Dua dunia

-(Senin, 19 Januari 2026)-

Yang viral di media sosial sering kali tidak pernah benar-benar menjelma menjadi realitas di masyarakat nyata. Kita pernah menyaksikannya secara gamblang: pada satu masa pilpres, ada kandidat yang begitu populer di linimasa—dielu-elukan, dipuja, seolah tak terkalahkan. Namun ketika bilik suara dibuka, rakyat justru memilih kandidat lain.

Dari situ kita belajar satu hal penting: dua dunia ini kerap tidak berjalan seiring. Dunia maya dan dunia nyata memiliki logika, dinamika, dan penontonnya masing-masing. Apa yang riuh di media sosial belum tentu bergema di ruang-ruang hidup masyarakat. Karena itu, tidak semua yang viral layak dicemaskan, dan tidak setiap isu yang ramai diperbincangkan di jagat digital sedang sungguh-sungguh dibicarakan di warung, di sawah, atau di meja makan keluarga.

Kenyataan inilah yang melahirkan kesenjangan. Sebagian kalangan menganggap isu di media sosial sebagai representasi aspirasi publik, lalu menuntut pemerintah untuk segera meresponsnya. Padahal, bisa jadi itu bukan suara rakyat secara utuh, melainkan gema dari kelompok-kelompok tertentu yang memiliki kepentingan, akses, dan kemampuan memproduksi kegaduhan.

Dari sini muncul godaan untuk mengambil jalan pintas: berhenti membuka media sosial. Membiarkan isu-isu itu mati dengan sendirinya karena tak lagi diberi perhatian. Sekilas, ini tampak sebagai pilihan yang masuk akal—cara menjaga kewarasan di tengah hiruk-pikuk yang melelahkan.

Namun persoalannya tidak sesederhana itu. Ketika sebuah isu tidak ditandingi oleh narasi lain, ia justru berpotensi menjadi bumerang. Di dunia yang kian bergantung pada kecerdasan buatan, sikap diam bisa berakibat panjang. AI tidak menciptakan kebenaran dari kehampaan; ia belajar dari data yang tersedia. Ia mengulang, menguatkan, dan menyebarkan apa yang paling banyak terekam. Jika yang tersisa di ruang digital adalah informasi keliru atau narasi timpang, maka kesalahan itu pelan-pelan akan dibakukan sebagai “kebenaran” di masa depan.

Di titik inilah kita berhadapan dengan dilema zaman. Menghindari media sosial ternyata bukan tanpa risiko. Menarik diri sepenuhnya justru membuka ruang bagi distorsi untuk tumbuh tanpa tandingan. Seolah-olah dunia hari ini tidak lagi memberi kita kemewahan untuk benar-benar keluar dari arus teknologi.

Mungkin yang tersisa bukan pilihan antara ikut atau menolak, melainkan bagaimana bersikap sadar di tengah arus itu: memilah, merespons seperlunya, dan—ketika perlu—menghadirkan narasi yang lebih jernih. Bukan untuk memenangkan kegaduhan, melainkan agar akal sehat tidak sepenuhnya tersingkir dari percakapan zaman.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"