Bulan madu
-(Sabtu, 14 Februari 2026)-
Sebenarnya saya tidak berniat menuliskan pengalaman ini. Ada sesuatu yang sejak awal membuat kami memilih menyimpannya sebagai cerita lisan—dibagikan pelan-pelan kepada keluarga dan sahabat terdekat saja. Kami khawatir, kisah ini justru menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan kecemburuan, bagi orang lain.
Namun waktu berjalan. Usia bertambah. Ingatan, pelan tapi pasti, mulai menunjukkan tanda-tanda rapuh. Saya tidak ingin sebuah pengalaman berharga—yang kelak mungkin hanya tersisa sebagai serpihan kenangan—ikut menghilang bersama memudarnya daya ingat. Maka tulisan ini saya hadirkan, sebagai jejak. Sebagai pengingat. Sebagai bentuk syukur.
Ini adalah sepotong kisah kami ketika menunaikan ibadah haji tahun 2025 lalu. Sebuah kisah yang tidak—atau belum—kami masukkan ke dalam buku yang telah kami terbitkan.
Setelah menempuh penerbangan yang cukup lama dan bersambung dengan transportasi bus, kami tiba di Makkah pada malam hari dan langsung menuju hotel yang telah ditentukan. Setelah menunggu pembagian kamar, satu per satu jamaah menerima jatah kamar dan naik ke lantai masing-masing. Hingga akhirnya kami menyadari: nama saya dan istri tidak tercantum dalam daftar penghuni hotel tersebut. Artinya, kami harus terpisah dari rombongan utama.
Kami bukan satu-satunya. Bersama tiga orang lainnya, kami diberitahu bahwa harus dipindahkan ke hotel lain yang jaraknya sekitar 300 meter. Dengan berjalan kaki, mendorong koper besar dan kecil, kami menuju hotel kedua untuk bertemu petugas layanan haji.
Di sanalah cerita ini mulai mengambil arah yang tidak kami sangka.
Petugas mendata kami. Total ada lima orang: empat laki-laki dan satu perempuan—istri saya. Setelah beberapa saat, ia mengambil keputusan yang, bagi kami, terasa seperti kejutan kecil yang sarat makna. Kami ditempatkan dalam dua kamar. Saya dan istri dalam satu kamar, sementara tiga jamaah lainnya di kamar berbeda.
Belakangan saya menyadari, keputusan itu barangkali lahir dari pertimbangan sederhana sekaligus manusiawi: adanya satu perempuan, dan kebetulan kami adalah pasangan suami istri. Apalagi hotel tersebut memiliki kamar dengan dua dan tiga tempat tidur. Jika sejak awal lima orang itu semuanya laki-laki, sangat mungkin kami ditempatkan dalam satu kamar besar berisi lima kasur—sebagaimana lazimnya penginapan jamaah haji reguler.
Namun kenyataannya berbeda. Dan perbedaan itulah yang kami rasakan sebagai anugerah.
Perasaan kami waktu itu sulit dilukiskan. Campuran haru, syukur, dan rasa tak percaya. Di saat sebagian pasangan jamaah harus terpisah—istri bersama rombongan perempuan, suami bersama rombongan laki-laki—kami justru diberi kesempatan untuk tetap bersama dalam satu ruang.
Kami sadar betul, ini bukan sesuatu yang umum. Karena itu pula, sejak awal kami sepakat untuk menyimpannya rapat-rapat. Rombongan awal kami berada di hotel lain, sehingga mereka tidak mengetahui kondisi kami. Jamaah di hotel kedua pun bukan rombongan kami. Yang tahu hanya tiga orang yang bersama kami malam itu.
Ketika teman-teman rombongan bertanya tentang kamar kami, kami memilih menjawab seperlunya. Kadang dengan jawaban bersayap, kadang dengan mengalihkan pembicaraan. Bukan karena ingin bersembunyi, tetapi karena kami tidak ingin kegembiraan pribadi ini berubah menjadi sumber kegelisahan orang lain. Anugerah, bagi kami, tak selalu harus diumumkan. Ada kalanya ia lebih elok disimpan dalam diam.
Belakangan, seorang petugas haji di rombongan kami mengetahui hal ini. Bukan dari kami, tentu saja. Dan syukurlah, kabar itu tidak menyebar. Mungkin ia memahami bahwa rasa keadilan dalam ibadah kolektif adalah sesuatu yang rapuh—sekali terusik, niat bisa tercemar.
Kami bahkan berusaha tidak menunjukkan kebersamaan kami secara terang-terangan. Saat hendak ke Masjidil Haram, kami keluar kamar bergantian, tidak bersamaan. Begitu pula ketika kembali. Ada jeda yang sengaja kami ciptakan, sekadar untuk menghindari tanda tanya yang tidak perlu.
Tentu, tinggal satu kamar sebagai pasangan suami istri selama berhaji juga bukan tanpa risiko. Ada batas-batas syariat yang harus dijaga dengan sangat ketat. Ada waktu-waktu di mana “kebersamaan” justru menjadi larangan. Ini menjadi ujian kedewasaan sekaligus komitmen kami terhadap kesucian ibadah.
Alhamdulillah, kami mampu menjaganya. Tidak ada batas yang kami langgar. Tidak ada larangan yang kami terobos. Justru di sanalah kami belajar: kedekatan fisik tidak selalu berarti pelanggaran, selama niat, sikap, dan kendali diri tetap terjaga.
Sejatinya, ada satu momen lain yang hingga kini terasa seperti potongan mozaik yang baru utuh ketika disatukan. Yaitu sebelum kami tiba di Makkah—di dalam pesawat.
Sejak dari rumah alias sebelum naik pesawat, kami membayangkan bisa duduk berdampingan. Dengan waktu tempuh penerbangan yang cukup lama, duduk dekat berdampingan bisa memberikan kesempatan bagi kami untuk saling memberikan kenyamanan. Nyatanya, kursi kami terpisah oleh lorong. Orang yang duduk di sebelah saya maupun di sebelah istri saya tidak berkenan bertukar tempat. Kami menerima kenyataan itu dengan pasrah. Saya berusaha mengikhlaskannya, meyakini bahwa tidak semua keinginan harus terpenuhi saat itu juga.
Dan rupanya, “kehilangan” kecil itu diganti dengan sesuatu yang jauh lebih besar. Bukan kursi berdampingan selama beberapa jam penerbangan, melainkan satu kamar bersama selama satu bulan di Makkah.
Seperti Allah sedang berbisik pelan: bersabarlah, Aku tahu kapan dan bagaimana memberi.
Ketika kisah ini kami ceritakan kepada orang lain, tak jarang mereka terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada tak percaya: “Bagaimana mungkin? Haji reguler, bukan haji plus, juga bukan furoda, tapi bisa satu kamar suami istri?”
Saya pun tidak tahu jawabannya selain satu hal: ini karunia. Bukan karena kami lebih layak, bukan pula karena kami meminta. Ia datang begitu saja, seperti hujan yang jatuh di tanah yang tak sedang menengadah.
Kini, setiap kali mengingatnya, rasa syukur itu kembali menyelinap pelan. Hangat. Tenang. Dalam.
Barangkali, inilah sepotong momen berhaji sambil “berbulan madu”. Bukan dalam arti romantika duniawi, melainkan kebersamaan yang diselimuti rasa syukur, penjagaan diri, dan kesadaran bahwa di balik segala keteraturan ibadah, Allah tetap menyelipkan kejutan-kejutan sunyi bagi hamba-Nya yang Dia kehendaki.