Ukuran usia

-(Jumat, 16 Januari 2026)-

Kapan sebenarnya kita menyadari bahwa usia kita bertambah? Barangkali bukan ketika angka pada kalender berubah, melainkan saat tubuh pelan-pelan memberi tanda bahwa kekuatannya tak lagi seperti dulu.

Tahun boleh berganti—seperti kini, 2026 telah tiba. Sebagian dari kita tersadar bahwa umur bertambah, sementara sebagian lain memilih abai dan sibuk merancang resolusi. Mungkin mereka tak terlalu peduli pada usia, selama tubuh masih sehat dan tenaga masih cukup untuk menjalani hari. Lagi pula, jika dipikirkan lebih dalam, tahun, bulan, dan hari hanyalah kesepakatan manusia. Andaikan dahulu manusia tak pernah menciptakan kalender, barangkali tak ada perbedaan antara Minggu dan Senin, antara Desember dan Januari, antara 2025 dan 2026. Yang ada hanyalah matahari yang setia terbit setiap pagi dan tenggelam setiap sore.

Tanpa kalender, kita mungkin tak pernah benar-benar tahu—atau tak pernah peduli—apakah usia kita bertambah. Sebab yang paling nyata menandai muda atau tua bukanlah angka, melainkan tubuh itu sendiri: kekuatan yang mulai berkurang, indera yang tak lagi setajam dulu, dan daya tahan yang pelan-pelan menurun. Tubuh menjadi penanda waktu yang jauh lebih jujur daripada kalender mana pun.

Kesadaran itu membawa saya pada satu perbandingan yang tak terhindarkan. Dulu, saat bayi dan kanak-kanak, kita membutuhkan orang tua untuk tumbuh dan bertahan hidup. Lalu, ketika waktu menggerus kekuatan tubuh, apakah kita akan kembali ke titik yang sama? Menjadi manusia yang lagi-lagi bergantung pada bantuan orang lain untuk menjalani kehidupan sehari-hari?

Pada titik kesadaran inilah saya merasa rapuh, bahkan sedikit memberontak. Ada kegelisahan yang muncul: bagaimana caranya tetap mandiri, tetap mampu berdiri di atas kaki sendiri, tanpa merepotkan orang lain? Sebab bagi saya, salah satu bentuk kebahagiaan adalah ketika keberadaan kita tidak menjadi beban bagi hidup orang lain. Di sanalah ada rasa bebas, rasa merdeka—sebuah martabat yang sunyi namun kuat.

Pertanyaannya kemudian sederhana, sekaligus berat: mungkinkah kita menjaga kemandirian itu hingga usia lanjut? Ataukah pada akhirnya, kita harus belajar menerima bahwa menjadi manusia juga berarti belajar berserah—baik pada waktu, maupun pada bantuan sesama? Pertanyaan itu belum sepenuhnya terjawab. Namun mungkin, justru di sanalah refleksi tentang usia menemukan maknanya: bukan pada ketakutan akan menua, melainkan pada upaya terus-menerus untuk hidup dengan kesadaran, tanggung jawab, dan hormat—baik pada diri sendiri maupun pada orang lain.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"