Gaung maya
-(Rabu, 4 Februari 2026)-
Kadang kita dibuat bingung oleh media sosial. Informasi yang kita peroleh dan kita yakini sebagai sesuatu yang viral dan tengah terjadi di masyarakat, rupanya acapkali berbeda dengan realitas di dunia nyata.
Barangkali kita menganggap tuduhan-tuduhan atau postingan yang lalu-lalang tentang seseorang sebagai akhir dari orang itu. Namun ternyata, apa yang terjadi di masyarakat sering kali berbeda. Betapa orang tersebut justru masih memperoleh simpati dan dukungan dari banyak pihak.
Pertanyaan yang menggelitik kemudian muncul: apa sebenarnya yang terjadi pada orang-orang dengan media sosialnya itu? Apakah media sosial telah memanipulasi diri kita, sehingga kita kerap menemukan kenyataan yang berbeda antara dunia maya dan dunia nyata?
Atau barangkali jumlah manusia memang sangatlah banyak, sementara hanya sebagian kecil saja yang aktif di media sosial. Pada akhirnya, betapapun keras dan riuhnya suara di media sosial, tetap saja ia kalah jumlah dengan mereka yang hadir nyata di tengah masyarakat.
Masalahnya, karena informasi itu mudah didapat, berita atau isu yang dianggap viral di media sosial kemudian diangkat oleh media arus utama dan dijadikan berita, bahkan barangkali sebagai topik diskusi. Hingga kemudian isu atau topik tersebut hadir di tengah masyarakat. Artinya, bagaimanapun, sesuatu yang viral tidak lain karena ada pihak yang menghembuskannya dengan kencang.
Kondisi ini tentu tidak mudah bagi para pengambil kebijakan. Informasi mana yang mesti dijadikan rujukan? Ketika merujuk pada media arus utama, kerap kali media tersebut mengambil sumber dari media sosial. Apa yang terjadi kemudian adalah budaya viral—yang dianggap sebagai jalan pintas untuk memperoleh perhatian publik dan pemerintah.
Pada titik ini, nampaknya kita perlu menarik diri dan kembali merenung. Apakah semua ini benar-benar sejalan dengan kondisi yang ada? Ataukah justru ada sesuatu yang mesti diperbaiki? Atau kita memilih membiarkan semuanya berjalan tanpa arah dan menyerahkannya pada respons spontan semata?
Jika demikian adanya, maka sejatinya sia-sialah Anda membaca tulisan ini. Apalagi saya, yang berdiam diri menuliskannya.