Malam terbelah
-(Sabtu, 7 Maret 2026)-
Saat pulang tarawih, saya melihat pemandangan yang membuat hati terasa miris. Anak-anak muda duduk lesehan di angkringan dan kafe-kafe. Mereka bercengkerama, tertawa, larut dalam obrolan. Seolah-olah mereka tak peduli bahwa malam itu ada satu ibadah yang sebenarnya rugi jika dilewatkan: sholat tarawih.
Pemandangan sederhana itu justru menimbulkan gelombang pertanyaan dalam pikiran saya.
Apakah mereka mulai mengabaikan anjuran untuk memperbanyak ibadah di bulan puasa? Ataukah ini soal pemahaman agama yang belum kokoh? Bisa jadi juga sekadar persoalan gaya hidup dan lingkungan pergaulan. Atau mungkin mereka merasa jenuh dengan ritual tarawih yang terkadang berlangsung panjang dan terasa monoton.
Namun di tengah kegelisahan itu, ketika saya teringat anak-anak muda yang masih rajin mengikuti tarawih, hati saya justru dipenuhi rasa hormat. Terlebih lagi mereka yang menjadi imam masjid atau bilal saat kegiatan tarawih. Itu bukan sekadar kehadiran fisik di saf, melainkan tanda adanya pemahaman dan kesadaran religius yang tumbuh dari dalam diri—sesuatu yang tidak semua anak muda miliki.
Karena itu, sebelum kita menyudutkan mereka yang lebih memilih nongkrong, ada baiknya kita melakukan introspeksi. Mungkin yang perlu dievaluasi bukan hanya pilihan mereka, tetapi juga bagaimana aktivitas masjid selama Ramadan dikemas. Dari tahun ke tahun, kegiatan sering kali berjalan dengan pola yang sama, tanpa sentuhan kreativitas yang menyentuh dunia anak muda. Tentu bukan dalam ranah ibadah mahdhah yang sudah baku, melainkan dalam cara menghadirkan suasana, kebersamaan, dan makna yang lebih relevan.
Fakta yang kita saksikan pun cukup jelas: isi masjid lebih banyak diisi orang tua dan anak-anak. Lalu ke mana generasi mudanya? Ya, sebagian dari mereka memilih nongkrong.
Tulisan ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk merenung. Sebab mungkin masalahnya bukan sekadar pada siapa yang datang atau tidak datang ke masjid, tetapi pada bagaimana kita bersama-sama membangun ruang yang membuat generasi muda merasa terlibat, bukan terasing.