Postingan

Pilihan Hari Ini

Gerimis pergi

-(Selasa, 11 November 2025)- Gerimis sore masih saja turun saat penumpang diminta untuk boarding. Karena itulah, tak ada penumpang yang diminta naik lewat pintu belakang. Maka, diatur agar penumpang dengan nomor kursi 20 ke atas diminta naik lebih dahulu. Saya pun sabar menunggu giliran untuk naik pesawat, sebab nomor kursi saya tergolong kecil. Artinya, tak selalu nomor urut kecil diberikan kesempatan lebih dahulu. Padahal mungkin, sebagian dari kita memilih nomor kecil dengan harapan akan dipanggil lebih cepat. Seperti biasa, selalu ada perasaan bahwa sesuatu tertinggal setiap kali akan pergi. Entahlah apa benda atau sesuatu itu, sebab saya belum juga menyadari apa yang sebenarnya tertinggal. Bisa jadi bukan benda, melainkan suatu perasaan. Perasaan yang entah mengapa selalu muncul setiap kali harus meninggalkan sesuatu. Mungkin memang sudah kodratnya begitu: bahwa setiap perpisahan membawa sejumput kehilangan yang tak dapat dijelaskan. Mungkin pula suasana sore dengan gerimis it...

Titik tengah

-(Minggu, 22 Februari 2026)- Kali ini saya pun tergesa-gesa dengan satu kesimpulan: apa pun yang berlebihan, pasti hasilnya buruk, sama buruknya ketika sesuatu itu kurang. Seperti api—terlalu kecil tak memberi hangat, terlalu besar justru membakar. Di antara keduanya selalu ada ruang yang paling manusiawi: cukup. Artinya, jalan pertengahan—alias titik keseimbangan—adalah cara terbaik. Ini bukan sesuatu yang baru. Bahkan semua orang sejatinya sudah tahu, sebab agama pun sejak lama mengajarkannya. Kita diingatkan untuk tidak melampaui batas, untuk tidak tenggelam dalam ekstrem apa pun, termasuk dalam hal yang kita yakini sebagai kebaikan. Hanya saja, tetap saja ada orang yang tergoda melakukan sesuatu secara berlebihan. Bahkan dalam urusan kebaikan, ketika tak lagi terukur, ia bisa berubah menjadi sesuatu yang membawa dampak buruk. Kebaikan yang kehilangan proporsi sering kali menjelma menjadi tekanan, atau setidaknya menimbulkan ketimpangan baru yang tak disadari. Barangkali ini memang ...

Tarawih berpindah

-(Sabtu, 21 Februari 2026)- Sudah tiga malam ini saya berkeliling sholat tarawih. Maksudnya, saya berpindah-pindah dari mushola satu ke lainnya untuk tarawih. Ini saya lakukan untuk mendapatkan pengalaman baru—pengalaman memasuki ruang yang belum saya kenal, berdiri di tengah jamaah yang asing, dan merasakan suasana yang berbeda setiap malam. Barangkali dengan cara ini, saya sedang melatih diri agar lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Bukankah kemampuan beradaptasi kerap disebut sebagai kompetensi unggul yang mesti dimiliki oleh setiap orang yang ingin bertumbuh dan berjaya? Jika demikian, maka tarawih berpindah-pindah ini menjadi semacam latihan sosial yang sunyi—latihan tanpa tepuk tangan, tetapi penuh makna. Karena masih dalam radius yang tidak terlalu jauh, tiga mushola yang sudah saya ikuti sholat tarawihnya ternyata memiliki tradisi yang sama. Dari sisi bacaan surat, doa, hingga sholawat pada jeda antar dua rakaat, semuanya seragam. Seolah-olah ada satu irama besar ya...

