Jejak Haul
-(Jumat, 2 Januari 2026)-
Sabtu sore itu kami berkunjung ke salah satu rest area untuk peziarah Guru Sekumpul. Kami bukan peziarah, tetapi kami penasaran dengan banyaknya rest area di pinggir jalan, di sepanjang jalur menuju Martapura.
Ternyata, rest area ini tidak hanya ada di Kalsel. Dari yang kami lihat dan dari informasi yang kami terima, rest area juga banyak ditemui di wilayah Kalteng, terutama bagi peziarah yang berangkat dari berbagai daerah di sana. Kabarnya, rest area serupa pun menjamur di Kaltim, khususnya di jalur yang mengarah ke Kalsel.
Yang membuat saya berhenti sejenak untuk berpikir adalah sebuah informasi menarik: rest area pada momen haul ini disebut lebih banyak dibanding pada momen mudik Idulfitri. Perbedaannya juga kontras. Rest area haul Guru Sekumpul menyediakan makan dan minum gratis yang dibiayai dan dikelola langsung oleh warga. Sementara saat mudik Lebaran, rest area lebih banyak diinisiasi oleh pemerintah, dan fasilitas makan-minum gratis hampir tidak kita temui.
Hal lain yang cukup mengejutkan bagi saya adalah jaraknya. Antara satu rest area dengan rest area lain hanya berjarak kurang dari 1 km. Bahkan, rest area ini tidak hanya disediakan untuk keberangkatan, tetapi juga tetap ada hingga para peziarah pulang kembali ke rumah masing-masing. Dengan kondisi seperti itu, implikasinya sederhana: jika Anda ingin pergi ke haul, cukup siapkan kendaraan dan tenaga. Soal makan, minum, dan tempat istirahat sudah disediakan oleh warga di sepanjang perjalanan. Anda tinggal memilih ingin berhenti di mana.
Lalu, pertanyaan yang paling mendasar pun muncul: dorongan apa yang membuat warga dengan rela mengorbankan hartanya untuk menyediakan rest area beserta makanan dan minuman gratis itu? Pertanyaan lanjutan yang juga layak diajukan adalah: mengapa begitu banyak warga—bahkan informasinya hingga jutaan manusia—mengikuti acara puncak haul Guru Sekumpul setiap tahunnya? Narasi apa sebenarnya yang telah menyebar dan tertanam begitu kuat dalam diri masyarakat?
Saya memahami betul, setiap orang punya motivasi individual. Tetapi jika ada satu narasi yang tampak paling sering saya dengar dan rasakan resonansinya, barangkali ia adalah narasi tentang keberkahan. Keyakinan bahwa memberi makan, menyediakan minum, dan melayani peziarah adalah salah satu jalan untuk “menjemput berkah” tampak menjadi dorongan yang begitu kuat dan hidup dalam imajinasi sosial masyarakat kita.
Saya mencukupkan diri pada jawaban itu. Bukan karena ia yang paling lengkap, tetapi karena saya tidak ingin berspekulasi. Saya lebih memilih melihat fenomena ini sebagai bagian dari ikhtiar manusia untuk terus membangun peradabannya—peradaban yang tidak selalu lahir dari program negara, tetapi sering kali justru tumbuh dari solidaritas warga.
Jika semua ini mampu membawa manfaat bagi kelangsungan hidup sosial manusia, biarlah ia tetap berjalan. Yang jauh lebih penting bagi saya adalah bagaimana kita memanage semuanya agar berlangsung lancar dan aman. Karena pada akhirnya, yang kita rawat bukan hanya keramaiannya, tetapi juga kewarasan cara kita mengelolanya.