Titik tengah
-(Minggu, 22 Februari 2026)-
Kali ini saya pun tergesa-gesa dengan satu kesimpulan: apa pun yang berlebihan, pasti hasilnya buruk, sama buruknya ketika sesuatu itu kurang. Seperti api—terlalu kecil tak memberi hangat, terlalu besar justru membakar. Di antara keduanya selalu ada ruang yang paling manusiawi: cukup.
Artinya, jalan pertengahan—alias titik keseimbangan—adalah cara terbaik. Ini bukan sesuatu yang baru. Bahkan semua orang sejatinya sudah tahu, sebab agama pun sejak lama mengajarkannya. Kita diingatkan untuk tidak melampaui batas, untuk tidak tenggelam dalam ekstrem apa pun, termasuk dalam hal yang kita yakini sebagai kebaikan.
Hanya saja, tetap saja ada orang yang tergoda melakukan sesuatu secara berlebihan. Bahkan dalam urusan kebaikan, ketika tak lagi terukur, ia bisa berubah menjadi sesuatu yang membawa dampak buruk. Kebaikan yang kehilangan proporsi sering kali menjelma menjadi tekanan, atau setidaknya menimbulkan ketimpangan baru yang tak disadari.
Barangkali ini memang sudah menjadi kodrat manusia sekaligus dinamika kehidupan. Ada dorongan untuk melampaui, untuk merasa paling benar, paling sungguh-sungguh, paling total. Karena itulah agama menganjurkan pertengahan—bukan untuk mematikan semangat, melainkan untuk menjaga agar semangat itu tetap waras dan tidak melukai.
Dalam kebijakan atau program yang dijalankan pun ketegangan ini tak pernah benar-benar hilang. Sebuah program yang dinilai sebagian kelompok masyarakat sebagai sesuatu yang berlebihan, kerap menuai protes. Apalagi ketika dirasakan bahwa program itu telah merugikan atau menggerogoti program lainnya. Di titik itu, yang muncul bukan lagi soal substansi semata, tetapi juga soal rasa keadilan.
Inilah barangkali sebabnya berada di pucuk pimpinan itu tidak mudah. Ia mesti melihat segalanya secara proporsional agar tercipta keseimbangan. Meski ada prioritas—dan prioritas memang tak terelakkan—namun ketika prioritas itu mulai menggerogoti yang lain, keadaan segera dirasakan sebagai tidak seimbang. Dari situlah framing tentang ketidakadilan mudah tumbuh dan menyebar.
Jika sudah begini yang terjadi, proses pemadaman api menjadi jauh lebih sulit. Api bukan hanya menyala pada kebijakan, tetapi juga pada persepsi. Dan yang kemudian kita saksikan adalah narasi melawan narasi—masing-masing saling menguatkan keyakinannya sendiri. Itulah yang belakangan ini tampak di hadapan kita: perdebatan yang kian riuh, sementara titik tengah terasa makin jauh.
Pada akhirnya, saya kembali pada kesimpulan awal yang sederhana itu. Keseimbangan bukan sekadar teori, melainkan sikap hidup yang harus terus-menerus diperjuangkan. Tidak mudah, memang. Namun tanpa itu, kita hanya akan terus terombang-ambing antara kekurangan dan keberlebihan—dua sisi yang sama-sama menyisakan masalah.