Postingan

Pilihan Hari Ini

Gerimis pergi

-(Selasa, 11 November 2025)- Gerimis sore masih saja turun saat penumpang diminta untuk boarding. Karena itulah, tak ada penumpang yang diminta naik lewat pintu belakang. Maka, diatur agar penumpang dengan nomor kursi 20 ke atas diminta naik lebih dahulu. Saya pun sabar menunggu giliran untuk naik pesawat, sebab nomor kursi saya tergolong kecil. Artinya, tak selalu nomor urut kecil diberikan kesempatan lebih dahulu. Padahal mungkin, sebagian dari kita memilih nomor kecil dengan harapan akan dipanggil lebih cepat. Seperti biasa, selalu ada perasaan bahwa sesuatu tertinggal setiap kali akan pergi. Entahlah apa benda atau sesuatu itu, sebab saya belum juga menyadari apa yang sebenarnya tertinggal. Bisa jadi bukan benda, melainkan suatu perasaan. Perasaan yang entah mengapa selalu muncul setiap kali harus meninggalkan sesuatu. Mungkin memang sudah kodratnya begitu: bahwa setiap perpisahan membawa sejumput kehilangan yang tak dapat dijelaskan. Mungkin pula suasana sore dengan gerimis it...

Lebaran usai

-(Selasa, 24 Maret 2026)- Barangkali beginilah wajah Lebaran bagi kebanyakan orang. Pagi dimulai dengan baju baru, langkah beriring menuju masjid untuk menunaikan salat Idulfitri. Setelah itu, halal bi halal di halaman masjid—saling berjabat tangan, berpelukan, menukar maaf yang sering kali terasa hangat namun singkat. Lalu pulang, berkumpul di rumah orang tua atau di satu tempat yang disepakati, kembali bersalaman, lalu makan bersama. Dan Lebaran pun, tanpa kita sadari, seperti selesai sebelum tengah hari. Setelah itu, hidup segera mencari bentuknya yang lain. Kafe mulai ramai, cangkir kopi jadi teman, dan unggahan di media sosial menjadi cara baru merayakan. Hari berikutnya, agenda bergeser: piknik, perjalanan ke pantai, kebun binatang, atau pegunungan. Libur berubah menjadi pelarian kecil dari rutinitas—atau mungkin dari keheningan yang seharusnya kita hadapi. Di tengah semua itu, ada hal yang sering luput. Ketika mestinya momen ini menjadi ruang untuk benar-benar bersilaturahmi...

Tiang retak

-(Senin, 23 Maret 2026)- Barangkali, langkah paling masuk akal dalam situasi saat ini adalah menahan diri—berhenti memperluas program-program yang dilabeli sebagai “strategis” oleh pemerintah. Sebab realitas keuangan tampaknya sudah lama bergeser dari keseimbangan. Ia lebih menyerupai peribahasa lama: besar pasak daripada tiang. Bedanya, kini pasak itu seolah terus membengkak, seperti disengat ribuan tawon—menggelembung tanpa kendali. Ketika pasak yang kian besar itu dipaksa menancap pada tiang yang rapuh, yang terjadi bukan sekadar goyah, melainkan patah. Dan saat tiang patah, bangunan yang disangganya pun ikut runtuh. Namun pertanyaannya: apakah pilihan itu akan benar-benar diambil? Di balik layar, bisa dibayangkan betapa rumitnya situasi yang dihadapi para menteri, terutama yang mengurusi sektor ekonomi. Defisit anggaran sudah berdiri di depan mata—terang, tak lagi bisa disamarkan. Secara teoritis, jalan keluarnya sederhana: kurangi pengeluaran. Tapi negara bukan rumah tangga. Ke...

Membaca esok

-(Minggu, 22 Maret 2026)- Manusia, dengan segala hasrat dan kegelisahannya, selalu terdorong untuk mengintip masa depan. Tidak harus jauh—kadang cukup besok, minggu depan, atau bahkan satu jam dari sekarang. Ada semacam dorongan sunyi dalam diri kita untuk memastikan bahwa apa yang belum terjadi setidaknya bisa dipahami, atau setidaknya diperkirakan. Dari situlah lahir berbagai cara. Dengan bekal data dan informasi, manusia menyusun prediksi—merangkai hipotesis dari hubungan sebab akibat, mencoba menarik benang tipis antara apa yang terjadi hari ini dan apa yang mungkin terjadi nanti. Di sisi lain, ada pula pendekatan yang bertumpu pada masa lalu: pengalaman, sejarah, pola-pola yang berulang. Kita membaca jejak yang pernah ada, lalu memproyeksikannya ke masa kini, seolah masa depan adalah bayangan yang mengikuti langkah masa lalu. Namun usaha manusia tidak berhenti di sana. Ada yang melangkah lebih jauh, menggunakan kerangka seperti teori permainan atau berbagai pendekatan akumulati...

