Beban kendali
-(Minggu, 18 Januari 2026)-
Ada hal-hal dalam hidup yang memang berada di luar kendali kita. Betapa pun lama kita memikirkannya—bahkan hingga membuat kepala penat dan dada sesak—kenyataannya, hal-hal itu tetap berjalan dengan caranya sendiri. Pikiran kita boleh berputar ke mana-mana, tetapi dunia tidak selalu ikut menyesuaikan diri.
Namun, barangkali persoalannya bukan semata soal kendali. Bisa jadi yang sebenarnya kita hadapi adalah ketakutan akan beban. Kita cemas jika suatu masalah menuntut energi, waktu, dan biaya—hal-hal yang sebenarnya tak perlu kita keluarkan andaikata hidup berjalan baik-baik saja. Ketakutan semacam ini terasa sangat manusiawi, bahkan mungkin berasal dari ego paling purba: dorongan untuk bertahan hidup, untuk menghindari susah dan sedih, untuk memilih aman.
Dari sanalah sikap menjauh kerap lahir. Sebagian orang memilih menutup diri, bahkan sekadar untuk mendengar kabar tentang masalah yang menimpa orang lain. Padahal, hubungan atau ikatan itu mungkin masih ada. Hanya saja, demi menghindari kerepotan—dan kemungkinan harus ikut memikirkan, apalagi menanggung—orang itu memilih lari dari kenyataan, menutup telinga rapat-rapat, dan pura-pura tak tahu.
Mungkin ini adalah cara menjaga kesehatan mental. Sebuah mekanisme bertahan agar diri tidak runtuh oleh beban yang bukan miliknya. Namun, di titik ini muncul pertanyaan yang lebih dalam: apakah sikap semacam itu dapat dibenarkan secara etis? Apakah secara moral kita tetap bisa disebut baik ketika memilih tidak peduli pada masalah orang lain?
Pada titik tertentu, orang bisa saja berkilah. “Apa urusan saya?” katanya. “Selama ini saya tak pernah membebani siapa pun dengan masalah saya sendiri. Mengapa sekarang, ketika orang lain punya masalah, saya harus ikut menanggungnya?” Argumen ini terdengar masuk akal, bahkan rasional. Sulit menemukan celah yang benar-benar keliru di dalamnya.
Namun, anehnya, kegelisahan sering kali tetap tinggal. Di balik sikap cuek dan jarak yang diciptakan, ada kerapuhan yang tak sepenuhnya bisa disangkal. Barangkali kegelisahan itu lahir dari konstruksi sosial, ajaran agama, atau dogma moral yang tertanam sejak lama. Ada suara di kepala yang terus berbisik: bahwa kepedulian adalah kewajiban, bahwa ketidakpedulian adalah kesalahan.
Atau jangan-jangan justru di situlah akar masalahnya. Secara mandiri, sebagai individu, kita mungkin memang tak memiliki kewajiban apa pun terhadap orang lain. Namun masyarakat membangun kerangka nilai yang membuat kita seolah selalu berutang empati. Kita dididik untuk merasa bersalah ketika menolak terlibat, meski hati kita sedang tak sanggup.
Lalu muncul pertanyaan lanjutan: apakah kita perlu melepaskan diri dari konstruksi sosial semacam itu? Agar sebagai individu kita tak lagi terbebani oleh semua masalah yang terjadi di sekitar kita? Atau justru persoalan ini sama sekali bukan soal masyarakat, melainkan ulah pikiran kita sendiri?
Pikiran, yang seperti monyet tak pernah diam, terus melompat dari satu kemungkinan ke kemungkinan lain. Ia membayangkan perasaan, skenario, dan akibat yang belum tentu terjadi. Padahal, sebagian besar dari itu hanyalah imajinasi—tidak nyata, belum tentu benar.
Pada akhirnya, hidup terasa terlalu singkat untuk dihabiskan dengan memelihara bayang-bayang negatif. Mungkin yang kita butuhkan bukan menutup diri sepenuhnya, juga bukan memikul semua beban dunia, melainkan belajar mengenali batas: antara peduli dan tenggelam, antara empati dan kehilangan diri sendiri.