Mengulang kembali
-(Rabu, 18 Maret 2026)-
Setelah berpisah dengan ketupat Kandangan, paliat, pundhut, mandai, dan aneka wadai, sebentar lagi saya akan kembali bertemu dengan coto, sinonggi, tuli-tuli, kasuami, saraba, konro, dan berbagai kuliner khas lainnya.
Sesungguhnya itu semua bukanlah sesuatu yang baru bagi saya. Di sanalah sebagian dari masa silam pernah berlangsung—sebuah bab lama dalam kehidupan yang kini seperti hendak dibuka kembali.
Pada titik itulah teori tergesa-gesa yang sempat terlintas di kepala saya tempo hari seolah menemukan pembenarannya: pada suatu waktu, hidup hanyalah serangkaian pengulangan.
Bahkan jika kita melihat lebih luas, sejarah peradaban manusia pun tampak bergerak dalam pola yang sama. Konflik dan perang yang terjadi hari ini, pada dasarnya hanyalah gema dari peristiwa-peristiwa lama yang pernah berlangsung di masa silam. Seakan-akan manusia tak pernah sungguh-sungguh belajar dari sejarah—bahwa setiap perang pada akhirnya hanya memperpanjang derita kehidupan. Atau mungkin memang demikianlah takdirnya: manusia berjalan dalam lingkaran yang sama, menghidupi kembali cerita-cerita lama dalam bentuk yang sedikit berbeda.
Namun pengulangan tidak selalu berarti kebuntuan. Pada titik tertentu, ia justru melahirkan romantisasi. Seperti yang barangkali akan saya alami. Ketika kenangan lama telah mengendap dan menjelma menjadi sesuatu yang indah dalam ingatan, tiba-tiba hidup memberikan kesempatan untuk menjalaninya kembali—datang lagi ke tempat yang sama setelah puluhan tahun berlalu.
Diam-diam saya membatin: ini sebuah gagasan yang cerdas. Sebab dengan pola seperti itu, barangkali resistensi seseorang yang dipindahkan kembali ke tempat awal kariernya dapat berkurang. Tempatnya mungkin terasa jauh, tetapi karena ia pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup sebelumnya, ada semacam keseimbangan batin yang tercipta.
Perasaan pun menjadi ganjil: sebagian diri merasa sedih, sebagian lainnya justru gembira. Dua emosi itu bertemu dan saling meniadakan, hingga yang tersisa hanyalah perasaan yang tampak biasa saja—tenang, nyaris datar.
Dengan strategi mutasi semacam itu, secara halus tercipta sebuah fiksi kecil tentang romantisasi masa lalu. Sebagian orang bahkan mungkin merasa beruntung, dibandingkan jika harus dipindahkan ke tempat yang sepenuhnya asing.
Barangkali begitulah naluri manusia bekerja. Ketika kita berada di tempat yang benar-benar baru, tubuh dan pikiran secara naluriah menyalakan kewaspadaan. Energi adaptasi harus disetel tinggi—membaca situasi, mengenali orang-orang, memahami irama kehidupan yang belum pernah kita kenal sebelumnya. Semua itu, pada akhirnya, terasa melelahkan.
Sebaliknya, ketika kita kembali ke tempat yang pernah kita singgahi, rasa asing itu berkurang. Kita seperti berjalan di jalan lama yang pernah kita hafal. Ada rasa terbiasa yang diam-diam menyelimuti langkah.
Dan dari situlah, tanpa kita sadari, sebuah zona nyaman perlahan terbentuk—bukan karena tempat itu tidak berubah, melainkan karena sebagian dari diri kita pernah tinggal di sana.
