Tarawih berpindah

-(Sabtu, 21 Februari 2026)-

Sudah tiga malam ini saya berkeliling sholat tarawih. Maksudnya, saya berpindah-pindah dari mushola satu ke lainnya untuk tarawih. Ini saya lakukan untuk mendapatkan pengalaman baru—pengalaman memasuki ruang yang belum saya kenal, berdiri di tengah jamaah yang asing, dan merasakan suasana yang berbeda setiap malam.

Barangkali dengan cara ini, saya sedang melatih diri agar lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Bukankah kemampuan beradaptasi kerap disebut sebagai kompetensi unggul yang mesti dimiliki oleh setiap orang yang ingin bertumbuh dan berjaya? Jika demikian, maka tarawih berpindah-pindah ini menjadi semacam latihan sosial yang sunyi—latihan tanpa tepuk tangan, tetapi penuh makna.

Karena masih dalam radius yang tidak terlalu jauh, tiga mushola yang sudah saya ikuti sholat tarawihnya ternyata memiliki tradisi yang sama. Dari sisi bacaan surat, doa, hingga sholawat pada jeda antar dua rakaat, semuanya seragam. Seolah-olah ada satu irama besar yang mengalir melalui ketiganya. Ini menandakan bahwa mereka barangkali berguru atau belajar pada satu sumber yang sama.

Fenomena lain yang selalu berulang setiap malam bulan Ramadan adalah kondisi mushola yang lebih ramai oleh jamaah. Saf-saf menjadi rapat, suara anak-anak terdengar lebih hidup, dan halaman mushola penuh kendaraan. Barangkali ini terjadi karena motivasi pahala sholat tarawih yang diyakini berlipat ganda. Atau bisa juga karena sudah menjadi tradisi masyarakat—sebuah kebiasaan tahunan yang terasa janggal bila ditinggalkan.

Sebab faktanya, setelah Ramadan usai, mushola dan masjid kembali seperti sediakala: lebih sepi. Yang tertinggal hanyalah jamaah yang konsisten, yang tidak terpengaruh apakah ini bulan puasa atau bulan lainnya. Di titik ini, saya mulai bertanya: benarkah bulan puasa adalah bulan latihan? Jika latihan dimaknai sebagai pembentukan kebiasaan yang menetap, mengapa dampaknya tidak sepenuhnya berlanjut?

Barangkali yang lebih tepat adalah bahwa Ramadan merupakan momentum tradisi kolektif—sebuah arus besar yang setiap tahun datang dan menggerakkan banyak orang. Mungkin pula karena sudah menjadi kebiasaan turun-temurun, yang bila tak dijalankan akan menimbulkan rasa kurang lengkap, semacam ketidaknyamanan batin.

Namun demikian, saya berharap analisis saya ini keliru. Saya ingin percaya bahwa maraknya jamaah tarawih memang dilandasi oleh kesadaran akan pentingnya memperbanyak ibadah di bulan Ramadan. Bahwa keramaian itu bukan semata dorongan sosial, melainkan juga panggilan spiritual.

Untuk itu, saya sudah menyusun rencana untuk terus berganti-ganti mushola atau masjid dalam menjalankan sholat tarawih. Sudah ada beberapa tempat yang terlintas dalam benak saya untuk menjadi tujuan berikutnya. Untungnya, di daerah ini banyak masjid dan mushola. Bahkan jika dalam satu bulan saya ingin selalu berpindah tempat, hal itu sangat mungkin terwujud tanpa harus mengulang lokasi yang sama.

Artinya, saya benar-benar berada dalam lingkungan masyarakat yang religius—atau setidaknya lingkungan yang memberi ruang luas bagi kehidupan keagamaan untuk tumbuh.

Dan inilah yang mesti saya syukuri.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"