Target sunyi

-(Senin, 9 Februari 2026)-

Sudah berbulan-bulan, bahkan nyaris setahun, saya berupaya keras untuk menulis setiap hari. Selain sekadar meniru apa yang dilakukan Pak Dahlan Iskan, menulis harian bagi saya adalah ruang untuk menuangkan pikiran, keluh kesah, dan sesekali sekadar coretan curahan perasaan. Harapannya sederhana: agar semuanya tidak menumpuk di kepala dan berubah menjadi beban yang menyesakkan. Menulis, dalam bayangan saya, adalah katup pelepas stres. Meski ironisnya, bagi sebagian orang, menulis justru menjadi sumber stres itu sendiri. Sebuah paradoks yang sejak awal saya sadari.

Barangkali paradoks itu pelan-pelan menjelma nyata dalam diri saya. Alih-alih menjadi pelepas, menulis setiap hari berubah menjadi target yang mengejar. Saya mulai stres memikirkan tema: hari ini menulis apa lagi? Rasanya hampir semua hal sudah saya tuliskan. Apa pun yang sempat nyantol di kepala, pernah saya tuangkan. Seolah-olah gudang ide itu mulai kosong, atau setidaknya tampak kosong di mata saya sendiri.

Karena itu, hari ini saya merasa lega ketika memutuskan untuk tak peduli pada target itu. Saya tak ingin menulis. Biarlah hari ini berlalu tanpa satu pun kata tercatat. Anehnya, rasa lega itu sungguh nyata—seperti menurunkan ransel berat setelah berjalan jauh. Dari situ saya menyadari satu hal: target, betapapun mulianya, tetap bisa menghimpit. Apalagi jika target itu besar, ambisius, dan terus menuntut. Seperti target penerimaan negara. Di tengah gonjang-ganjing ekonomi global, tekanan pasar saham, dan melemahnya nilai tukar rupiah, tentu bukan perkara mudah bagi jajaran Kementerian Keuangan—terlebih bagi sang menterinya.

Namun di sisi lain, hidup tanpa target pun bukan jawaban. Seseorang yang tak memiliki sasaran dalam keseharian mungkin tampak lebih ringan langkahnya. Tetapi jika diteliti lebih jauh, apa sebenarnya yang ia kerjakan? Ke mana waktunya habis? Tanpa arah, hari-hari bisa berlalu begitu saja—kabur, tak tercatat, dan nyaris sia-sia. Sebuah bentuk ketidakadilan pada waktu yang sesungguhnya tak pernah menunggu.

Maka rasa lega karena “bebas target” itu barangkali hanyalah ilusi. Sesuatu yang semu. Sebab ketika sebuah aktivitas telah melebur menjadi kebiasaan, bahkan menjadi bagian dari diri, ketidakhadirannya justru melahirkan keganjilan. Ada kekosongan yang membingungkan, semacam linglung yang tak mudah dijelaskan.

Persis seperti yang saya alami hari ini. Ketika saya memutuskan untuk tidak menulis, saya justru sibuk memikirkan dan menceritakan keputusan itu. Dan tanpa saya sadari, kegelisahan tersebut menjelma menjadi rangkaian paragraf yang kini Anda baca. Saya ingin tidak menulis, tetapi kebiasaan menulis—seperti air yang mencari celah—tetap menemukan jalannya sendiri.

Di situlah saya tersenyum kecil. Target boleh saja saya singkirkan sejenak, tetapi kebiasaan yang telah tumbuh diam-diam tetap bekerja. Sunyi pun akhirnya berbunyi. Dan hari yang diniatkan kosong, ternyata tetap terisi.


Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"