Postingan

Pilihan Hari Ini

Gerimis pergi

-(Selasa, 11 November 2025)- Gerimis sore masih saja turun saat penumpang diminta untuk boarding. Karena itulah, tak ada penumpang yang diminta naik lewat pintu belakang. Maka, diatur agar penumpang dengan nomor kursi 20 ke atas diminta naik lebih dahulu. Saya pun sabar menunggu giliran untuk naik pesawat, sebab nomor kursi saya tergolong kecil. Artinya, tak selalu nomor urut kecil diberikan kesempatan lebih dahulu. Padahal mungkin, sebagian dari kita memilih nomor kecil dengan harapan akan dipanggil lebih cepat. Seperti biasa, selalu ada perasaan bahwa sesuatu tertinggal setiap kali akan pergi. Entahlah apa benda atau sesuatu itu, sebab saya belum juga menyadari apa yang sebenarnya tertinggal. Bisa jadi bukan benda, melainkan suatu perasaan. Perasaan yang entah mengapa selalu muncul setiap kali harus meninggalkan sesuatu. Mungkin memang sudah kodratnya begitu: bahwa setiap perpisahan membawa sejumput kehilangan yang tak dapat dijelaskan. Mungkin pula suasana sore dengan gerimis it...

Optimisme sunyi

-(Selasa, 17 Maret 2026)- Barangkali apa yang kita baca di media sosial sebenarnya hanyalah gema dari segelintir suara. Suara yang keras, berulang, dan tampak ramai—tetapi belum tentu mewakili denyut pikiran mayoritas masyarakat. Ia lebih mirip riak di permukaan air: tampak jelas dari jauh, namun belum tentu menggambarkan arus yang sesungguhnya bergerak di bawahnya. Mungkin itulah sebabnya pemerintah tidak selalu tergesa menanggapi berbagai opini yang beredar di ruang digital. Dari sudut pandang mereka, suara yang begitu riuh di media sosial belum tentu berbanding lurus dengan realitas di lapangan. Jika kita menengok kondisi sehari-hari, terutama di bulan Ramadan dan menjelang Lebaran seperti sekarang, gambaran yang tampak justru terasa biasa saja—bahkan cenderung hidup. Jalanan sore hari penuh dengan orang yang berburu makanan untuk berbuka. Rumah makan ramai oleh keluarga dan pekerja yang menunggu azan magrib, sementara di atas meja sudah tersaji hidangan yang siap disantap. Ada g...

Mesin daerah

-(Senin, 16 Maret 2026)- Ada satu percakapan di media sosial yang cukup menggelitik perhatian saya. Semuanya bermula dari sebuah pertanyaan sederhana: di provinsi ini, kabupaten atau kota mana yang berjalan dengan “autopilot”? Maksudnya tentu bukan dalam arti harfiah, melainkan sindiran bagi daerah yang terasa seperti berjalan tanpa nahkoda—ketika pemimpinnya dianggap tidak benar-benar bekerja untuk rakyatnya. Jawaban dari pertanyaan itu mengalir deras. Satu per satu nama kabupaten dan kota disebut. Bersamaan dengan itu, muncul pula rentetan keluhan: jalan yang bertahun-tahun tetap berlubang, parkiran yang semrawut, hingga wajah infrastruktur yang terasa tak pernah berubah sejak dulu. Di sela-sela kritik itu, sesekali muncul pula cerita tentang kepala daerah yang berakhir dengan operasi tangkap tangan oleh KPK. Fenomena ini menarik. Kritik masyarakat rupanya tidak lagi hanya diarahkan kepada pemerintah pusat. Justru perhatian mulai bergeser ke pemerintah daerah. Ini sesuatu yang waj...

Belum berhasil

-(Minggu, 15 Maret 2026)- Ada satu penyesalan kecil yang tersisa setelah saya pergi dari daerah itu: saya belum sempat melakukan “ritual perpisahan” dengan sepiring ketupat Kandangan. Barangkali ia memang salah satu menu favorit di antara banyak makanan lain yang saya sukai—meski sebenarnya saya bukan tipe orang yang fanatik pada satu jenis kuliner. Namun waktu dan keadaan sepertinya tidak memberi ruang untuk ritual sederhana itu. Saya pergi begitu saja, tanpa sempat menutup bab itu dengan rasa yang dulu kerap saya nikmati. Tentu saja, jika dipikir-pikir, penyesalan ini tidak sungguh-sungguh soal makanan. Ketupat Kandangan itu lebih seperti penanda—sebuah simbol kecil dari sesuatu yang lebih besar: episode kehidupan yang berakhir tanpa jeda refleksi yang cukup. Setelah meninggalkan satu fase kehidupan, selalu ada pertanyaan yang tertinggal seperti gema di ruang kosong. Mengapa saya baru di akhir masa penugasan berkeliling ke masjid dan mushola? Mengapa saya tidak membawa pulang seb...

