Melupakan
-(Minggu, 3 Agustus 2025)-
Bagaimanapun kehidupan manusia—bagaimana ia menjalani kesehariannya, bagaimana ia menatap masa depan—semuanya tak pernah lepas dari masa lalu yang telah ia jalani. Dan itu semua dimungkinkan karena manusia menyimpan ingatan, merekam memori, lalu mengubahnya menjadi kenangan, pengalaman, dan pembelajaran hidup.
Namun, bagaimana jika karena suatu hal, seseorang melupakan semua kenangan dan ingatan masa lalunya?
Banyak film telah mengangkat kisah seperti itu. Dalam serial X-Men, misalnya, ada tokoh Wolverine—mutan yang dari tangannya muncul kuku logam adamantium—yang hidup tanpa kenangan masa lalunya. Ia kuat, namun kehilangan arah karena tak tahu siapa dirinya. Atau dalam film The Notebook, kita melihat kisah cinta yang menyentuh, tentang sepasang kekasih di masa tua, ketika sang wanita perlahan kehilangan ingatan tentang suaminya sendiri.
Memang, dalam film, amnesia sering digambarkan sebagai akibat dari kecelakaan atau kondisi medis. Tapi dalam kehidupan nyata, mungkin saja seseorang ingin “mengalami” amnesia secara sadar. Bukan karena benturan fisik, melainkan karena benturan batin—karena ada masa lalu yang begitu menyakitkan, begitu menyesakkan, sehingga satu-satunya cara untuk bisa melanjutkan hidup adalah dengan berusaha melupakannya.
Mungkin itu sebuah peristiwa traumatis. Mungkin juga sebuah kesalahan besar yang membuat seseorang menyesal seumur hidup. Dan meski ia tahu melupakan tidak mudah, tetap saja ada upaya untuk menjauh dari kenangan itu. Sayangnya, ketika dalam kenangan itu ada orang lain yang masih hadir dalam hidupnya—secara fisik atau emosional—usaha melupakan menjadi semakin rumit. Kenangan itu muncul lagi dan lagi, tanpa diundang.
Karena itu, barangkali yang bisa dilakukan bukan semata-mata melupakan, melainkan melangkah. Berhijrah—secara lahir maupun batin. Mengubah arah hidup, mengubah lingkungan, bahkan mungkin mengubah diri sendiri. Hijrah yang bukan sekadar pindah tempat, tapi juga perpindahan kesadaran. Dan semua itu harus dilandasi dengan niat yang kuat, dengan harapan yang jelas: menuju kehidupan yang lebih baik.
Melupakan memang bukan perkara mudah. Tapi bukan berarti seseorang harus terus hidup dalam bayangan masa lalunya. Mungkin bukan lupa yang dibutuhkan, melainkan keberanian untuk berdamai.