Ego & narasi

-(Jumat, 20 Februari 2026)- Barangkali memang demikian watak manusia. Di balik dalil-dalil yang terdengar luhur, sering tersembunyi motif yang tak sepenuhnya murni—setidaknya demi kepentingan kelompoknya sendiri. Kita mengaku berbicara atas nama kebenaran, tetapi diam-diam menjaga wilayah kuasa masing-masing. Jika dua dalil sama-sama diyakini benar, bukankah mestinya kita bisa duduk bersama dan memilih salah satunya? Namun di titik itulah kenyataan menyingkap wajahnya: manusia tidak mudah menerima kekalahan, bahkan dalam urusan kebenaran. Kita lebih rela menciptakan “versi” daripada mengakui bahwa mungkin kita keliru. Maka lahirlah banyak kebenaran, masing-masing dengan benderanya sendiri. Dari sinilah relasi kuasa menemukan akarnya. Keinginan untuk tidak dikalahkan berkembang menjadi kebutuhan untuk menguasai. Kekuasaan lalu dipersepsikan sebagai alat untuk mewujudkan kesejahteraan. Tetapi pertanyaannya tak pernah sederhana: benarkah kekuasaan itu diperoleh demi banyak orang, atau ses...

Menunggu terbang

-(Kamis, 19 Februari 2026)- Saya kembali berada di dalam pesawat untuk sebuah penerbangan sekitar satu jam. Waktunya singkat, tetapi cukup untuk membuat siapa pun—termasuk saya—terjebak dalam kebosanan jika hanya duduk membisu. Maka, seperti sebuah kebiasaan yang nyaris refleks, saya meraih smartphone dari dalam tas. Mode pesawat sudah aktif. Aplikasi catatan pun terbuka. Dan saya mulai menulis. Entah sudah berapa kali ritual kecil ini saya lakukan. Mengalihkan kebosanan, mengisi waktu menunggu, dengan menulis. Bukan hanya hari ini. Kemarin iya, minggu lalu juga. Saat naik kereta api pun begitu. Bahkan jauh sebelum itu, pola yang sama terus berulang. Setiap kali waktu melambat, saya menulis. Seolah tulisan adalah jendela darurat untuk keluar dari ruang hampa bernama menunggu. Kebiasaan itu mengingatkan saya pada sebuah percakapan dengan seorang teman, beberapa waktu lalu. Ia bertanya tentang tips menulis. Jawaban saya sederhana—bahkan klise: sering menulis, memperbanyak jam terbang. Ke...

Pengulangan hidup

-(Rabu, 18 Februari 2026)- Ini tentu sebuah kesimpulan yang tergesa-gesa: pada satu waktu, hidup adalah pengulangan. Begitulah yang terjadi pada pagi itu. Saya kembali melewati jalur yang sama dan sejenak berhenti di tempat yang sama pula, dengan rutinitas yang pernah saya jalani lima hingga enam tahun silam. Nyaris tak ada yang berubah, baik kondisi maupun pemandangannya. Hanya di beberapa titik tampak bangunan baru berdiri. Selebihnya tetap sama. Itulah jalur tempat saya dulu pergi dan pulang bekerja. Sebuah jalur yang dahulu saya pilih agar bisa menghemat pengeluaran ongkos jalan tol. Saya sempat grogi ketika melintasi jalur itu, terutama saat jalanan mulai menanjak. Setelah sekian lama, kemampuan mengendarai di tanjakan dengan antrean mobil yang berjalan pelan cukup menegangkan, terutama ketika mobil di depan berhenti mendadak. Ini adalah situasi di mana penyelarasan antara kopling dan gas harus benar-benar pas. Padahal dulu, semua terasa santai dan saya sudah paham betul bagaimana...

