggaran dipangkas, ketika ritme kerja tak lagi jelas, bahkan ketika diminta bekerja dari rumah yang justru mempertegas kekosongan itu. Di kantor bingung, di rumah pun tak jauh berbeda. Para pekerja swasta menjalani nasib yang serupa, meski dalam bentuk yang lain. Jam kerja yang teratur, tugas yang berulang, ritme yang nyaris mekanis—semuanya membentuk pola hidup ...

Mesin kuasa

-(Rabu, 25 Maret 2026)- Saya membayangkan, setiap kali presiden berbicara—menyampaikan data dan fakta—kita seolah berdiri di hadapan sesuatu yang nyaris tak terbantahkan. Bukan semata karena jabatannya sebagai orang nomor satu, tetapi karena aksesnya pada lapisan informasi yang paling dalam dan luas. Di titik itu, pernyataan presiden sering kali kita terima sebagai kebenaran yang utuh, tanpa perlu lagi mencari pembanding atau bahkan meragukannya. Maka ketika presiden baru-baru ini mengungkap adanya pemborosan anggaran negara hingga miliaran dolar—yang bersumber dari sistem yang tidak efisien dan rentan korupsi—kita seperti dihadapkan pada cermin besar yang memantulkan wajah buram tata kelola kita sendiri. Sebuah pengakuan yang tidak hanya mengandung data, tetapi juga kegelisahan. Sebagai respons, presiden mendorong perubahan: transformasi pola kerja melalui skema WFH, serta penertiban belanja rutin kementerian. Tujuannya jelas—menyelamatkan uang rakyat agar lebih tepat sasaran, seka...

Lebaran usai

-(Selasa, 24 Maret 2026)- Barangkali beginilah wajah Lebaran bagi kebanyakan orang. Pagi dimulai dengan baju baru, langkah beriring menuju masjid untuk menunaikan salat Idulfitri. Setelah itu, halal bi halal di halaman masjid—saling berjabat tangan, berpelukan, menukar maaf yang sering kali terasa hangat namun singkat. Lalu pulang, berkumpul di rumah orang tua atau di satu tempat yang disepakati, kembali bersalaman, lalu makan bersama. Dan Lebaran pun, tanpa kita sadari, seperti selesai sebelum tengah hari. Setelah itu, hidup segera mencari bentuknya yang lain. Kafe mulai ramai, cangkir kopi jadi teman, dan unggahan di media sosial menjadi cara baru merayakan. Hari berikutnya, agenda bergeser: piknik, perjalanan ke pantai, kebun binatang, atau pegunungan. Libur berubah menjadi pelarian kecil dari rutinitas—atau mungkin dari keheningan yang seharusnya kita hadapi. Di tengah semua itu, ada hal yang sering luput. Ketika mestinya momen ini menjadi ruang untuk benar-benar bersilaturahmi...

Tiang retak

-(Senin, 23 Maret 2026)- Barangkali, langkah paling masuk akal dalam situasi saat ini adalah menahan diri—berhenti memperluas program-program yang dilabeli sebagai “strategis” oleh pemerintah. Sebab realitas keuangan tampaknya sudah lama bergeser dari keseimbangan. Ia lebih menyerupai peribahasa lama: besar pasak daripada tiang. Bedanya, kini pasak itu seolah terus membengkak, seperti disengat ribuan tawon—menggelembung tanpa kendali. Ketika pasak yang kian besar itu dipaksa menancap pada tiang yang rapuh, yang terjadi bukan sekadar goyah, melainkan patah. Dan saat tiang patah, bangunan yang disangganya pun ikut runtuh. Namun pertanyaannya: apakah pilihan itu akan benar-benar diambil? Di balik layar, bisa dibayangkan betapa rumitnya situasi yang dihadapi para menteri, terutama yang mengurusi sektor ekonomi. Defisit anggaran sudah berdiri di depan mata—terang, tak lagi bisa disamarkan. Secara teoritis, jalan keluarnya sederhana: kurangi pengeluaran. Tapi negara bukan rumah tangga. Ke...

