Budaya slow

-(Senin, 12 Januari 2026)-

Ada satu pernyataan menarik dari seorang pejabat yang saya dengar dalam sebuah acara. Ia mengatakan bahwa masyarakat kita cenderung menyelesaikan urusan di batas waktu terakhir. Maka ketika sebuah ketentuan diberlakukan—misalnya kewajiban registrasi melalui suatu aplikasi—yang terjadi hampir selalu sama: orang-orang berbondong-bondong datang pada hari-hari terakhir.

Yang terasa lebih miris, proses itu sejatinya bisa dilakukan dari rumah, dari tempat kerja, atau dari mana saja. Namun tetap saja, banyak yang memilih datang ke tempat layanan untuk meminta bantuan. Fenomena ini seolah mengindikasikan hal lain yang lebih dalam: barangkali kita juga kurang gemar membaca petunjuk atau mempelajari mekanisme secara mandiri. Kita tampaknya lebih nyaman jika dituntun, diarahkan langkah demi langkah.

Dua hal ini—kebiasaan menunda dan ketergantungan pada tuntunan—mungkin menjadi penanda bahwa sikap proaktif belum benar-benar tertanam sebagai karakter kolektif. Dalam banyak contoh lain, saya melihat pola yang serupa: masih harus didorong, dioprak-oprak, bahkan dikejar-kejar hanya untuk melakukan satu aktivitas yang sebenarnya sudah menjadi target bersama.

Celakanya, kebiasaan semacam itu tidak berhenti di ruang sosial semata. Ia ikut terbawa ke dalam lingkungan birokrasi. Mungkin karena aparat birokrasi, pada akhirnya, juga lahir dari masyarakat yang sama, dengan pola perilaku yang tak jauh berbeda.

Contoh yang paling mudah, faktual, dan punya data adalah pelaksanaan anggaran—apa pun bentuknya, baik APBN, APBD, maupun APBDes. Dari tahun ke tahun, tantangan yang dihadapi nyaris selalu klise: kecepatan penyerapan. Persoalan yang sama terus berulang, seolah menjadi cerita tahunan yang diterima sebagai keniscayaan.

Namun di titik ini, saya mulai bertanya pada diri sendiri. Jangan-jangan justru saya yang keliru. Mungkin keinginan saya agar segala sesuatu bergerak lebih cepat terlalu maju untuk konteks lingkungan saya. Ada ungkapan yang sering dikutip: jika ingin pergi jauh, berjalanlah bersama; jika ingin cepat, berlarilah sendiri.

Dari sini, pikiran saya melompat ke satu kemungkinan lain. Jangan-jangan para pemimpin itu sebenarnya ingin berlari. Tetapi karena takut berlari sendirian—takut disebut single fighter—mereka memilih menahan langkah. Demi tetap bersama timnya, mereka pun ikut berjalan santai. Padahal tim itu sendiri adalah potret dari sebagian masyarakat yang memang terbiasa melangkah pelan.

Dan di situlah kekhawatiran saya bermula. Jangan-jangan apa yang saya pikirkan ini ada benarnya. Semoga saja tidak.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"