Hantu oligarki

-(Selasa, 17 Februari 2026)- Belakangan ini, istilah oligarki kerap beredar di ruang publik. Ia diucapkan oleh politisi, diulang media, dan diperdebatkan di linimasa media sosial. Namun, semakin sering kata itu disebut, semakin besar pula tanda tanya yang tertinggal: siapa sebenarnya yang dimaksud dengan oligarki itu? Siapa saja mereka? Fenomena ini mengingatkan saya pada penyebutan istilah lain yang tak kalah samar: para garong, antek-antek asing. Kata-kata ini hidup dan beredar luas, tetapi jarang—bahkan nyaris tak pernah—diikuti penjelasan yang konkret. Tak ada daftar nama, tak ada struktur yang jelas, tak ada batas yang tegas. Yang ada hanyalah gema tuduhan, berulang-ulang, seolah cukup dengan menyebutnya, maknanya akan kita pahami bersama. Pertanyaan berikutnya menjadi menarik: orang-orang yang disebut sebagai oligarki itu, apakah mereka merasa dirinya oligarki? Rasanya sulit membayangkan ada seseorang yang dengan sukarela menyematkan label bernada negatif itu pada dirinya send...

Jejak program

-(Senin, 16 Februari 2026)- Dalam perjalanan pulang menuju kampung halaman, saya melewati desa demi desa. Jalan yang sama, langit yang serupa, tetapi pada beberapa titik saya menangkap pemandangan baru: berdirinya dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Bangunan-bangunan itu hadir seperti penanda zaman, yang sarat makna. Saya tahu, dan kita semua tahu, mengapa SPPG didirikan. Ia adalah bagian dari program besar pemerintah: makan bergizi gratis bagi anak-anak sekolah. Di titik-titik lain perjalanan, terlihat pula proses pembangunan gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Ini pun bukan proyek biasa, melainkan program prioritas pemerintahan saat ini. Dua program, dua wujud fisik, satu pesan: negara sedang bekerja hingga ke pelosok. Sebagaimana hampir semua kebijakan publik berskala besar, pro dan kontra pun mengiringi langkahnya. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah banyak disorot. KDMP juga tak luput dari perdebatan, terutama terkait implikasinya terhadap alokasi dana desa....

Jalur kenangan

-(Minggu, 15 Februari 2026)- Setelah sekian lama tak menaiki kereta yang melintasi jalur selatan, hari itu saya kembali menempuh lintasan itu. Jalur kenangan, barangkali. Dahulu, selama beberapa tahun, saya melewatinya hampir setiap pekan. Ada jejak kebiasaan yang terasa samar, seperti ingatan lama yang tiba-tiba disentuh ulang. Masih musim hujan. Maka pemandangan di kiri dan kanan rel didominasi warna hijau yang berlimpah. Sawah terbentang, pemukiman desa menyelip di antaranya, rerumputan dan pepohonan tampak rimbun—seolah alam sedang berpidato lirih: oh nikmat air hujan mana lagi yang hendak kami dustakan . Hijau yang subur, segar, dan nyaris berlebihan. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar tujuh jam. Sejak awal saya sudah berprasangka: kegabutan akan segera menyerang. Duduk sendiri di kursi dekat jendela, dalam suasana kereta yang cenderung seragam, selama berjam-jam. Kita saja kerap tak sabar menunggu lampu merah yang hanya beberapa menit, apalagi duduk diam selama tujuh jam p...

Bulan madu

-(Sabtu, 14 Februari 2026)- Sebenarnya saya tidak berniat menuliskan pengalaman ini. Ada sesuatu yang sejak awal membuat kami memilih menyimpannya sebagai cerita lisan—dibagikan pelan-pelan kepada keluarga dan sahabat terdekat saja. Kami khawatir, kisah ini justru menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan kecemburuan, bagi orang lain. Namun waktu berjalan. Usia bertambah. Ingatan, pelan tapi pasti, mulai menunjukkan tanda-tanda rapuh. Saya tidak ingin sebuah pengalaman berharga—yang kelak mungkin hanya tersisa sebagai serpihan kenangan—ikut menghilang bersama memudarnya daya ingat. Maka tulisan ini saya hadirkan, sebagai jejak. Sebagai pengingat. Sebagai bentuk syukur. Ini adalah sepotong kisah kami ketika menunaikan ibadah haji tahun 2025 lalu. Sebuah kisah yang tidak—atau belum—kami masukkan ke dalam buku yang telah kami terbitkan. Setelah menempuh penerbangan yang cukup lama dan bersambung dengan transportasi bus, kami tiba di Makkah pada malam hari dan langsung menuju hotel yang te...

