Linimasa batin

-(Rabu, 14 Januari 2026)-

Setelah lama tak mengikuti linimasa media sosial, belakangan ini saya kembali rajin membaca postingan yang muncul. Saya sempat kecewa dengan unggahan yang beredar karena tidak sesuai dengan keberpihakan saya.

Namun, seiring waktu dan bacaan yang saya ikuti, pikiran saya perlahan menjadi lebih terbuka. Meski tetap berpihak, membaca sudut pandang lain saya anggap penting untuk memperkaya pemahaman dan perspektif.

Saya tidak pernah ikut berkomentar atas topik yang dibahas. Saya sekadar mengikuti postingan-postingan itu, sambil melatih daya kritis atas informasi atau opini yang tertulis. Saya juga belajar memahami latar belakang dan cara berpikir orang yang menuliskan opini tersebut. Apa yang ada di benaknya? Dorongan apa yang membuat seseorang tampak begitu membenci orang lain? Bisa jadi rasa benci itu tidak sepenuhnya nyata—barangkali hanya kepura-puraan untuk memancing respons dan memperkeruh suasana.

Sebagaimana dulu saya sangat update dengan isu terkini, kini pun saya kembali mengikuti isu-isu atau kabar terbaru. Bekal ini, barangkali, bisa menunjang kegiatan saya dalam tulis-menulis. Artinya, saya mendapatkan asupan topik untuk ditulis. Meski saya tahu, ada banyak orang yang juga akan menulis topik serupa, tetapi mungkin saya memiliki sudut pandang yang berbeda dan tentu saja gaya tulisan yang juga tak sama.

Hanya saja, kegiatan scroll media sosial dan membaca postingan itu lama-lama saya rasakan menjadi candu. Benar, saya mendapatkan pembaruan, tetapi saya seolah berhenti di permukaan. Mestinya, saya melanjutkannya dengan deep dive atas informasi atau pemikiran tersebut. Saya seharusnya mengecek epistemologi informasi itu dan ontologi opini yang memantik percakapan panjang. Bukan sekadar lalu-lalang, hingga kemudian membuat otak terasa penuh oleh berbagai informasi dan isu yang tak jarang berhenti di titik itu.

Padahal, informasi, isu, atau opini bisa menjadi bahan bakar yang—jika dimanfaatkan dengan baik—dapat membuat kita semakin bertumbuh. Meski pada bagian ini, saya kembali dikejar satu pertanyaan: untuk apa? Toh, semua juga begini-begini saja.

Pada titik inilah saya sadar, bahwa hidup yang terus berjalan ini tak lain laksana pikiran manusia yang tanpa lelah memikirkan banyak hal, dengan transisi yang acak dan kerap tak terduga.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"