Officially, dr. Wau
-(Senin, 11 Mei 2026)-
Pada akhirnya, kami sampai juga di titik itu: sumpah dokter. Sejak pagi ia sudah dirias. Wajahnya tampak bahagia, meski saya tahu hari itu bukan sekadar acara seremonial. Ada perjalanan panjang yang sedang diringkas dalam beberapa jam. Dan seperti banyak peristiwa penting dalam hidup, semuanya tampak sederhana di permukaan, padahal di belakangnya tersimpan bertahun-tahun kelelahan, kecemasan, dan ketekunan yang nyaris tidak terlihat.
Hari itu ada 75 dokter yang disumpah, dan ia menjadi salah satunya. Kami bersyukur ia mampu menuntaskan pendidikan itu tepat waktu. Rasa syukur itu terasa semakin besar ketika mengingat bahwa saat pertama masuk kuliah, jumlah mahasiswa seangkatannya sekitar 200 orang. Artinya: ada sebagian besar teman-temannya yang masih terus berjuang.
Karena itu, pagi-pagi kami sudah berada di kampus untuk mendampinginya. Kami datang bukan hanya sebagai keluarga, melainkan sebagai saksi dari sebuah perjalanan yang perlahan membentuk dirinya. Dengan undangan di tangan, kami dipersilakan masuk ke aula yang telah ditata rapi. Kursi-kursi tersusun teratur, acara dipersiapkan dengan penuh kehati-hatian, seolah semua orang memahami bahwa hari itu bukan sekadar penutupan studi, melainkan penanda lahirnya tanggung jawab baru.
Ada suasana yang berbeda dibanding wisuda biasa. Wisuda sering kali terasa seperti perayaan kelulusan. Tetapi sumpah dokter menghadirkan sesuatu yang lebih dalam: peralihan dari belajar menjadi mengabdi. Di ruangan itu, kami tidak hanya melihat anak-anak muda menerima gelar, tetapi juga menyaksikan bagaimana sebuah profesi menyerahkan amanahnya kepada generasi berikutnya.
Sebelum prosesi sumpah dimulai, biodata singkat dari masing-masing dokter baru dibacakan satu per satu, termasuk nama orang tua mereka. Di momen itu, saya merasa bahwa keberhasilan seseorang sesungguhnya tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Di belakang seorang dokter baru, selalu ada orang tua yang ikut menahan cemas, menyimpan harapan, dan diam-diam ikut berjuang dengan caranya sendiri.
Lalu mereka berdiri bersama, dipandu mengucapkan sumpah dokter—sumpah versi kampus dan sumpah dokter nasional. Kalimat-kalimat itu terdengar formal, tetapi di baliknya tersimpan janji yang berat: tentang tanggung jawab terhadap hidup manusia, tentang ilmu yang harus dijaga dengan nurani.
Bagi kami, puncak dari seluruh acara itu justru datang pada momen yang sederhana: ketika namanya dipanggil maju. Satu per satu para dokter baru berjalan ke depan bersama kedua orang tuanya untuk menerima ijazah dan berfoto bersama. Ketika giliran kami tiba, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah seluruh perjuangan bertahun-tahun itu mendadak menjadi nyata dalam satu langkah kecil menuju panggung.
Kami menerima ijazah itu bersama-sama. Di lembar kertas tersebut tertulis jelas nama dan gelarnya. Sebuah tulisan yang tampak sederhana, tetapi di belakangnya ada malam-malam panjang, ujian yang melelahkan, air mata, doa, dan ketabahan yang tidak sedikit.
Dan sejak hari itu, ia resmi menyandang satu panggilan baru: dr. Wau.