Paradigma tertinggal

-(Kamis, 29 Januari 2026)-

Mata saya masih terpaku pada jam dinding. Jarumnya bergerak pelan, sementara lebih dari lima menit berlalu tanpa satu pun gagasan benar-benar menjelma menjadi kalimat. Pagi itu sunyi, tetapi kepala saya riuh—seolah ada sesuatu yang ingin keluar, namun belum menemukan pintunya.

Lalu ingatan saya melompat pada diskusi dengan seorang kawan, tentang laporan-laporan yang hingga hari ini masih harus dikerjakan secara manual. Ya, memang menggunakan komputer, tetapi sejatinya itu hanya pengganti mesin ketik. Prosesnya tetap sama: administratif, repetitif, dan melelahkan. Cara lama yang terasa janggal ketika disandingkan dengan realitas zaman. Seolah ada ironi kecil—atau mungkin besar—saat kita hidup di era AI, tetapi bekerja dengan logika masa lalu.

Di titik itu saya mulai bertanya: di mana letak masalahnya? Barangkali bukan pada ketiadaan teknologi, melainkan pada paradigma yang masih dipeluk erat dalam menggerakkan organisasi. Dokumen memang tak lagi dicetak, map-map fisik telah berganti folder digital, tetapi ruh pekerjaannya tetap administratif. Beban itu akhirnya jatuh ke manusia, menguras energi, waktu, dan daya pikir yang seharusnya bisa dialihkan ke hal-hal yang lebih strategis dan bernilai.

Padahal, jika ditarik lebih jauh, perubahan itu sesungguhnya sederhana—setidaknya pada akarnya. Yang perlu digeser pertama kali bukanlah perangkat lunak atau sistem, melainkan cara pandang para pemegang kebijakan. Ketika mindset berubah, gagasan akan mengalir, mekanisme teknis akan menyusul, dan segala pernak-perniknya akan menemukan bentuk. Sejarah berulang kali membuktikan bahwa manusia selalu mampu beradaptasi; yang sering tertinggal justru keberanian untuk memulai.

Teknologi AI sendiri bukan barang baru. Dalam tiga tahun terakhir, perkembangannya melesat cepat, seperti kereta yang melaju tanpa menunggu siapa pun. Ketika kita belum juga mampu memanfaatkannya hari ini, itu bukan sekadar pilihan—itu adalah ketertinggalan. Dan ketika paradigma organisasi tetap diam di tempat, ketertinggalan itu berlipat ganda.

Jika keadaan ini dibiarkan, kekhawatiran bahwa organisasi akan tertinggal dari kawan-kawannya bukan lagi sebatas bayangan di kejauhan. Ia perlahan menjadi kenyataan. Seperti jam dinding di hadapan saya pagi itu: jarumnya terus bergerak, apakah kita siap melangkah bersamanya, atau memilih diam dan tertinggal oleh waktu.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"