Pilihan berbeda
-(Kamis, 14 Agustus 2025)-
Ketika subuh saya berangkat menuju langgar, beberapa kali saya berpapasan dengan seseorang yang—dari pakaiannya—terlihat akan berangkat ke masjid. Padahal, rumahnya tampaknya lebih dekat ke langgar yang saya tuju, sebagaimana rumah saya justru lebih dekat ke masjid tersebut.
Gambaran ini menunjukkan bahwa saya dan orang itu memiliki preferensi yang berbeda, bahkan dalam urusan ibadah. Saya memiliki alasan untuk memilih berjamaah di langgar, sementara ia tentu punya alasan mengapa lebih memilih ke masjid. Berbeda meski tetap ada kesamaannya: sama-sama memilih tempat yang lebih jauh.
Setiap orang memiliki pilihan masing-masing, sesuai dengan keyakinan dan kenyamanan yang ia rasakan. Pilihan itu bisa dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan maupun pengetahuan yang dimilikinya.
Selain karena kami tidak saling mengenal, kami juga tidak berusaha membujuk atau memengaruhi agar orang lain mengikuti pilihan kami. Tidak ada saya yang mencegatnya lalu berkata, “Shalat saja di langgar,” dan sebaliknya, ia pun tidak mengajak saya ke masjid. Hal itu tidak kami lakukan, karena kami menyadari bahwa setiap orang berhak menentukan pilihannya sendiri, apalagi di negara demokrasi ini.
Hal apa yang berbeda antara dua tempat itu pun tidak perlu dijadikan bahan perdebatan atau topik diskusi yang panjang. Cukup dengan saling memahami bahwa masing-masing memiliki dasar pemikiran dan dalil sendiri yang diyakini, tanpa harus menguji atau membandingkannya.
Barangkali inilah yang disebut toleransi: saling menghargai pilihan masing-masing tanpa memaksa, meski perbedaan itu ada bahkan dalam hal yang sama-sama kami yakini penting.