Simulasi batin

-(Jumat, 13 Februari 2026)- Pukul 04.50 saya duduk di dalam kereta yang berhenti di Stasiun Kutoarjo. Dari balik kaca jendela—yang sebenarnya bukan jendela dalam pengertian biasa, karena tak bisa dibuka dan hanya boleh dipecahkan dalam keadaan darurat—terbaca jelas sebuah tulisan: Kutoarjo +16M. Entah kenapa, tulisan itu terasa seperti penanda: bukan sekadar jarak, melainkan jeda. Beberapa saat sebelum kereta berhenti, saya berada dalam posisi duduk, menunaikan salat Subuh. Beberapa jam sebelumnya—bahkan sebelum saya naik kereta—kepala saya sudah sibuk menyusun rencana, membuat bayangan, dan memutar simulasi tentang satu hal yang tampaknya sepele: bagaimana saya akan berwudhu sebelum sholat subuh itu. Begini masalahnya. Dalam perjalanan tiga hari itu, saya mengenakan sepatu dan tidak membawa sandal cadangan. Lalu, bagaimana nanti ketika harus berwudhu di kereta? Orang mungkin akan dengan ringan berkata, “Tayamum saja, kan sedang di perjalanan.” Masuk akal. Apalagi di dalam kereta. ...

Membaca pola

-(Kamis, 12 Februari 2026)- Perilaku, keputusan, dan tindakan—termasuk kebijakan—tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia berakar dari pendidikan, latar belakang, lingkungan, relasi, serta cara berpikir yang lama tertanam dalam diri seseorang. Jika kita menyadari hal ini dan mampu membaca polanya, maka memahami seseorang menjadi jauh lebih mudah. Bahkan, dalam situasi tertentu, kita bisa mengantisipasi langkahnya, menghindarinya, atau—dalam arti tertentu—mengalahkannya. Kesadaran inilah yang membuat pembacaan pola menjadi penting dalam konteks kepemimpinan dan kebijakan negara. Ketika pola kebijakan seorang pemimpin bisa dikenali, kita tidak lagi sepenuhnya berada dalam posisi reaktif. Kita bisa mencari celah untuk melawan, atau setidaknya membangun perlindungan diri dari dampak buruk yang mungkin ditimbulkannya. Membaca pola bukan soal menebak-nebak, melainkan usaha memahami konsistensi tindakan yang berulang. Dalam lingkup yang lebih kecil, misalnya di sebuah organisasi, logika yang s...

Mendengar manajer

-(Rabu, 11 Februari 2026)- Ketika bertemu dengan kolega yang berada pada jabatan setara, sering kali percakapan mengalir ke satu muara yang sama: keluh kesah tentang kinerja anggota tim. Ragamnya pun nyaris seragam. Ada yang mengeluhkan perilaku tidak disiplin, minimnya inisiatif, hingga sikap yang terlalu kaku dalam bekerja dan menyikapi ketentuan, yang pada akhirnya justru memantik kegaduhan di lapangan. Jika ditelisik lebih dalam, persoalan ini kerap berakar pada satu hal mendasar: ekspektasi. Ada harapan yang dibangun, ada gambaran ideal tentang bagaimana anggota tim seharusnya bersikap dan bekerja. Ketika realitas tidak sejalan dengan bayangan itu, muncullah rasa kecewa. Dan dari kekecewaan itulah, keluh kesah menemukan suaranya. Namun, memberi solusi atas keluhan semacam ini bukan perkara sederhana. Apa yang berhasil kita lakukan di satu tempat, belum tentu relevan di tempat lain. Lingkungan kerja, budaya organisasi, hingga latar belakang personal tiap individu membentuk konte...