Birokrasi bernapas

-(Sabtu, 21 Maret 2026)- Saya sedang merancang sebuah misi baru. Sebuah penugasan yang terasa personal sekaligus struktural: mendorong birokrasi agar kembali relevan dengan zamannya. Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya tidak: bagaimana membebaskan birokrasi dari jerat ritual administrasi yang berlebihan? Sebab hari ini, kita menyaksikan ironi—energi para ASN, termasuk generasi muda yang mestinya lincah dan adaptif, justru habis untuk menyusun laporan, notulensi, dan berkas-berkas yang sering kali lebih sibuk membuktikan kegiatan daripada menghadirkan dampak. Dari kegelisahan itu, saya merumuskan arah: menuju outcome bureaucracy. Sebuah birokrasi yang menempatkan hasil sebagai pusat gravitasi, bukan dokumen. Dokumen tetap ada, tetapi secukupnya—sebagai alat, bukan tujuan. Dampaklah yang menjadi ukuran utama. Langkah pertama yang saya tempuh adalah mencari pijakan. Saya ingin memastikan bahwa gagasan ini bukan sekadar idealisme yang mengawang. Saya mulai menelusuri praktik di n...

Retak lebaran

-(Jumat, 20 Maret 2026)- Perbedaan dalam memulai Lebaran selalu kembali, tahun demi tahun, seolah menjadi pengingat sunyi bahwa persatuan nasional bukan perkara sederhana. Ia bukan sekadar soal kalender atau metode penentuan, melainkan cermin dari sesuatu yang lebih dalam: cara kita memandang kebenaran, otoritas, dan—barangkali—ego kita sendiri. Di satu sisi, setiap kelompok berdiri di atas dalil dan argumentasi yang sama-sama diyakini sahih. Tidak ada yang merasa sedang keliru. Namun justru di situlah paradoksnya: ketika semua merasa benar, siapa yang bersedia melangkah setengah langkah ke belakang? Mengapa ada yang tergesa mengumumkan lebih awal, sementara yang lain memilih menunggu sidang panjang dan prosedural? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak pernah benar-benar selesai dijawab, hanya berulang dalam bentuk yang sama, seperti ritus tahunan yang tak tertulis. Padahal, jika ditarik lebih dalam, persoalan ini bukan semata perbedaan metode hisab dan rukyat. Ia menyentuh relasi antara ...

Riuh senja

-(Kamis, 19 Maret 2026)- Jalanan sore dipenuhi kendaraan yang merayap pelan, seolah waktu ikut tersendat di antara klakson dan lampu rem yang menyala. Di beberapa titik, kemacetan tak terelakkan—bertemu dengan lampu lalu lintas yang tak pernah benar-benar lengang. Di sisi lain jalan, pasar takjil tumbuh seperti oase musiman: ramai, hangat, dan penuh harap. Beginilah wajah kota menjelang berbuka di bulan Ramadan—padat, hiruk, sekaligus hidup. Barangkali keramaian ini bukan semata rutinitas tahunan. Ada arus lain yang ikut mengalir: para pemudik yang mulai pulang, membawa rindu sekaligus daya beli. Mereka bukan hanya kembali ke kampung halaman, tetapi juga menggerakkan denyut ekonomi lokal. Ditambah lagi dengan agenda buka bersama—reuni kecil yang menjelma menjadi tradisi sosial—membuat rumah makan dan warung penuh reservasi, bahkan kewalahan melayani. Kota seperti bernafas lebih cepat dari biasanya. Dari kejauhan, pemandangan ini mudah dibaca sebagai tanda: ekonomi baik-baik saja. Se...

