Kerja adaptif
-(Jumat, 6 Februari 2026)-
Saya mencoba membuat sebuah kajian sederhana, yakni memetakan jenis pekerjaan yang ada di kantor. Pertanyaan dasarnya mungkin terdengar biasa: bagaimana pengelompokannya? Namun sejak awal, kajian ini saya letakkan pada satu pijakan yang tak terhindarkan, yaitu perkembangan AI yang kian cepat dan nyata hadir dalam keseharian kita.
Kenyataannya, hari ini sudah ada begitu banyak aplikasi berbasis teknologi AI. Aplikasi-aplikasi ini secara langsung telah memudahkan manusia dalam bekerja. Dari situ, saya mulai berpikir: jika pekerjaan kita bisa dipermudah oleh AI, bukankah itu berarti sebagian tugas dan pekerjaan di kantor juga berpotensi untuk dikerjakan—atau setidaknya dibantu—oleh AI?
Berangkat dari pemikiran tersebut, saya meminta tim saya untuk menuliskan dan merumuskan secara rinci tugas-tugas yang mereka kerjakan. Bukan jabatan, bukan posisi struktural, melainkan pekerjaan konkret yang benar-benar mereka lakukan sehari-hari.
Berdasarkan daftar tugas itulah, saya kemudian “bertanya” kepada AI: dari sekian banyak tugas tersebut, mana yang bisa ia kerjakan, dan mana yang belum bisa ia selesaikan.
Proses ini terasa sangat akrab. Persis seperti ketika kita menerima anak magang baru. Di tangan kita ada daftar pekerjaan, lalu kita bertanya: tugas ini kamu bisa kerjakan? Yang ini bagaimana? Tentu si anak magang akan menjawab, sekaligus menunjukkan batas kemampuannya. Dari situ, kita lalu memetakan tugas-tugas ke dalam dua kategori: yang bisa ia tangani, dan yang belum bisa ia kuasai.
Itulah gambaran yang saya lakukan terhadap AI. Saya memberinya daftar tugas, lalu memintanya memilah mana pekerjaan yang bisa ia kerjakan dan mana yang belum dapat ia lakukan.
Bagaimana hasilnya?
Ini yang saya kira fantastis—meski sejak awal kita sebenarnya sudah bisa menduga bahwa akan ada banyak pekerjaan yang mampu diselesaikan atau setidaknya dibantu oleh AI. Tetap saja, ketika hasilnya tersusun dan terlihat jelas, ada rasa terkejut yang sulit diabaikan.
Bagaimana detail hasilnya? Tentu saya tidak ingin membocorkannya di sini. Kajian ini saya siapkan untuk disampaikan kepada unit yang lebih tinggi. Harapannya, ia bisa menjadi pemantik bagi organisasi untuk mulai memikirkan ulang relevansi jenis-jenis tugas yang selama ini dijalankan.
Jika memang ada tugas-tugas yang bisa diselesaikan oleh AI, mengapa tidak kita implementasikan? Dengan begitu, SDM yang jumlahnya sudah terbatas dapat dioptimalkan untuk mengerjakan tugas-tugas yang memang belum bisa ditangani oleh AI—tugas-tugas yang membutuhkan pertimbangan, tanggung jawab, dan sentuhan manusia.
Tujuan lain dari kajian ini adalah mendorong agar organisasi tetap relevan dengan perkembangan zaman. Dunia terus bergerak, dan organisasi yang bertahan bukanlah yang paling mapan, melainkan yang paling mampu menyesuaikan diri.
Pada akhirnya, kajian ini memang sederhana. Dan sangat mungkin dilakukan oleh kantor atau organisasi lain. Dengan mencoba sejenak berpikir ulang tentang bagaimana tugas-tugas dijalankan, barangkali dari sana akan lahir sebuah terobosan—kecil, tetapi bermakna—yang membawa kinerja ke arah yang semakin baik.