Generalisasi prematur

-(Selasa, 10 Februari 2026)- Bagaimana mungkin dua atau tiga kasus—yang bahkan melibatkan tak sampai sepuluh orang—kemudian dianggap mewakili kondisi keseluruhan? Padahal populasi yang dimaksud mencakup puluhan ribu personel. Di titik ini, logika sederhana pun seharusnya cukup untuk mengingatkan kita: ada jarak yang terlampau jauh antara fakta terbatas dan kesimpulan menyeluruh. Maka, meski pernyataan itu disampaikan oleh seseorang dengan latar akademis, tetap saja sulit menafikan kesan bahwa ia lahir lebih dari rasa geram ketimbang dari kejernihan nalar. Yang lebih mencemaskan, segelintir peristiwa itu lalu diperlakukan seolah cermin utuh dari perilaku seluruh populasi. Dari sudut pandang ilmiah, sampelnya jelas tidak memadai; dari sudut pandang kemanusiaan, pendekatan ini terasa tergesa dan melukai. Generalisasi semacam ini bukan hanya keliru secara metodologis, tetapi juga menyisakan rasa tidak adil bagi mereka yang setiap hari bekerja dengan integritas, namun tiba-tiba harus mena...

Target sunyi

-(Senin, 9 Februari 2026)- Sudah berbulan-bulan, bahkan nyaris setahun, saya berupaya keras untuk menulis setiap hari. Selain sekadar meniru apa yang dilakukan Pak Dahlan Iskan, menulis harian bagi saya adalah ruang untuk menuangkan pikiran, keluh kesah, dan sesekali sekadar coretan curahan perasaan. Harapannya sederhana: agar semuanya tidak menumpuk di kepala dan berubah menjadi beban yang menyesakkan. Menulis, dalam bayangan saya, adalah katup pelepas stres. Meski ironisnya, bagi sebagian orang, menulis justru menjadi sumber stres itu sendiri. Sebuah paradoks yang sejak awal saya sadari. Barangkali paradoks itu pelan-pelan menjelma nyata dalam diri saya. Alih-alih menjadi pelepas, menulis setiap hari berubah menjadi target yang mengejar. Saya mulai stres memikirkan tema: hari ini menulis apa lagi? Rasanya hampir semua hal sudah saya tuliskan. Apa pun yang sempat nyantol di kepala, pernah saya tuangkan. Seolah-olah gudang ide itu mulai kosong, atau setidaknya tampak kosong di mata s...

Dunia kecil

-(Minggu, 8 Februari 2026)- Guo Jing berkata, “Dunia ini luas. Aku tak akan kehilanganmu lagi. Tidak akan.” Huang Rong menjawab, “Jika sungguh mencari, sebenarnya dunia ini kecil.” ( Film Legends of The Condor Heroes: The Gallants ) Kalimat-kalimat itu keluar dari mulut dua tokoh dalam film tersebut, pada saat mereka akhirnya bertemu kembali setelah lama berpisah. Sebuah pertemuan yang mengharukan, mengingat betapa lama rindu dipendam, betapa dalam rasa saling kehilangan, dan tentu saja—betapa kuat cinta yang mereka jaga. Apa yang bisa kita interpretasikan dari percakapan dua insan itu? Boleh jadi Guo Jing beranggapan bahwa ia kehilangan orang yang dicintainya karena dunia yang terlalu luas. Dunia yang memungkinkan manusia saling menjauh, tersesat, dan tak saling menemukan. Maka ucapannya terdengar seperti janji sekaligus tekad: ia tak ingin lagi kalah oleh jarak dan keadaan, tak ingin lagi kehilangan Huang Rong. Namun justru respons Huang Rong yang terasa menohok dan reflektif. Sejat...