Ritme ramadhan
-(Minggu, 8 Maret 2026)-
Dua bulan dari tahun 2026 ini telah terlewati. Sisa waktu untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 6% tinggal 10 bulan. Namun bulan Maret masih ada Ramadhan dan akan ada libur panjang Lebaran. Artinya, birokrasi mungkin tak sepenuhnya bekerja penuh.
Dengan demikian, sisa waktu efektif bisa jadi hanya 9 bulan alias 3 triwulan. Pertanyaannya, apakah target belanja pemerintah pada triwulan 1 akan tercapai? Tentu ini bukan hanya soal belanja pemerintah pusat, tetapi juga belanja daerah dan belanja desa. Rasa-rasanya masih harus dikejar agar dorongan fiskal di awal tahun benar-benar terasa.
Namun, keberkahan Ramadhan dan Lebaran hampir selalu membawa dampak ekonomi yang signifikan. Konsumsi rumah tangga meningkat, perputaran uang menguat, dan ini biasanya menjaga laju pertumbuhan ekonomi triwulan 1 tetap sesuai target. Ada pola yang berulang dari tahun ke tahun.
Apalagi dengan rencana pembayaran THR di bulan Ramadan. Ini tentu akan semakin meningkatkan belanja masyarakat, yang pada gilirannya membuat roda ekonomi berputar lebih cepat. Dana yang cair menjelang hari raya jarang mengendap; ia mengalir ke pasar, ke pusat belanja, ke sektor jasa dan transportasi.
Kenyataannya, meski ada anjuran untuk tetap berkinerja tinggi di bulan Ramadan, faktanya jam kerja memang dikurangi. Para birokrat nampaknya berusaha menjaga puasanya dengan tidak berlama-lama di kantor. Ini tentu berpengaruh pada output. Di satu sisi ada dorongan spiritual, di sisi lain ada tuntutan produktivitas.
Dan begitulah realitas yang setiap tahun mesti dihadapi. Pola yang sama berulang. Meski demikian, Ramadhan dan Lebaran selalu membawa berkah dan semangat bagi warga masyarakat, baik secara sosial maupun ekonomi.
Jika benar begitu, dan memang angka-angka selalu menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi pada momen tersebut, muncul pertanyaan sederhana: bagaimana jika di bulan lain diciptakan momen hari-hari di mana konsumsi masyarakat bisa lebih meningkat?
Bisa jadi ada puasa 3 hari selama bulan purnama setiap bulan itu, dijadikan momen bersama. Barangkali perlu kampanye yang lebih masif agar masyarakat tergugah setiap bulan untuk melakukan puasa selama 3 hari itu. Dan di saat itulah puncak kuliner buka puasa bisa terus berlanjut pada setiap bulannya.
Apakah gagasan ini masuk akal?