Imam masjid
-(Jumat, 29 Agustus 2025)-
Ada fenomena menarik di daerah ini. Dalam beberapa waktu terakhir, saya mencoba mengamati sejumlah masjid yang saya datangi. Jumlahnya sudah lebih dari sepuluh masjid dan langgar. Memang secara statistik belum bisa dijadikan sampel, tetapi setidaknya dapat memberi gambaran tentang suatu kondisi, khususnya dari sudut pandang penulis.
Hampir seluruh masjid yang saya kunjungi dipimpin oleh imam-imam muda ketika shalat berjamaah. Besar kemungkinan mereka adalah lulusan pondok pesantren. Mereka tentu memiliki pengetahuan agama yang memadai, bacaan Al-Qur’an yang fasih, hafalan surat-surat yang banyak—bahkan mungkin hafiz—dan juga mampu memimpin doa dengan baik. Artinya, mereka memiliki perbendaharaan bacaan doa yang panjang.
Dengan kehadiran imam-imam muda itu, jamaah bisa mendengarkan bacaan shalat yang fasih, jelas, dan dilantunkan dengan merdu. Selepas shalat, ketika mereka memimpin doa, bacaannya terdengar jelas sehingga secara tidak langsung menuntun jamaah untuk melafalkan hal yang sama. Jika hal ini dilakukan terus-menerus, setiap hari dan setiap lima waktu, lama-kelamaan jamaah pun akan hafal bacaan tersebut.
Fenomena ini juga mengindikasikan bahwa masyarakat di sini tidak keberatan dipimpin oleh anak-anak muda dalam shalat berjamaah. Jika ditarik ke ranah sosial-politik, hal ini dapat menunjukkan bahwa masyarakat pun tidak memiliki resistensi ketika dipimpin oleh kepala daerah yang relatif muda usianya.
Karena itu, kondisi yang terjadi di daerah ini bisa menjadi rujukan sekaligus contoh bagi daerah lain. Bila kita menginginkan adanya regenerasi di tengah masyarakat, proses itu mungkin dapat dimulai dari masjid, mushala, dan langgar.