Subuh singgah

-(Sabtu, 14 Maret 2026)- Subuh itu datang di tengah perjalanan menuju sebuah kehidupan baru. Dalam perjalanan tersebut, kami sempat berhenti di sebuah masjid yang bagi saya tampak seperti mercusuar: bangunannya besar, menjulang, dan terasa sengaja dibangun bukan sekadar sebagai tempat ibadah. Ada kesan kuat bahwa ia juga menyimpan jejak—semacam legacy—yang ingin terus menjaga nama pendirinya tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang datang bersujud di sana. Menariknya, setelah beberapa tahun berada di daerah ini, baru pada pagi itu wajah saya akhirnya bersentuhan dengan sajadah masjid tersebut. Sebuah kebetulan yang terasa seperti keberuntungan. Sejujurnya, saya tidak pernah merencanakan untuk berhenti salat Subuh di sana. Perjalanan kami seharusnya hanya melintas. Namun entah bagaimana, rute yang kami tempuh—atau mungkin keputusan kecil yang diambil di tengah jalan—membuat kami berhenti di halaman masjid megah itu. Dalam momen seperti ini, manusia sering kali mulai bertanya: apak...

Jejak ombak

-(Jumat, 13 Maret 2026)- Meski kita bisa kembali ke suatu tempat, sesungguhnya tidak ada yang benar-benar mengulang kehidupan. Waktu telah mengubah terlalu banyak hal—ruang, suasana, bahkan cara kita memandangnya. Apa yang dulu terasa akrab mungkin masih berdiri di tempat yang sama, tetapi maknanya tidak lagi identik. Seperti ombak yang terus datang ke pantai yang sama, namun tak pernah menjadi ombak yang sama. Meski demikian, sebelum kaki benar-benar menapak kembali di tempat lama itu, imajinasi kita biasanya sudah lebih dulu tiba. Ia bekerja diam-diam, menenun gambaran tentang apa yang akan kita lakukan ketika kembali ke ruang yang pernah kita tinggali puluhan tahun silam. Ingatan masa lalu menjadi semacam peta batin—memandu imajinasi menggambar ulang adegan-adegan yang pernah memberi kesenangan. Berpantai-pantai, berendam, lalu mengambang mengikuti arus laut yang tenang—semua itu adalah potongan memori yang terasa sangat mungkin untuk terulang. Bukan semata karena tempatnya masih...

Usai disini

-(Kamis, 12 Maret 2026)- Hari ini adalah hari terakhir saya di tempat ini. Pada akhirnya saya tiba juga di titik itu—titik yang selama ini mungkin saya tunggu,  atau justru diam-diam saya hindari. Saya sendiri tidak sepenuhnya yakin. Ada perasaan yang sulit saya definisikan, dan mungkin saya pun belum cukup berani untuk benar-benar jujur kepada diri sendiri tentangnya. Yang jelas, satu episode kehidupan telah usai saya jalani. Dalam episode itu, saya bertemu dengan banyak orang. Beragam latar belakang, karakter, cara berpikir, dan cara merespons dunia. Dari perjumpaan-perjumpaan itulah saya belajar sesuatu yang sederhana namun tidak mudah: memahami manusia adalah pekerjaan yang tak pernah selesai. Setiap interaksi adalah pelajaran kecil tentang bagaimana bersikap, bagaimana menahan diri, dan bagaimana tetap menjaga kewarasan dalam menghadapi perbedaan. Di episode itu, saya diuji dengan sebuah amanah: memimpin. Sebuah kepercayaan yang pada awalnya terasa seperti sepatu yang sedi...

Ritual administrasi

-(Rabu, 11 Maret 2026)- Saya membayangkan suatu keadaan di mana kerja birokrasi dapat lepas dari urusan administrasi yang berlebihan. Bahwa tugas-tugas yang telah diselesaikan diukur dari output dan outcome yang dihasilkan, bukan semata-mata dari dokumentasi kegiatan yang disusun setelahnya. Dalam bayangan itu, saya mencoba memposisikan diri sebagai penyusun gagasan pelaporan administrasi. Apa yang sebenarnya ada di benak mereka ketika merancang sistem yang begitu menekankan pada laporan dan bukti dokumen? Pertama, barangkali mereka berpijak pada definisi birokrasi itu sendiri yang sejak awal memang identik dengan ketertiban administrasi dan kepatuhan terhadap berbagai ketentuan. Dalam kerangka ini, administrasi dipandang sebagai fondasi yang menjaga organisasi tetap berjalan sesuai aturan. Kedua, bisa jadi pendekatan tersebut dilatarbelakangi oleh ketidakpercayaan terhadap elemen birokrasi bahwa mereka akan melaksanakan perintah sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, dibutuhkan bukti ...

