Menunggu terbang

-(Kamis, 19 Februari 2026)-

Saya kembali berada di dalam pesawat untuk sebuah penerbangan sekitar satu jam. Waktunya singkat, tetapi cukup untuk membuat siapa pun—termasuk saya—terjebak dalam kebosanan jika hanya duduk membisu. Maka, seperti sebuah kebiasaan yang nyaris refleks, saya meraih smartphone dari dalam tas. Mode pesawat sudah aktif. Aplikasi catatan pun terbuka. Dan saya mulai menulis.

Entah sudah berapa kali ritual kecil ini saya lakukan. Mengalihkan kebosanan, mengisi waktu menunggu, dengan menulis. Bukan hanya hari ini. Kemarin iya, minggu lalu juga. Saat naik kereta api pun begitu. Bahkan jauh sebelum itu, pola yang sama terus berulang. Setiap kali waktu melambat, saya menulis. Seolah tulisan adalah jendela darurat untuk keluar dari ruang hampa bernama menunggu.

Kebiasaan itu mengingatkan saya pada sebuah percakapan dengan seorang teman, beberapa waktu lalu. Ia bertanya tentang tips menulis. Jawaban saya sederhana—bahkan klise: sering menulis, memperbanyak jam terbang. Kenyataannya, itulah yang saya lakukan. Bahkan, saya menulis tentang menulis justru saat sedang terbang.

Namun, di tengah deru mesin pesawat dan ketukan jari di layar, sebuah pertanyaan menyelinap pelan. Apakah ini akan terus terjadi pada diri saya? Apakah saya akan selalu menulis hanya untuk mengusir kejenuhan? Lalu bagaimana jika suatu hari saya tak lagi sanggup menulis? Apa yang akan saya lakukan untuk menghadapi kebosanan itu?

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terdengar konyol. Tetapi saya tetap memikirkannya, seolah tengah menyiapkan payung sebelum hujan yang belum tentu turun. Dan di situlah saya tersadar: saya kembali terjerumus pada kekonyolan yang sama. Saya tidak benar-benar hidup di saat ini. Pikiran saya sudah melompat jauh ke depan, sibuk dengan skenario “bagaimana jika”, sibuk mengelola masa depan yang belum tentu datang.

Padahal, sejatinya waktu menunggu saat penerbangan justru bisa menjadi ruang paling jujur untuk hadir sepenuhnya. Tidak ada distraksi, tidak ada notifikasi yang memanggil-manggil, tidak ada percakapan yang menuntut respons. Hanya kita, diri kita sendiri, dan waktu yang berjalan apa adanya. Sebuah kondisi yang nyaris ideal untuk benar-benar hidup di saat ini.

Namun begitulah manusia—dan otak kita. Terlalu sibuk, terlalu cerewet, terlalu gemar berkelana. Hingga momen yang seharusnya bisa dinikmati justru terlewat, tergantikan oleh pikiran yang tak henti berlari. Menunggu pun akhirnya bukan lagi tentang hadir, melainkan tentang melarikan diri. Dan saya, sekali lagi, memilih menulis sebagai kendaraan pelarian itu.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"