Narasi ikhtiar

-(Minggu, 4 Januari 2026)-

Ketika kami berkunjung ke salah satu rest area bagi peziarah Haul Guru Sekumpul, saya sempat berbincang dengan seorang warga Samarinda—begitu pengakuannya. Ia bersama anak perempuannya mengendarai sepeda motor, menempuh perjalanan ratusan kilometer. Menariknya, saat kami bertemu, mereka justru sudah dalam perjalanan balik ke Samarinda.

Saya pun bertanya, “Lho, kok tidak ikut acara puncak haul-nya?” Ia menjawab bahwa ia sudah merasa cukup dengan berziarah di dekat kubah. Selain itu, ia juga mempertimbangkan situasi dan kondisi di lapangan. Barangkali ia melihat begitu banyak orang yang hendak hadir pada momen puncak yang kabarnya bisa diikuti jutaan manusia. Ditambah lagi, dalam beberapa hari terakhir hujan turun dan menggenangi sejumlah titik. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor itu, ia memilih untuk mencukupkan ikhtiarnya pada ziarah, tanpa memaksakan diri masuk ke pusat keramaian.

Ada fakta menarik yang ia sampaikan, yang menurut saya selaras dengan dugaan awal saya tentang motif perjalanan ini. Intinya, ziarah tersebut mereka lakukan sebagai bagian dari ikhtiar batin atas hajat atau keinginan yang hendak dicapai. Mereka berharap keberkahan, dan melalui berkah itu, cita-cita anaknya bisa terwujud. Keyakinan semacam ini, menurut saya, cukup umum kita jumpai dalam praktik ziarah: bahwa ada dorongan personal yang sifatnya spiritual, bukan sekadar partisipasi seremonial.

Meski ini hanya satu fakta, saya menduga ada banyak orang lain yang memiliki motif serupa. Artinya, setiap orang kerap digerakkan oleh niat yang sama: mencari penghidupan yang lebih baik. Perbedaannya hanya pada bentuk narasi yang menyelimuti niat tersebut, serta jalan yang dipilih untuk mengekspresikannya.

Pembicaraan kami tidak berhenti pada cerita perjalanan mereka. Tanpa saya bertanya, orang itu menceritakan kabar-kabar yang ia peroleh seputar keajaiban berkah. Misalnya, kisah seseorang yang dengan rela dan ikhlas memberikan hartanya untuk membantu para peziarah dengan menyediakan rest area, lalu justru mengalami pertambahan rezeki setelahnya. Ia menuturkannya bukan sebagai klaim absolut, tetapi sebagai cerita yang beredar dan ia yakini memiliki efek psikologis: menumbuhkan tekad, menguatkan niat, dan memberi legitimasi moral bagi perjalanan ziarah yang ia tempuh.

Di titik ini, saya menangkap sesuatu yang lebih luas dari sekadar obrolan di rest area. Ada gambaran tentang bagaimana manusia sering kali bergerak bukan hanya oleh realitas faktual, tetapi oleh narasi yang mereka serap dan percayai. Narasi tentang berkah, tentang keteladanan, tentang balasan kebaikan, bekerja seperti daya dorong batin. Ia membentuk keputusan, menguatkan keberanian, bahkan menjadi alasan di balik pengorbanan jarak dan tenaga yang begitu besar.

Namun di sisi lain, kita juga perlu membacanya secara rasional. Narasi bisa menjadi energi positif yang melahirkan solidaritas dan keikhlasan. Tetapi tanpa kesadaran kritis, ia juga bisa membuat orang mengabaikan batas-batas objektif keselamatan, logistik, dan kemampuan diri. Dalam kasus pria ini, saya justru melihat upaya menyeimbangkan keduanya: ada keyakinan batin yang kuat, tetapi juga ada pertimbangan rasional yang membuatnya berhenti pada “cukup”, bukan “harus”.

Begitulah. Pada satu peristiwa kecil itu, kita bisa menemukan gambaran besar tentang bagaimana manusia digerakkan oleh cerita. Bahwa langkah jauh sering kali dimulai dari narasi yang memberi makna pada langkah itu sendiri. Dan bahwa, pada akhirnya, manusia bukan hanya pelaku perjalanan—ia juga pembawa dan pewaris cerita yang membuat perjalanan itu layak ditempuh.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"