Konflik egois

(Selasa, 10 Maret 2026)- Mengapa tiba-tiba banyak sekali orang yang diklaim sebagai pengamat Timur Tengah dan berkomentar tentang apa yang terjadi di sana? Konflik Israel–Amerika dengan Iran memang menjadi sorotan dan membuat media laris ditonton. Karena itulah media merasa perlu menghadirkan orang-orang yang dianggap layak untuk berbicara, menyampaikan analisis dan pendapatnya. Bahkan mereka yang sebenarnya secara keilmuan tak relevan, tampak begitu lancar dan meyakinkan ketika berbicara tentang konflik itu. Sebagian bahkan sudah meramalkan pihak mana yang akan keluar sebagai pemenang. Dan nampaknya media kita tahu pihak mana yang banyak didukung oleh masyarakat. Karena itu, analisis atau opini yang berpihak dan menyenangkan masyarakat lebih banyak bermunculan. Tak apa, barangkali itu juga bentuk dukungan bagi satu pihak yang memang secara kasat mata telah terdzolimi. Kenyataannya, konflik itu juga menghadirkan kembali perdebatan lama soal aliran ini dan aliran itu. Anda sudah tahu ma...

Minyak & fiskal

-(Senin, 9 Maret 2026)- Semua orang sudah tahu, ada gejolak di Timur Tengah. Ada perang di sana. Ketegangan itu membuat kapal-kapal tanker pembawa minyak tidak bisa melewati Selat Hormuz. Dampaknya segera terasa: harga minyak dunia naik. Minyak bukan sekadar komoditas biasa. Ia adalah sumber energi yang menggerakkan kehidupan manusia modern. Dari transportasi, industri, hingga kebutuhan rumah tangga, semuanya bergantung padanya. Karena itu, ketika pasokan terganggu dan minyak menjadi langka, harga akan melonjak. Dan dari situlah persoalan datang bertubi-tubi, seperti gelombang yang menyusul satu sama lain. Kenaikan harga minyak hampir selalu berujung pada kenaikan harga kebutuhan pokok. Ongkos produksi dan distribusi meningkat, lalu merambat ke harga barang di pasar. Di titik itulah inflasi muncul. Bagi negara yang memberikan subsidi BBM, situasinya menjadi jauh lebih berat. Setiap kenaikan satu dolar harga minyak bisa berdampak pada tambahan beban fiskal sekitar 10 triliun rupiah. Pad...

Ritme ramadhan

 -(Minggu, 8 Maret 2026)- Dua bulan dari tahun 2026 ini telah terlewati. Sisa waktu untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 6% tinggal 10 bulan. Namun bulan Maret masih ada Ramadhan dan akan ada libur panjang Lebaran. Artinya, birokrasi mungkin tak sepenuhnya bekerja penuh. Dengan demikian, sisa waktu efektif bisa jadi hanya 9 bulan alias 3 triwulan. Pertanyaannya, apakah target belanja pemerintah pada triwulan 1 akan tercapai? Tentu ini bukan hanya soal belanja pemerintah pusat, tetapi juga belanja daerah dan belanja desa. Rasa-rasanya masih harus dikejar agar dorongan fiskal di awal tahun benar-benar terasa. Namun, keberkahan Ramadhan dan Lebaran hampir selalu membawa dampak ekonomi yang signifikan. Konsumsi rumah tangga meningkat, perputaran uang menguat, dan ini biasanya menjaga laju pertumbuhan ekonomi triwulan 1 tetap sesuai target. Ada pola yang berulang dari tahun ke tahun. Apalagi dengan rencana pembayaran THR di bulan Ramadan. Ini tentu akan semakin meningkatkan belanja...

