Mendengar manajer

-(Rabu, 11 Februari 2026)-

Ketika bertemu dengan kolega yang berada pada jabatan setara, sering kali percakapan mengalir ke satu muara yang sama: keluh kesah tentang kinerja anggota tim. Ragamnya pun nyaris seragam. Ada yang mengeluhkan perilaku tidak disiplin, minimnya inisiatif, hingga sikap yang terlalu kaku dalam bekerja dan menyikapi ketentuan, yang pada akhirnya justru memantik kegaduhan di lapangan.

Jika ditelisik lebih dalam, persoalan ini kerap berakar pada satu hal mendasar: ekspektasi. Ada harapan yang dibangun, ada gambaran ideal tentang bagaimana anggota tim seharusnya bersikap dan bekerja. Ketika realitas tidak sejalan dengan bayangan itu, muncullah rasa kecewa. Dan dari kekecewaan itulah, keluh kesah menemukan suaranya.

Namun, memberi solusi atas keluhan semacam ini bukan perkara sederhana. Apa yang berhasil kita lakukan di satu tempat, belum tentu relevan di tempat lain. Lingkungan kerja, budaya organisasi, hingga latar belakang personal tiap individu membentuk konteks yang unik. Karena itu, dalam situasi seperti ini, barangkali yang paling dibutuhkan bukanlah nasihat yang tergesa-gesa, melainkan kesediaan untuk mendengar. Bukan mulut yang lebih sibuk merespons, tetapi telinga yang dibuka lebar, dengan empati sebagai sikap dasar.

Di titik inilah kita sering lupa: para manajer pun adalah manusia yang perlu didengar. Mereka berada di lapangan, menanggung tekanan dari dua arah—target dari atas dan dinamika tim di bawah. Pertanyaannya, siapa yang mendengar mereka? Siapa yang memberi ruang bagi para manajer untuk meletakkan beban, selain sesama manajer atau atasan di level yang lebih tinggi?

Pada kondisi tertentu, keluh kesah yang muncul bukan sekadar curahan emosi, melainkan sinyal adanya problem struktural di lapangan. Masalah yang tak lagi bisa diselesaikan dengan pembenahan internal atau sekadar suntikan motivasi. Bisa jadi, yang dibutuhkan adalah tindakan eksternal: penataan ulang peran, perubahan susunan tim, atau bahkan penggantian personel. Dalam hal ini, keluhan adalah alarm, bukan kelemahan.

Karena itu, gagasan tentang forum khusus untuk mendengarkan para manajer berkeluh kesah tentang timnya patut dipertimbangkan. Bukan sebagai ruang mengeluh tanpa arah, melainkan sebagai kanal resmi untuk menangkap realitas lapangan yang kerap tak terdengar di ruang rapat strategis. Ini adalah wujud perhatian organisasi—bahwa empati tidak hanya diberikan kepada anggota tim, tetapi juga kepada mereka yang memimpin langsung di garis depan.

Sebuah organisasi besar, pada akhirnya, tidak cukup dijalankan dengan daftar target dan indikator kinerja. Ia perlu kepekaan. Seperti kapal besar yang tak hanya mengandalkan kompas, tetapi juga mendengarkan suara gelombang dan angin. Peduli pada pelaku lapangan—termasuk para manajer—adalah cara organisasi menjaga keseimbangannya agar tetap melaju, tanpa kehilangan manusia di dalamnya.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"