Azan subuh

-(Sabtu, 23 Agustus 2025)-

Setelah berpuluh-puluh tahun, subuh itu saya kembali mengumandangkan azan di salah satu masjid. Sepertinya tidak ada yang berubah. Saya masih azan dengan nada dan irama yang sama dengan ketika dulu saya masih remaja.

Syukurnya, saya masih mengingat dan dengan spontan mengumandangkan azan itu, yang memang tanpa persiapan. Pagi itu waktu subuh sudah masuk, sementara saya belum melihat petugas atau muazin yang biasa azan. Karena itu, saya seperti menemukan kesempatan untuk “kembali” ke masa lampau, meski dalam momen selama proses azan itu berlangsung.

Kenyataannya, momen itu membuat saya merasa senang. Apakah bisa disebut juga bahagia, saya tidak tahu istilah yang lebih tepat. Namun, rasa senang itu membuat saya teringat pada pengalaman lain di masa lalu, ketika luapan suara juga pernah memberi kelegaan.

Saya teringat ketika dulu pernah bermain sepak bola, sebagai kiper. Di kesempatan itu saya bisa berteriak dengan keras, baik memberikan aba-aba ke teman atau teriakan memberikan semangat dan juga teriakan sorak sorai gembira ketika teman kami berhasil mencetak gol. Rasanya ada luapan emosi yang lepas dan membuat perasaan menjadi lebih ringan dan segar.

Barangkali inilah mengapa para penonton juga senang melihat berbagai pertandingan, karena mereka pun dengan bebas bisa berteriak-teriak mendukung tim jagoannya. Intinya, teriakan itu secara psikologis membuat kita melepaskan beban-beban yang selama ini ditanggung.

Dari sini terlihat bahwa konteks sangat menentukan. Kita tahu di lapangan berteriak adalah sesuatu yang wajar dan tidak memalukan. Berbeda misalnya di satu forum rapat, sebuah teriakan akan membuat orang melirik dengan sikap yang negatif.

Maka, barangkali azan di waktu subuh atau di waktu-waktu yang lain, di mana kita sebagai muazin bisa berteriak melafalkan azan, juga memberi efek serupa: membantu melepaskan kepenatan atau beban jiwa.

Selain sebagai pelepasan jiwa, pengalaman itu juga menghadirkan kenangan. Mengulang kembali masa remaja—yang kenangannya bukan sesuatu yang negatif—ternyata menyenangkan. Apalagi bagi mereka yang sudah lansia. Mereka kerap mengulang-ulang cerita masa lalu, kejayaan masa lalu, dan juga kenangan masa lalu.

Melalui azan subuh itu, nampaknya saya sedang berusaha menghidupkan kembali kenangan yang dulu pernah saya lakukan. Dan itu sungguh menyenangkan.

Namun, di balik rasa senang itu, saya juga menyadari ada sisi yang sebaiknya diwaspadai. Ini sebenarnya tidak baik dan bisa menghapus amalan, yaitu sifat pamer alias riya’. Tentu saya mesti beristighfar, karena kenyataannya kesempatan azan itu menjadi momen bagi saya untuk pamer kemampuan saya.

Setidaknya saya memamerkan itu kepada orang terdekat saya yang subuh itu kami sama-sama berangkat ke masjid. Sepertinya ia tidak menyangka jika saya bisa azan. Bahkan beberapa kali ia tak percaya, dan bilang: “billahi” ke saya. Dia meminta saya untuk bersumpah demi Allah. Sebuah hal yang bisa saya lakukan karena memang subuh itu saya yang azan.

Begitulah, setelah sekian lama, subuh itu suara saya menggema, memenuhi semesta. Sebuah kalimat yang lebay, hehehe…

Namun lebay itu sekaligus penutup yang jujur. Azan subuh itu bukan hanya sekadar panggilan salat, tetapi juga sebuah momen yang menghadirkan rasa lega, nostalgia, sekaligus ujian keikhlasan.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"