Malam terbelah

-(Sabtu, 7 Maret 2026)- Saat pulang tarawih, saya melihat pemandangan yang membuat hati terasa miris. Anak-anak muda duduk lesehan di angkringan dan kafe-kafe. Mereka bercengkerama, tertawa, larut dalam obrolan. Seolah-olah mereka tak peduli bahwa malam itu ada satu ibadah yang sebenarnya rugi jika dilewatkan: sholat tarawih. Pemandangan sederhana itu justru menimbulkan gelombang pertanyaan dalam pikiran saya. Apakah mereka mulai mengabaikan anjuran untuk memperbanyak ibadah di bulan puasa? Ataukah ini soal pemahaman agama yang belum kokoh? Bisa jadi juga sekadar persoalan gaya hidup dan lingkungan pergaulan. Atau mungkin mereka merasa jenuh dengan ritual tarawih yang terkadang berlangsung panjang dan terasa monoton. Namun di tengah kegelisahan itu, ketika saya teringat anak-anak muda yang masih rajin mengikuti tarawih, hati saya justru dipenuhi rasa hormat. Terlebih lagi mereka yang menjadi imam masjid atau bilal saat kegiatan tarawih. Itu bukan sekadar kehadiran fisik di saf, melaink...

Jarak imajinasi

-(Jumat, 6 Maret 2026)- Nampaknya ada jarak imajinasi antara generasi tua dan generasi muda. Itu terlihat jelas dari protes yang dilakukan oleh beberapa kalangan anak muda atas program yang dijalankan dan digagas oleh sebagian generasi tua. Padahal, boleh jadi program itu dilandasi niat dan tujuan yang mulia, demi kebaikan rakyat dan negara. Namun imajinasi tentang kebaikan itu tidak selalu tertangkap dengan utuh oleh sebagian anak muda. Di titik inilah jarak itu terasa—bukan semata jarak usia, melainkan jarak cara pandang. Masalahnya bisa berlapis. Bisa jadi persoalannya ada pada komunikasi yang tidak efektif, sehingga maksud baik tidak tersampaikan secara utuh. Bisa jadi pula terdapat tantangan dalam implementasi yang menimbulkan cacat pada pelaksanaan program tersebut. Atau mungkin saluran kritik dan masukan memang tersedia, tetapi tidak benar-benar didengar. Dan tentu saja, bisa juga karena paradigma yang berbeda. Jika yang terakhir ini benar, maka persoalannya menjadi jauh lebih m...

Grafik langkah

-(Kamis, 5 Maret 2026)- Kenyataannya, meski tujuannya sama, jalan yang ditempuh bisa berbeda. Yang satu lebih panjang, lebih banyak langkah yang harus diraih. Yang lain lebih singkat, lebih sedikit jejak kaki yang tertinggal. Tujuan tetap sama, tetapi prosesnya tidak identik. Itulah dua pengalaman saya ketika berjalan kaki dari kantor ke rumah. Sore itu, sepulang bekerja dan sambil ngabuburit menunggu waktu berbuka, saya menyempatkan diri berolahraga. Bukan sesuatu yang istimewa, hanya langkah-langkah kecil yang saya kumpulkan sepanjang jalan. Jalur pertama menghasilkan sekitar 5.000 langkah. Jalur kedua hanya sekitar 3.000 langkah. Secara fisik mungkin lebih ringan, lebih cepat sampai. Namun ada satu hal yang mengusik pikiran saya: grafiknya menurun. Karena jalur kedua saya tempuh setelah jalur pertama, angka yang tercatat justru terlihat seperti kemunduran. Padahal persoalannya bukan pada kemunduran, melainkan pada pilihan rute. Seandainya saya membalik urutannya—lebih dulu jalur pen...

Safari ramadan

-(Rabu, 4 Maret 2026)- Sampai hari ini sudah 14 masjid atau mushola yang saya datangi untuk sholat tarawih. Artinya, saya masih konsisten untuk berganti-ganti tempat sholat. Bukan sekadar berpindah ruang, tetapi seperti menelusuri denyut Ramadan dari sudut yang berbeda-beda. Barangkali ini semacam safari ramadan bagi saya. Di antara 14 itu, ada yang sama, ada pula tradisi yang berbeda. Ada yang 20 rakaat, ada pula yang 8. Perbedaan itu terasa wajar, bahkan memperkaya pengalaman. Namun satu hal yang patut diapresiasi adalah semangat para jamaahnya untuk meraih pahala di bulan Ramadan. Di mana pun tempatnya, semangat itu tetap menyala—seperti api kecil yang dijaga bersama agar tidak padam. Satu keunggulan yang menurut saya patut dicontoh adalah kualitas imam tarawih. Semua masjid dan mushola yang saya kunjungi dipimpin oleh imam dengan bacaan Al-Qur’an yang fasih, dengan irama atau lagu yang enak didengar jamaah. Ini bukan sekadar soal estetika suara, tetapi tentang kesungguhan menjaga k...