Enggan adaptasi
-(Jumat, 8 Mei 2026)-
Jika sebelumnya pengalaman itu saya temui dalam sebuah peringatan hari jadi, kali ini ia muncul di forum ekonomi daerah—ruang yang seharusnya paling akrab dengan kata efisiensi, percepatan, dan perubahan.
Di ruangan itu hadir berbagai institusi yang mengurusi fiskal, moneter, dan urusan lain yang saling terkait dalam denyut ekonomi daerah. Masing-masing mendapat giliran memaparkan data, isu, langkah, dan rekomendasi. Semuanya berjalan formal sebagaimana biasanya: angka demi angka, grafik demi grafik, slide demi slide.
Namun perhatian saya tertahan pada satu paparan.
Perwakilan sebuah unit membuka presentasinya dengan sebuah video. Ia bahkan mengatakan secara terbuka bahwa video itu dibuat menggunakan AI. Setelahnya, ia menampilkan slide yang sejak awal langsung saya kenali sebagai hasil olahan kecerdasan buatan. Rapi, presisi, visualnya kuat, dan terasa memiliki standar estetika yang berbeda dari presentasi birokrasi pada umumnya.
Beberapa sesi berikutnya, unit lain melakukan hal serupa. Meski kualitasnya tidak sebaik presentasi sebelumnya, jejak AI tetap terasa jelas di dalam desain dan struktur visualnya.
Lalu saya membandingkannya dengan paparan dari pihak tuan rumah acara. Slide mereka tampak sepenuhnya dibuat secara manual—kemungkinan besar hasil kerja tim internal. Tidak buruk, tetapi terasa konvensional. Dan di situlah pertanyaan kecil mulai mengganggu pikiran saya: mengapa justru pihak tuan rumah tidak menggunakan AI untuk meningkatkan kualitas presentasinya? Apakah ada larangan yang tak tertulis? Atau sebenarnya mereka belum cukup memahami cara memanfaatkannya?
Pertanyaan itu terus bergulir di kepala saya.
Kita hidup di masa ketika AI telah mengubah cara orang bekerja: menulis, mendesain, membuat presentasi, menyusun laporan, bahkan merumuskan ide. Banyak pekerjaan yang dulu membutuhkan waktu panjang kini dapat dipercepat tanpa harus kehilangan kualitas. Tetapi anehnya, di sejumlah organisasi, AI masih diperlakukan seperti tamu asing—dilihat dari jauh, dibicarakan sesekali, namun tidak benar-benar diajak masuk ke dalam sistem kerja.
Saya mulai menduga, persoalannya bukan semata soal teknologi, melainkan soal psikologi organisasi.
Ada generasi muda yang sebenarnya sudah mengenal AI, bahkan mungkin menggunakannya diam-diam untuk membantu pekerjaan mereka. Namun penggunaan itu berhenti sebatas ruang pribadi. Mereka enggan menunjukkan hasilnya secara terbuka, seolah ada kecemasan bahwa penggunaan AI akan dianggap sebagai jalan pintas, bukan keterampilan baru. Akibatnya, pekerjaan tetap ditampilkan dengan pola lama, agar terlihat “aman” di mata organisasi.
Di sisi lain, para senior—mereka yang memegang arah dan keputusan—sering kali belum memiliki visi yang cukup tentang bagaimana AI dapat menunjang pekerjaan. Bukan karena mereka menolak perubahan secara sengaja, melainkan karena belum cukup dekat dengan dunia itu. Maka tidak ada dorongan, tidak ada arahan, dan tidak ada kultur yang mendorong eksplorasi.
Di titik itulah organisasi seperti berjalan di tempat.
Generasi mudanya paham, tetapi ragu bergerak. Para pemimpinnya memiliki otoritas, tetapi belum cukup mengenal medan baru. Yang satu menunggu izin, yang lain bahkan belum sadar bahwa perubahan sedang mengetuk pintu.
Dan barangkali itulah yang sedang terjadi di banyak tempat hari ini: teknologi berkembang melesat, sementara mentalitas organisasinya masih berjalan dengan kecepatan lama.
AI akhirnya bukan sekadar soal alat bantu kerja. Ia perlahan menjadi penanda: organisasi mana yang siap belajar, dan organisasi mana yang diam-diam sedang tertinggal.