Generalisasi prematur

-(Selasa, 10 Februari 2026)-

Bagaimana mungkin dua atau tiga kasus—yang bahkan melibatkan tak sampai sepuluh orang—kemudian dianggap mewakili kondisi keseluruhan? Padahal populasi yang dimaksud mencakup puluhan ribu personel. Di titik ini, logika sederhana pun seharusnya cukup untuk mengingatkan kita: ada jarak yang terlampau jauh antara fakta terbatas dan kesimpulan menyeluruh. Maka, meski pernyataan itu disampaikan oleh seseorang dengan latar akademis, tetap saja sulit menafikan kesan bahwa ia lahir lebih dari rasa geram ketimbang dari kejernihan nalar.

Yang lebih mencemaskan, segelintir peristiwa itu lalu diperlakukan seolah cermin utuh dari perilaku seluruh populasi. Dari sudut pandang ilmiah, sampelnya jelas tidak memadai; dari sudut pandang kemanusiaan, pendekatan ini terasa tergesa dan melukai. Generalisasi semacam ini bukan hanya keliru secara metodologis, tetapi juga menyisakan rasa tidak adil bagi mereka yang setiap hari bekerja dengan integritas, namun tiba-tiba harus menanggung stigma kolektif.

Di sinilah objektivitas seharusnya diuji. Semua pihak mestinya mampu menahan diri, menimbang kata demi kata sebelum melontarkan pernyataan ke ruang publik. Sebab kata-kata, seperti anak panah, sekali dilepaskan sulit ditarik kembali. Ketika yang dilepaskan justru memicu kegaduhan, dampaknya tidak berhenti pada wacana, tetapi merembes ke rasa, semangat, dan kepercayaan.

Padahal, kenyataannya mereka memiliki peran penting dalam mengumpulkan pundi-pundi dan menggerakkan roda organisasi. Jika perasaan mereka terlukai, demotivasi bukanlah kemungkinan yang jauh. Inovasi bisa mengering, keberanian untuk berubah melemah, dan kinerja pun berjalan di tempat. Organisasi lalu seperti mesin yang kehilangan pelumas: masih bergerak, tetapi penuh gesekan.

Fenomena ini sejatinya bukan hal baru. Di banyak organisasi lain, kesalahan dua atau tiga oknum kerap dipukul rata sebagai potret keseluruhan. Cara pandang semacam ini memang mudah, tetapi ia tidak adil dan pada akhirnya merugikan. Ia mengorbankan banyak orang baik demi menyederhanakan narasi.

Memang benar, ada yang menyebutnya sebagai shock therapy—upaya mengguncang agar semua pihak lebih waspada dan berpikir ulang. Namun terapi yang salah dosis justru bisa menjadi racun. Alih-alih memperbaiki, pernyataan yang kontraproduktif akan melahirkan ketakutan baru: rasa tak terlindungi dan keengganan untuk mengambil kebijakan. Pada akhirnya, yang tersisa bukan perbaikan sistem, melainkan kehati-hatian berlebihan yang membunuh inisiatif.

Maka, mungkin yang kita butuhkan bukan suara yang paling keras, melainkan nalar yang paling jernih; bukan vonis yang tergesa, melainkan penilaian yang adil dan proporsional. Karena dalam organisasi sebesar apa pun, keadilan bukan sekadar prinsip moral—ia adalah fondasi kepercayaan dan keberlanjutan.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"