Pohon fitrah
-(Minggu, 29 Maret 2026)-
Salah satu tradisi yang menghidupkan malam-malam Ramadan adalah tadarus bersama di masjid selepas salat tarawih. Ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan secara bergantian, disimak dengan khidmat, seolah setiap huruf menemukan ruangnya sendiri di hati para pembacanya. Dalam satu malam, biasanya satu juz menjadi target. Di penghujung Ramadan, ritmenya bahkan bisa dipercepat hingga dua juz. Maka tanpa terasa, sebelum bulan suci itu benar-benar pamit, Al-Qur’an telah khatam lebih dulu.
Dari sanalah lahir satu tradisi lanjutan: khataman. Sebuah penutup yang bukan sekadar seremonial, tetapi juga penanda perjalanan spiritual yang dilalui bersama. Dan itulah yang terjadi pada satu malam di penghujung Ramadan di masjid kami.
Namun, cerita ini tidak bermula di sana. Ia justru berakar dari pagi harinya—dari sebuah kegelisahan sederhana tentang bagaimana membuat anak-anak turut hadir, bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari pengalaman itu sendiri.
Sebagai salah satu yang mengelola operasional Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), dia memikirkan lebih jauh dari sekadar meramaikan acara. Tujuannya lebih dalam: mengajak anak-anak terbiasa datang ke masjid, ikut salat Isya berjamaah, lalu bertahan hingga tarawih. Ia ingin membangun kebiasaan, bukan sekadar kehadiran sesaat. Sebab pendidikan, pada akhirnya, adalah soal pembiasaan yang perlahan menubuh.
Kebetulan, Ramadan dan Lebaran juga membawa satu tradisi lain di kampung kami: berbagi uang saku, yang akrab disebut “fitrah.” Tradisi ini lalu dijadikan jembatan—atau mungkin umpan yang halus—untuk menarik anak-anak datang. Meski sebenarnya mereka sudah cukup rutin hadir setiap malam, momentum khataman ini terasa tepat sebagai puncak, sekaligus bentuk penghargaan kecil atas kebersamaan mereka selama Ramadan. Apalagi, ada donatur yang dengan tulus ingin berbagi.
Namun baginya, membagikan fitrah begitu saja terasa hambar. Di situlah ide itu muncul—sederhana, tapi memikat: pohon fitrah.
Ranting-ranting dikumpulkan, disusun menyerupai pohon kecil, lalu digantungi amplop-amplop warna-warni berisi uang. Sebuah visual yang mungkin biasa saja bagi orang dewasa, tetapi bagi anak-anak, bisa menjelma menjadi sesuatu yang magis—seperti menemukan “buah” yang bisa dipetik langsung dengan tangan sendiri.
Pagi itu, saya melihat bagaimana ide itu diwujudkan dengan kesungguhan yang nyaris seperti seorang seniman merangkai karyanya. Ia tidak sekadar membuat properti acara, tetapi sedang merancang pengalaman. Dan di satu titik, saya harus mengakui: ada ketulusan sekaligus kecerdikan dalam gagasan itu yang membuat saya diam-diam kagum.
Barangkali, yang sedang ia tanam bukan hanya ranting dan amplop, melainkan kenangan. Sebuah pengalaman kecil yang kelak bisa melekat lama di ingatan anak-anak itu—tentang masjid yang hangat, tentang Ramadan yang menyenangkan, tentang ibadah yang tidak terasa berat.
Dan siapa tahu, di masa depan, ketika dunia menawarkan begitu banyak distraksi, kenangan sederhana itu akan muncul kembali—menjadi semacam penunjuk arah yang mengingatkan mereka ke mana seharusnya pulang.