Muara manusia

-(Kamis, 21 Agustus 2025)-

Tentu saja saya kaget ketika membaca kabar duka di salah satu grup WhatsApp. Seorang teman dikabarkan telah tiada karena sakit. Pikiran saya seketika melintasi jarak dan waktu, mengingat bagaimana kami dulu pernah sama-sama belajar di dua kampus yang sama, ketika menempuh pendidikan diploma dan magister.

Di hari yang sama, di waktu yang hampir bersamaan, di grup WhatsApp yang lain, saya juga membaca kabar duka: Seorang anggota keluarga dari salah satu peserta grup berpulang.

Barangkali, di tempat lain atau di grup WhatsApp lain, juga ada kabar serupa tentang orang-orang yang telah pergi. Mungkin itu memang terjadi setiap hari, hanya saja tidak selalu sampai ke telinga kita. Artinya, itulah kenyataan harian yang senantiasa dihadapi manusia: kehidupan yang terus berjalan berdampingan dengan kematian.

Seiring bertambahnya usia, kita semakin menyadari bahwa segala sesuatu bergerak menuju ketiadaan—setidaknya dalam arti fisik. Namun, keyakinan banyak tradisi, termasuk keimanan kita, mengajarkan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan perpindahan menuju alam lain. Kehidupan di dunia ini hanyalah persinggahan, sementara ada kehidupan berikutnya yang lebih panjang dan hakiki.

Meski begitu, setiap kabar duka selalu meninggalkan pertanyaan mendasar: kapan giliran kita? Kapan undangan itu datang, memanggil kita untuk pergi menuju alam lain?

Tidak seorang pun tahu. Ajal adalah misteri yang tak bisa dinegosiasikan, tak bisa dimajukan atau ditunda walau sekejap. Kepastian akan datangnya kematian adalah realitas yang tidak bisa kita tolak, sekalipun kita berusaha menutup mata darinya.

Jika demikian, apa yang bisa dilakukan?

Mungkin jawabannya ada pada sikap mempersiapkan diri. Sebagaimana ketika kita akan melakukan perjalanan jauh—kita terbiasa menyiapkan bekal: pakaian, makanan, uang, dan segala hal yang mendukung perjalanan. Maka, untuk menuju “alam lain” itu, tentu juga diperlukan bekal. Bedanya, bekal yang dibutuhkan bukanlah materi, melainkan amal, keikhlasan, dan kebaikan yang akan menjadi teman perjalanan.

Di titik ini, saya kemudian teringat pada sebuah lagu nasyid berjudul “Dzikrul Maut” yang dibawakan oleh grup Suara Persaudaraan. Salah satu baitnya berbunyi:

“Berbekallah untuk hari yang sudah pasti.

Sungguh kematian adalah muara manusia.

Relakah dirimu menyertai segolongan orang,

mereka membawa bekal, sedangkan tanganmu hampa.”

Lirik ini menegaskan bahwa perbedaan paling nyata di antara manusia bukanlah panjang atau pendeknya usia, kaya atau miskinnya kehidupan, melainkan seberapa siap seseorang menghadapi kepastian terakhir itu. Ada yang berangkat dengan penuh bekal, ada pula yang pergi dengan tangan kosong.

Maka, setiap kabar duka sejatinya bukan hanya kabar kehilangan, melainkan juga cermin. Ia mengingatkan kita bahwa hidup bukan sekadar rutinitas, pencapaian, atau perayaan duniawi, melainkan sebuah perjalanan menuju akhir yang pasti. Yang membedakan hanyalah kesiapan kita untuk sampai ke sana.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"