Membaca esok

-(Minggu, 22 Maret 2026)- Manusia, dengan segala hasrat dan kegelisahannya, selalu terdorong untuk mengintip masa depan. Tidak harus jauh—kadang cukup besok, minggu depan, atau bahkan satu jam dari sekarang. Ada semacam dorongan sunyi dalam diri kita untuk memastikan bahwa apa yang belum terjadi setidaknya bisa dipahami, atau setidaknya diperkirakan. Dari situlah lahir berbagai cara. Dengan bekal data dan informasi, manusia menyusun prediksi—merangkai hipotesis dari hubungan sebab akibat, mencoba menarik benang tipis antara apa yang terjadi hari ini dan apa yang mungkin terjadi nanti. Di sisi lain, ada pula pendekatan yang bertumpu pada masa lalu: pengalaman, sejarah, pola-pola yang berulang. Kita membaca jejak yang pernah ada, lalu memproyeksikannya ke masa kini, seolah masa depan adalah bayangan yang mengikuti langkah masa lalu. Namun usaha manusia tidak berhenti di sana. Ada yang melangkah lebih jauh, menggunakan kerangka seperti teori permainan atau berbagai pendekatan akumulati...

Birokrasi bernapas

-(Sabtu, 21 Maret 2026)- Saya sedang merancang sebuah misi baru. Sebuah penugasan yang terasa personal sekaligus struktural: mendorong birokrasi agar kembali relevan dengan zamannya. Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya tidak: bagaimana membebaskan birokrasi dari jerat ritual administrasi yang berlebihan? Sebab hari ini, kita menyaksikan ironi—energi para ASN, termasuk generasi muda yang mestinya lincah dan adaptif, justru habis untuk menyusun laporan, notulensi, dan berkas-berkas yang sering kali lebih sibuk membuktikan kegiatan daripada menghadirkan dampak. Dari kegelisahan itu, saya merumuskan arah: menuju outcome bureaucracy. Sebuah birokrasi yang menempatkan hasil sebagai pusat gravitasi, bukan dokumen. Dokumen tetap ada, tetapi secukupnya—sebagai alat, bukan tujuan. Dampaklah yang menjadi ukuran utama. Langkah pertama yang saya tempuh adalah mencari pijakan. Saya ingin memastikan bahwa gagasan ini bukan sekadar idealisme yang mengawang. Saya mulai menelusuri praktik di n...

Retak lebaran

-(Jumat, 20 Maret 2026)- Perbedaan dalam memulai Lebaran selalu kembali, tahun demi tahun, seolah menjadi pengingat sunyi bahwa persatuan nasional bukan perkara sederhana. Ia bukan sekadar soal kalender atau metode penentuan, melainkan cermin dari sesuatu yang lebih dalam: cara kita memandang kebenaran, otoritas, dan—barangkali—ego kita sendiri. Di satu sisi, setiap kelompok berdiri di atas dalil dan argumentasi yang sama-sama diyakini sahih. Tidak ada yang merasa sedang keliru. Namun justru di situlah paradoksnya: ketika semua merasa benar, siapa yang bersedia melangkah setengah langkah ke belakang? Mengapa ada yang tergesa mengumumkan lebih awal, sementara yang lain memilih menunggu sidang panjang dan prosedural? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak pernah benar-benar selesai dijawab, hanya berulang dalam bentuk yang sama, seperti ritus tahunan yang tak tertulis. Padahal, jika ditarik lebih dalam, persoalan ini bukan semata perbedaan metode hisab dan rukyat. Ia menyentuh relasi antara ...

Riuh senja

-(Kamis, 19 Maret 2026)- Jalanan sore dipenuhi kendaraan yang merayap pelan, seolah waktu ikut tersendat di antara klakson dan lampu rem yang menyala. Di beberapa titik, kemacetan tak terelakkan—bertemu dengan lampu lalu lintas yang tak pernah benar-benar lengang. Di sisi lain jalan, pasar takjil tumbuh seperti oase musiman: ramai, hangat, dan penuh harap. Beginilah wajah kota menjelang berbuka di bulan Ramadan—padat, hiruk, sekaligus hidup. Barangkali keramaian ini bukan semata rutinitas tahunan. Ada arus lain yang ikut mengalir: para pemudik yang mulai pulang, membawa rindu sekaligus daya beli. Mereka bukan hanya kembali ke kampung halaman, tetapi juga menggerakkan denyut ekonomi lokal. Ditambah lagi dengan agenda buka bersama—reuni kecil yang menjelma menjadi tradisi sosial—membuat rumah makan dan warung penuh reservasi, bahkan kewalahan melayani. Kota seperti bernafas lebih cepat dari biasanya. Dari kejauhan, pemandangan ini mudah dibaca sebagai tanda: ekonomi baik-baik saja. Se...