Mengulang kembali

Gambar
-(Rabu, 18 Maret 2026)- Setelah berpisah dengan ketupat Kandangan, paliat, pundhut, mandai, dan aneka wadai, sebentar lagi saya akan kembali bertemu dengan coto, sinonggi, tuli-tuli, kasuami, saraba, konro, dan berbagai kuliner khas lainnya. Sesungguhnya itu semua bukanlah sesuatu yang baru bagi saya. Di sanalah sebagian dari masa silam pernah berlangsung—sebuah bab lama dalam kehidupan yang kini seperti hendak dibuka kembali. Pada titik itulah teori tergesa-gesa yang sempat terlintas di kepala saya tempo hari seolah menemukan pembenarannya: pada suatu waktu, hidup hanyalah serangkaian pengulangan. Bahkan jika kita melihat lebih luas, sejarah peradaban manusia pun tampak bergerak dalam pola yang sama. Konflik dan perang yang terjadi hari ini, pada dasarnya hanyalah gema dari peristiwa-peristiwa lama yang pernah berlangsung di masa silam. Seakan-akan manusia tak pernah sungguh-sungguh belajar dari sejarah—bahwa setiap perang pada akhirnya hanya memperpanjang derita kehidupan. Atau mu...

Optimisme sunyi

-(Selasa, 17 Maret 2026)- Barangkali apa yang kita baca di media sosial sebenarnya hanyalah gema dari segelintir suara. Suara yang keras, berulang, dan tampak ramai—tetapi belum tentu mewakili denyut pikiran mayoritas masyarakat. Ia lebih mirip riak di permukaan air: tampak jelas dari jauh, namun belum tentu menggambarkan arus yang sesungguhnya bergerak di bawahnya. Mungkin itulah sebabnya pemerintah tidak selalu tergesa menanggapi berbagai opini yang beredar di ruang digital. Dari sudut pandang mereka, suara yang begitu riuh di media sosial belum tentu berbanding lurus dengan realitas di lapangan. Jika kita menengok kondisi sehari-hari, terutama di bulan Ramadan dan menjelang Lebaran seperti sekarang, gambaran yang tampak justru terasa biasa saja—bahkan cenderung hidup. Jalanan sore hari penuh dengan orang yang berburu makanan untuk berbuka. Rumah makan ramai oleh keluarga dan pekerja yang menunggu azan magrib, sementara di atas meja sudah tersaji hidangan yang siap disantap. Ada g...

Mesin daerah

-(Senin, 16 Maret 2026)- Ada satu percakapan di media sosial yang cukup menggelitik perhatian saya. Semuanya bermula dari sebuah pertanyaan sederhana: di provinsi ini, kabupaten atau kota mana yang berjalan dengan “autopilot”? Maksudnya tentu bukan dalam arti harfiah, melainkan sindiran bagi daerah yang terasa seperti berjalan tanpa nahkoda—ketika pemimpinnya dianggap tidak benar-benar bekerja untuk rakyatnya. Jawaban dari pertanyaan itu mengalir deras. Satu per satu nama kabupaten dan kota disebut. Bersamaan dengan itu, muncul pula rentetan keluhan: jalan yang bertahun-tahun tetap berlubang, parkiran yang semrawut, hingga wajah infrastruktur yang terasa tak pernah berubah sejak dulu. Di sela-sela kritik itu, sesekali muncul pula cerita tentang kepala daerah yang berakhir dengan operasi tangkap tangan oleh KPK. Fenomena ini menarik. Kritik masyarakat rupanya tidak lagi hanya diarahkan kepada pemerintah pusat. Justru perhatian mulai bergeser ke pemerintah daerah. Ini sesuatu yang waj...

Belum berhasil

-(Minggu, 15 Maret 2026)- Ada satu penyesalan kecil yang tersisa setelah saya pergi dari daerah itu: saya belum sempat melakukan “ritual perpisahan” dengan sepiring ketupat Kandangan. Barangkali ia memang salah satu menu favorit di antara banyak makanan lain yang saya sukai—meski sebenarnya saya bukan tipe orang yang fanatik pada satu jenis kuliner. Namun waktu dan keadaan sepertinya tidak memberi ruang untuk ritual sederhana itu. Saya pergi begitu saja, tanpa sempat menutup bab itu dengan rasa yang dulu kerap saya nikmati. Tentu saja, jika dipikir-pikir, penyesalan ini tidak sungguh-sungguh soal makanan. Ketupat Kandangan itu lebih seperti penanda—sebuah simbol kecil dari sesuatu yang lebih besar: episode kehidupan yang berakhir tanpa jeda refleksi yang cukup. Setelah meninggalkan satu fase kehidupan, selalu ada pertanyaan yang tertinggal seperti gema di ruang kosong. Mengapa saya baru di akhir masa penugasan berkeliling ke masjid dan mushola? Mengapa saya tidak membawa pulang seb...