Wajah palsu
-(Jumat, 9 Januari 2026)-
Inilah salah satu kekhawatiran saya atas kecanggihan akal imitasi—atau yang hari ini kita sebut AI. Di salah satu media sosial, saya melihat betapa mudahnya seseorang, hanya dengan bantuan AI, memberi perintah untuk memanipulasi foto secara sembarangan. Dari semua potensi penyalahgunaan, yang paling mengusik tentu manipulasi yang mengarah ke pornografi.
Yang membuatnya semakin mengkhawatirkan adalah fakta bahwa dalam situasi ini, siapa pun bisa menjadi korban. Publik figur, pejabat, orang biasa, bahkan tokoh agama—tak ada yang benar-benar aman dari keisengan atau niat buruk orang lain. Sebab sekali lagi, dengan AI, semua itu kini bisa dilakukan dengan sangat mudah. Dan celakanya, hingga saat ini belum terlihat upaya pemerintah untuk membatasi, atau setidaknya mencegahnya.
Maka, kita bisa melihat sendiri betapa banyaknya foto dan video palsu tentang seseorang yang disebarkan, bukan sekadar untuk dilihat, tetapi untuk memperburuk citra orang tersebut. Motifnya jelas: menggiring opini, merusak reputasi, atau bahkan menghapus kepercayaan publik terhadap figur tertentu.
Jika ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin yang terjadi adalah normalisasi. Lambat laun, foto dan video fake akan dianggap hal biasa. Suatu saat, ketika melihat gambar sensasional seseorang, orang mungkin hanya akan berkata: “Ah, paling foto AI.” Kalimat itu terdengar ringan, tetapi sebenarnya menandai sesuatu yang lebih besar—bahwa masyarakat perlahan berhenti percaya pada bukti visual.
Dalam konteks ini, saya membayangkan misalnya sebuah foto yang memperlihatkan seseorang mengenakan pakaian mini, padahal dalam keseharian ia selalu berhijab tebal. Dulu, foto seperti itu bisa menjadi sumber aib yang menghancurkan. Tetapi di masa depan? Orang mungkin tidak lagi menilai aibnya, melainkan langsung meragukan keasliannya. Ironis, tetapi logis—karena banjir gambar palsu membuat foto asli pun kehilangan daya percaya.
Lambat laun juga, barangkali kita sendiri tak lagi terlalu khawatir pada citra diri, meskipun foto atau video rekayasa itu tersebar luas. Bukan karena itu tidak menyakitkan, tetapi karena masyarakat sudah terbiasa menganggapnya sebagai produk AI. Rasa malu yang dulu menjadi beban personal, bisa jadi memudar karena orang tidak lagi yakin mana yang nyata dan mana yang palsu.
Begitulah. Selalu ada dua sisi. Ketika keburukan itu muncul dan berulang, kadang ia—tanpa sengaja—membawa sebuah kenormalan baru. Barangkali ini adalah bentuk lain dari kemampuan manusia untuk terus beradaptasi.
Namun tetap saja, saya merasa kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah ini adaptasi yang menyehatkan, atau sekadar pembiasaan pada ketidakbenaran? Sebab ketika kita mulai berkata “ah, paling AI,” mungkin yang sedang terjadi bukan hanya menurunnya rasa malu, tetapi juga menurunnya rasa percaya kita pada realitas itu sendiri.